Warung Sayur Bukan Lagi Bisnis Modal Kecil

Apa yang terlintas di benak Anda kalau mendengar istilah “Warung Sayur” atau “Tukang Sayur”?

Mungkin, istilah yang pertama akan membawa kepada bayangan bangunan semi permanen mirip dengan warung kopi dengan tumpukan sayur mayur, ikan asin, dan bungkusan kerupuk tergantung di depannya. Istilah kedua akan menghadirkan bayangan seperti foto di bawah ini.

Tukang sayur keliling
Tukang sayur keliling di Jalan Sudirman – 2019

Kedua istilah itu sering diidentikkan dengan usaha Mikro/Kecil karena dilakukan oleh individu dengan modal yang tidak seberapa besar pula.

Tapi..

Tidak di Bukit Cimanggu City, sebuah perumahan di Kota Bogor bagian Utara, tepatnya di Kecamatan Tanah Sareal.

Kedua kata itu tidak lagi bisa dianggap sebagai bisnis kecil-kecilan. Modalnya juga berlipat-lipat dari warung sayur biasa.

Sebut saja beberapa nama, seperti Warung Sayur Mang Yono, Si Ozzi, Toekang Sajoer (Tukang Sayur), atau Warung Sayur Mang Ending. Kesemua ini bukanlah tempat membeli sayur-sayuran seperti yang dibayangkan banyak orang.

Kata warung disana hanya sebuah istilah umum nan merendah karena sebenarnya lokasinya lebih merupakan minimarket sayuran, seperti bisa dilihat di bawah ini.

Warung Sayur Bukan Lagi Bisnis Modal Kecil Mang Yono Bukit Cimanggu City
Warung Sayur Mang Yono

Mirip sekali dengan Indomaret atau Alfamaret dan bedanya hanya dari barang yang didagangkan saja.

Di Warung Sayur bermodal besar ini, yang dijual sebenarnya tidak beda jauh dari warung biasa. Bayam, kangkung, ikan asin peda, teri, telur, kerupuk, cabe, bawang, tomat, dan semua yang biasa dijajakan penjual sayur ada di sana.

Bedanya adalah dalam jumlah yang besar. Selain itu, ragamnya juga lebih banyak karena diantara “minimarket” sayuran ini, ada juga yang menyediakan ikan segar, seperti lele, gurame, nila, dan lainnya. Semua dipajang dalam akuarium dengan air mengalir.

Pelayanan juga dilakukan seperti minimarket. Pembeli mengambil barang, dibantu karyawannya, masukkan dalam keranjang, dan kemudian membayar di kasir, yang memakai mesin cash register ala toko modern.

Jam bukanya pun lebih panjang. Hampir semua warung sayur modern ini buka sejak pukul 06.00 pagi sampai 16.00 sore (bahkan sampai jam 20.00).

Ketersediaan barang dagangan dilakukan oleh para pegawainya dan diangkut dengan kendaraan sendiri.

Toekang Sayoer Bukit Cimanggu Citu

Bisnis Modal Menengah

Warung sayur tipe yang begini jelas membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Menyewa ruko di salah satu perumahan ternama di Bogor, Bukit Cimanggu City, tidaklah murah. Kalau berdasarkan info warung kopi, ongkos sewa ruko mencapai 50-60 juta per tahun (per tahun).

Mang Yono punya dua outlet di perumahan itu. Mang Ending menyewa satu rumah bertingkat dan menjadikannya warung sayuran di kawasan Blok W.

Tambahkan biaya operasional,seperti transportasi, listrik, gaji pegawai, angkanya akan terus membesar. Belum lagi, kendaraan operasional milik sendiri.

Jelas bukan bisnis modal kecil lagi. Skalanya sudah berubah menjadi menengah.

Merangkak Dari Kecil

Hampir semua warung sayur tipe ini sebelumnya memang merupakan usaha kecil-kecilan dan rumah tangga saja.

Mang Ending dulu berjualan di pekarangan rumah kontrakannya di dalam perumahan itu. Usahanya berkembang karena ibu-ibu menemukan kualitas barangnya bagus dan harga murah.

Ketika bisnisnya berkembang, ia memutuskan menyewa rumah yang lebih besar agar bisa menampung pembeli dan menjual dagangan lebih banyak.

Begitu juga Mang Yono dan lainnya, semuanya dulu adalah pedagang bermodal kecil.

Keuletan mereka, pelayanan yang baik, dan manajemen yang bagus membuat usaha mereka berkembang.

Bahkan, ketika Mang Ending terkena musibah, ditipu orang saat ingin mengembangkan usaha di bidang tempat ngopi, dalam jumlah seratus juta, warungnya tetap bertahan. Sesuatu yang menunjukkan kekuatan modal dari sebuah usaha yang dulu merupakan usaha kecil.

Sesuai Dengan Selera Pasar

Jenis warung sayur modern ini ternyata memenuhi selera dan kebutuhan pasar. Para penghuni Bukit Cimanggu City, mayoritas berpendidikan dan pekerja kantor dengan daya beli menengah ke atas.

Kalangan ini membutuhkan bukan sekedar harga murah lagi. Mereka ingin tempat dimana mereka berbelanja tidak becek, tidak kotor, dan tentunya pelayanan yang lebih baik.

Hal ini kerap sulit didapatkan jika pergi ke pasar tradisional yang ruwet, bau dan tidak rapi.

Oleh karena itu, bisnis warung sayur modern ala Mang Yono dan Mang Ending berkembang dan memiliki pelanggan yang banyak.

Lokasinya dekat dengan rumah calon pembeli. Kondisi warungnya dibuat bersih dan nyaman. Kualitas bagus dan harga bisa bersaing dengan pasar tradisional. Semua ada.

Bahkan, di dalam masa pandemi Corona saat tulisan ini dibuat, demi ketenangan dalam berbelanja, ada di antara warung-warung ini menyediakan hand sanitizer dan sarung tangan. Mereka juga punya protokol kesehatan sendiri dalam memilih sayuran.

Masih adakah warung dan tukang sayur non modern di Bukit Cimanggu City?

Kalau warung sayur tradisional sepertinya sudah tidak ada lagi, tetapi tukang sayur keliling tetap ada. Hanya saja, sepertinya jumlahnya terus menyusut dan tinggal beberapa gelintir lagi.

Penghuni perumahan BCC lebih suka mengambil motor dan kemudian pergi ke Mang Yono atau yang lainnya. Pilihan lebih banyak dan tidak perlu ngotot-ngotoan menawar harga.

Sangat bisa jadi, suatu waktu mereka pun akan menghilang karena tidak bisa mengimbangi warung sayur modern ala Mang Yono.

***

Jadi, kalau ada yang mengatakan warung sayur adalah bisnis kecil-kecilan bermodal pas-pasan, mungkin saya tidak seratus persen setuju.

Iya, betul kalau seperti di masa lalu, tetapi kalau di BCC, saya pikir itu modal besar karena penghasilan mereka pasti lebih besar dari kebanyakan gaji bulanan para pembelinya.

Mereka pengusaha.

Mari Berbagi

4 thoughts on “Warung Sayur Bukan Lagi Bisnis Modal Kecil”

  1. Ini usaha yang sudah saya pikirkan sejak lama, ternyata sudah lama/ada yang buat ya.. Memang kadang apa yang dipikirkan sudah dipikirkan orang terlebih dahulu.

    Enak juga ya kang, kalau ada kya gitu.. Mau belanja bisa siang, sore atau bahkan malam…

    Menurut saya bakal lebih lengkap lagi kalau bisa dikirim barangnya ke rumah kya air isi ulang hehe.

    • Di Bogor terutama perumahan sudah ada beberapa mas.. Tapi kalau di tempat mas, kenapa tidak. Buat saja. Bisa sambil ngeblog .. hahaha

      Memang enak buat yang beli. Sampai malam tetap ada yang siaga.

      Ada satu yang menyediakan jasa pesan antar sih Kang, si Mabng Ending. Cuma kalau beli sayur ibu ibu rupanya lebih suka milih dulu sebelum beli. Nggak puas kayaknya mereka kalau tidak begitu.

  2. “Para penghuni Bukit Cimanggu City, mayoritas berpendidikan dan pekerja kantor dengan daya beli menengah ke atas.”
    Alhamdulillah pak Anton, berarti pemilik blog ini, yg notabene tinggal di perumahan BCC, juga termasuk ke dalam golongan ekonomi menengah ke atas… Mantab… 😀

    • Hahahaha… kan mayoritas. Saya pan termasuk yang minoritas… wakakaka

      Alhamdulillah, ada rejekinya Mas…:-D

Comments are closed.