Tukang Perabot Keliling
Pedagang Perabot Keliling di Bogor

“Parabot.. Parabot” Suara sember yang keluar dari pengeras suaranya tidak enak didengar. Mungkin setelan volume dan echo-nya tidak pas, jadi pas sampai ke telinga bunyinya sangat parau.

Herannya, kalau suara itu terdengar, banyak sekali kaum wanita yang berduyun-duyun mengerubungi. Bahkan istri penulis juga beberapa kali ikut mendatanginya.

Yah, mau tak mau penulis mengijinkan.

Satu baskom plastik dan satu ember di rumah sudah bocor dan tidak bisa dipakai lagi. Jadi mau tidak mau, dia harus ikut berkerumun.

Tukang Perabot Keliling. Bukan artis yang biasa dirubung ibu-ibu setiap dia datang. “Parabot” dalam bahasa Sunda artinya “perabot”.

Tukang Perabot Keliling di Bogor

Sejak masa dulu sudah ada. Di kota manapun namanya penjual eceran keliling sudah lazim ditemukan. Merekalah penyambung antara produsen dan konsumen di masa lalu.

Hanya saja, ketika mall atau shopping center bermunculan, peran mereka sudah semakin terkikis. Konsumen lebih senang datang langsung ke pusat perbelanjaan dimana mereka bisa memilih lebih banyak barang dan merek. Sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh pedagang keliling.

Terlebih, pemukiman penduduk di Kota Bogor sudah semakin bergeser menjauh dari pusat kota. Sebuah hal yang memusingkan tukang perabot keliling yang sering hanya mengandalkan kekuatan kaki untuk berjalan atau menggowes sepedanya. Jarak jangkaunya sangat terbatas dari sumber ke konsumen.

Alhasil, jumlahnya terus berkurang.

Bisa dimaklumi. Kali ini David melawan Goliath, David-nya yang harus mundur dan mengalah. Susah melawan kekuatan modal dari pengusaha supermarket dan departmen store.

Hanya rupanya ada liliput yang menolak menyerah menghadapi situasi seperti ini. Beberapa di antara mereka ada yang tetap bertahan dengan pola yang dikenalnya di masa lalu.

Ada juga yang berpikir cerdik dan berusaha untuk menjadi “lebih besar sedikit” dengan menanamkan modal agar bisa bertahan.

Contohnya ya seperti foto di atas. Tukang perabot keliling bermobil.

Mungkin akan ada yang heran mengapa hal yang seperti ini saja dianggap “besar” dan “cerdik”. Tidak ada yang luar biasa dari hal umum seperti ini.

Betul kah?

Perhatikan beberapa masalah yang sudah dipecahkan dengan menanamkan investasi dalam bentuk mobil pick up ini.

Jarak 

Dengan memiliki mobil, seorang tukang perabot keliling bisa menjangkau lebih dari 10 perumahan dalam satu hari.

Jumlah yang beberapa kali lipat dibandingkan pedagang jenis yang sama dengan menggunakan sepeda atau berjalan kaki.

Jarak tempuh yang semakin jauh, maka pasar yang bisa dijangkaunya menjadi berkali lipat lebih besar. Semakin besar pasar, kemungkinan semakin banyak barang terjual.

Jenis barang yang dijual

Kapasitas badan seorang manusia tidak bisa dibandingkan dengan daya angkut sebuah mobil pick up. Bahkan ketika sepeda atau sepeda motor dipergunakan, tetap saja hanya sepersekian daya angkut si roda empat ini.

Semakin banyak jenis barang yang dibawa oleh seorang tukang perabot keliling, efeknya kemungkinan pembeli memilih barang selain yang dibutuhkannya semakin besar.

Product mix yang lebih beragam memang secara teori ekonomi akan memperbesar peluang penjualan dan akhirnya keuntungan.

Lincah alias Mobile

Apa yang tidak bisa dilakukan oleh supermarket dan department store? Jawabnya berpindah tempat.

Sifat toko, pusat perbelanjaan adalah statis. Mereka hanya bisa mengundang pengunjung, tetapi tidak bisa menyambangi dan mengimbangi pembeli.

Meskipun gaya hidup warga Bogor sudah semakin metropolis, tetapi ketika mereka harus berhadapan dengan panas yang terik di siang hari, banyak yang memilih tetap tinggal di rumah. Walaupun mereka suka kenyamanan ruang berpendingin udara, tetapi menghadapi hujan deras yang kerap turun di Bogor, sudah pasti akan banyak yang berpikir ulang pergi ke mall.

Senyaman-nyamannya mall, kalau untuk menempuhnya harus melewati rintangan seperti itu tidak akan membuat orang mau datang.

Dekat dengan pelanggan

Pernah mencoba memesan sebuah baskom dikirim ke rumah Anda dari sebuah supermarket. Tawa pegawai supermarket sudah pasti akan terdengar.

Coba Anda minta nomor telepon/handphone tukang perabot keliling. Dengan senang hati, sang wirausahawan akan menyebutkannya.

Lalu ketika Anda butuh sebuah ember, karena yang di rumah bocor, tidak jarang bila ia berada di dekat lokasi ketika Anda menelponnya, maka kendaraannya akan segera meluncur.

Pelayanan prima yang bahkan tidak bisa dilakukan sebuah department store besar sekalipun. Delivery service.

——

Itulah mengapa tukang perabot keliling seperti ini tetap saja dikerubungi kaum hawa setiap mereka hadir.

Kehadiran tukang perabot keliling bermobil membantu kaum ibu memecahkan masalah di rumah tanpa harus mengorbankan kenyamanan rumah mereka.

Tukang perabot keliling bermobil seperti dalam foto melakukan sebuah langkah yang brilian. Dengan menanamkan modal, mereka menjadi lebih besar “sedikit”, lebih cepat “sedikit”, lebih kuat “sedikit”, dan yang pasti menjadi lebih “mobile” banyak.

Tukang perabot keliling memanfaatkan sisi yang tidak bisa dilakukan supermarket. Bergerilya menembus pembeli-pembeli potensial yang tidak bisa dijangkau shopping center bermodal besar.

Dengan mobil pick upnya, mereka menjadi lebih cepat dari supermarket dan pedagang keliling bersepeda atau bermotor. Lebih lincah menyelusup ke pelosok. Lebih kuat mengangkut berbagai jenis barang. Masalah-masalah yang selama ini menjadi momok wirausahawan bermodal kecil dan menengah terpecahkan dengan menanamkan modal di bidang angkutan.

Itulah mengapa disebut cerdik. Masalah-masalah terpecahkan dengan cara yang sederhana.

O ya kalau Anda bertanya modal untuk beli mobil darimana? Kan lumayan besar?

itulah mengapa disebut cerdik. Kebanyakan mobil pick up yang dipakai tidak baru alias dibeli bekas. Banyak yang membelinya dengan cara leasing alias cicilan.

Mereka hanya membayar uang muka (hasil tabungan) sedangkan untuk cicilan, para tukang perabot keliling seperti ini membayar dari keuntungan penjualan yang mereka peroleh.

Hal yang sama sudah mulai banyak ditiru oleh pedagang-pedagang keliling lainnya. Tukang sayur, penjual ikan , pedagang ikan pun mereka mulai memanfaatkan metode penjualan yang sama.

Kalau Anda tidak kuat, cobalah menjadi lebih cepat dan lincah alias lincah/mobile. Itu salah satu prinsip dasar manajemen dan juga perang.

2 COMMENTS

    • Maaf saya tidak bisa jawab soal berapa modalnya… Hal itu tergantung banyak hal dan tidak bisa ditentukan oleh saya. Itu tergantung pada Anda sendiri yang mau coba usaha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.