Jalan Pemuda - siapa yang belum pernah lihat buah kenari
Jalan Pemuda Bogor

Saya : ‘Gurihan kenari atau almond?’

Teman : ‘Sama aja rasanya.’

Saya : ‘Beda, lha..Gurihan kenari, menurutku, sih.’

Teman : ‘Kalo menurutku, sih, sami mawon.’

Saya : ‘Ga, gurihan kenari. Almond rasanya agak hambar.’

Teman : ‘Ga, ah…Sama ajaaaa.’

Saya : ‘Pernah liat buah kenari, ga?’

Teman : ‘Ya, pernah, lha..Yang ada di kue-kue itu, kan?’

Saya : ‘Iyah, yang di kue. Pernah liat bentuk sebelum dikupasnya, ga?’

Teman : ‘Belum..Emang, itu ada kulitnya?..Jadi, yang di kue-kue itu hasil olahan?..’

Saya : ‘Halah, masa hasil olahan?..Itu asli, lha..Berarti, belum pernah liat pohonnya, ya?’

Teman : ‘Ya, belum lah..’

Saya : ‘Hadeuhhhhh..Kemana aja?..Masa pohon kenari aja ga tau..Belom pernah liat..’

😀

Itulah sepenggal percakapan saya dengan seorang teman. Dan, seperti biasanya, saya memang selalu merasa ‘sombong’ dan mencemooh kepada teman saya yang belum pernah melihat pohon dan buah kenari.

Karena, sebenarnya itu adalah satu-satunya senjata andalan saya untuk membalas mereka. Karena, biasanya, saya yang dicemooh karena banyak pohon dan buah yang saya juga belum tahu dan pernah lihat. 😀

Bagi saya, buah kenari bukanlah sesuatu yang asing. Dulu, selain Kota Hujan, Bogor juga terkenal dengan sebutan Kota Kenari. Karena, saat itu, Bogor memang dikelilingi oleh pohon-pohon kenari.

Waktu masih berseragam merah putih, hampir setiap hari, saya dan teman-teman mengumpulkan buah kenari yang berjatuhan. Di saat menunggu bel masuk, saat istirahat, juga saat menunggu dijemput sepulang sekolah, saya dan teman-teman mengerjakan ‘pekerjaan sampingan’ itu. Karena, saat itu, pekerjaan utamanya belajar, bukan? 😀

Pohon kenari yang banyak berjejer di depan sekolah memudahkan saya dan teman-teman untuk menemukan buah kenari. Tujuannya, sih, sebenarnya tak jelas untuk apa aksi mengumpulkan buah kenari itu. 😀

Seringnya, hasil kumpulan buah kenari itu untuk dikonsumsi pribadi.

Saat istirahat tiba, dengan batu sekepalan tangan yang didapat sekenanya, saya dan teman-teman akan menggunakannya untuk menumbuk buah kenari. Ketika kulitnya telah terkelupas, kemudian kita akan menumbuknya lagi untuk membuka cangkangnya.

Setelah cangkang terbuka, didapatlah keping putih berasa gurih itu. Saat itu, buah kenari terasa lebih gurih dibanding dengan buah kenari yang biasa Ibu beli untuk bahan campuran kue. Mungkin, karena didapat dari hasil jerih payah sendiri. 😀

Selain dikonsumsi pribadi, mengumpulkan kenari juga dipakai sebagai ajang lomba. Lomba tanpa hadiah. Hanya untuk kepuasaan pribadi saja, mempertahankan gengsi. 😉 :-)) Siapa yang paling banyak mengumpulkan buah kenari, dialah pemenangnya.

Saat lomba itu, maka para mamang-mamang (sebutan untuk para pedagang di daerah Sunda) yang berjualan di depan sekolah akan bersiap-siap menemukan saya dan teman-teman di sekitar dagangannya. Membungkuk-bungkuk di bawah gerobak atau di sekelilingnya. Meminta mereka untuk mengangkat kaki jika ada buah kenari yang terinjak oleh mereka. 😀

Tak hanya di situ, saya dan teman-teman juga akan masuk ke dalam got setinggi kurang lebih 1 meter demi mendapatkan buah kenari itu. Got-nya kering, hanya terisi dedaunan.

Saat itu, jangan heran jika melihat kantong baju dan celana sekolah saya dan teman-teman menggembung, penuh dengan buah kenari. Di dalam tas juga, sih. 😀 Peringatan Ibu untuk tidak menaruh kenari di dalam saku baju dan tas hanya diturut satu hari saja. Abisnya, taro di mana lagi, dunk?..:-D

Tak terlintas dalam pikiran saat itu bahwa buah kenari akan membuat kotor saku karena sampah yang melekat di kulitnya. Belum lagi, kalau lupa mengeluarkan buah kenari dari dalam tas, kulit buahnya akan membusuk, mengotori tas dan buku. 😀

Menapaki trotoar di Jalan Pemuda pagi itu seakan mencolek ingatan masa kecil saya tadi. Sinar matahari pagi tembus di celah-celah pohon kenari yang berjejer rapi di sebelah kanan kiri jalan. Sambil menapaki trotoar saya pun mencari-cari buah kenari yang jatuh. Bukankah biasanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Tapi, sepanjang saya melintasi trotoar tadi, saya belum menemukan satu pun buah kenari. Tiba-tiba, saya melihat ada buah kenari yang jatuh di dalam got yang berada di sisi jalan.

Didorong keinginan untuk memberi lihat bentuk buah kenari kepada teman, serta merta saya langsung turun ke dalam got. Yup, hampir tikusruk. :-)) Ternyata sudah tidak selincah dulu. *ya iya, lah* (tikusruk adalah bahasa sunda yang artinya jatuh tersungkur).

Untung, gotnya kering, ga ada airnya. 😀 Hanya tumpukan dedaunan saja isinya. Saya pun mengambil buah kenari yang ada di dalam got itu. Ada 4 buah.

Pemandangan Indah Jalan Pemuda Bogor di Pagi Hari
Jalan Pemuda

Setelah mengambil buah kenari itu, seakan kembali ke masa dulu, saya juga berjuang untuk keluar dari got itu. ha..ha..Bedanya, dulu, saya masih kecil jadi agak sulit untuk keluar dari got itu. Sekarang, tinggi badan saya sudah melebihi kedalaman got tapi berat badan lah yang menghambat kelincahannya. :-))

Setelah melihat ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang menyaksikan peristiwa keluar masuknya saya ke dalam got, saya pun merasa lega karena tidak melihat satu orang pun yang dapat dijadikan saksi. 😀

Saya seakan melupakan orang-orang yang berada di dalam kendaraan yang melintas atau orang yang sedang berada di dalam kedai di pinggir jalan. Siapa tahu mereka sebenarnya melihat kejadian itu:-D

Setelah berhasil ke luar got, saya mengambil foto buah kenari itu. Ini dia fotonya.

Siapa yang belum pernah melihat, lihatlah. Meski hanya lewat sebuah foto. 😀

Serta merta saya pun mengirim pesan kepada teman saya.

Saya : ‘Mau lihat buah kenari?’

Teman : ‘Mana?’

#Sending photo

Teman : ‘Iya, lebih gurih kenari dibanding almond.’ (Begitu komen teman saya setelah melihat foto buah kenari yang saya kirim).

Efek sebuah foto!!

:-))

Sekarang memang agak sulit untuk menjumpai pohon kenari di kota Bogor. Selain, di dalam Kebun Raya Bogor, tentunya. Namun, saat ini, sisa-sisa sebutan sebagai kota Kenari saat itu, masih dapat kita jumpai di sepanjang Jalan Ahmad Yani dan Jalan Pemuda. Di sana kita masih dapat melihat jejeren pohon kenari yang tinggi-tinggi.

Di beberapa jalan lain, kita juga masih dapat menjumpai beberapa pohon kenari yang tersisa, seperti di Jalan Sawojajar, Jalan Pengadilan, juga Jalan Kapten Muslihat.

Selain usianya yang sudah tua dan rapuh menyebabkan pohon kenari cepat tumbang. Dengan curah hujan yang tinggi disertai petir dan angin kencang yang kerap mengunjungi kota Bogor menyebabkan keberadaan pohon kenari digantikan dengan pohon yang lebih tahan lama, lebih rimbun, dan tidak terlalu rapuh meski dimakan usia.

Yuk, bagi yang belum pernah melihat secara langsung pohon dan buah kenari dan berminat untuk melihatnya, jangan ragu untuk datang ke Kota Bogor. Masih ada pohon-pohon kenari yang akan menyambut kedatangan Bapak, Ibu, Mba, Mas, Adik, dan Kakak di kota ini.

Siapa yang belum pernah lihat buah kenari

Bogor Pernah Jadi Kota Kenari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.