Saya tidak lahir di Bogor
Rusa totol di Istana Bogor

Saya tidak lahir di Bogor. Begitulah faktanya. Tempat kelahiran saya di Karet Tengsin tahun 1970 dan sampai dengan kelas 2 Sekolah Dasar, tempat tinggal saya di kawasan Cipulir.

Baru di bulan Juni tahun 1978, ayah memutuskan untuk pindah ke kota hujan. Ia membeli sebuah rumah di kawasan Pondok Rumput. Sebuah rumah di gang Tawes. Hasil jerih payahnya bertahun-tahun membuat kami sekeluarga tidak perlu pindah-pindah kontrakan lagi. Tempat yang sama pula menjadi tempat dimana beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Saya tidak lahir di Bogor. Memang itulah adanya saya. Saya tidak bisa mengubah kenyataan itu karena tidak mungkin bagi saya memilih tempat dimana mau dilahirkan. Hal tersebut sudah diputuskan oleh Yang Maha Kuasa dan hasil usaha jerih payah ayah dan ibu.

Tidak mungkin saya merubah apa yang sudah terjadi.

——-

Berhentilah mengatakan “saya lahir di Bogor” ketika mengatakan “pendatanglah yang membuat Bogor menjadi seperti sekarang, rusuh, kacau dan macet”.

Apakah karena anda lahir di Bogor anda berhak menjadi orang Bogor? Karena tempat lahir di KTP tertulis Bogor, anda berhak menjadi hakim untuk menentukan siapa orang Bogor dan siapa yang bukan? Apakah anda mau lepas tangan terhadap apa yang saat ini terjadi di Bogor?

Tidak, anda sama sekali tak memiliki hak untuk itu. Walaupun anda mampu berbahasa Sunda dengan fasih, walaupun anda punya 10 KTP dengan tempat lahir di Bogor, anda tidak diberikan hak untuk mengatakan demikian.

Bogor adalah milik semua orang sekaligus tidak dimiliki siapa-siapa.

Bogor bisa dimiliki oleh semua orang yang menyayanginya. Semua orang yang merasa hidupnya terkait dengan kota talas ini. Setiap manusia yang mencintai ,berniat dan berusaha menjaganya berhak mengatakan ia memiliki Bogor.

Pada saat bersamaan Bogor tidak bisa dimiliki bahkan oleh orang yang lahir di Bogor. Mereka tidak berhak menyebut diri orang Bogor ketika tingkah laku mereka tidak menunjukkan cinta dan sayang kepada kota ini. Ketika mereka membuang sampah sembarangan, meludah sembarangan, merokok di angkutan umum , memarkir kendaraan sembarangan dan tak mematuhi aturan yang ada.

Kalau anda melakukan hal itu , meskipun anda adalah seorang guru bahasa Sunda dengan kakek nenek, buyut yang lahir di kota Bogor, anda bukan orang Bogor. Tidak ada hak bagi anda menyatakan diri anda sebagai orang Bogor dengan apa yang anda lakukan.

Orang Bogor yang saya kenal pertama kali adalah orang-orang yang sopan, halus dan paham aturan. Mereka akan selalu mencoba memahami dan menjaga orang-orang yang berada di dekatnya. Mereka adalah manusia-manusia yang tidak pernah ingin merepotkan manusia lainnya.

Orang Bogor yang saya ketahui akan menolong orang lain. Tak berhitung untuk turun tangan membantu yang sedang kesusahan. Yang pasti akan lebih fokus pada usaha untuk perbaikan dibanding mencari kesalahan dari orang lain.

——-

Berhentilah mengatakan “saya orang Bogor” dan “anda pendatang”.

Bukan karena hal-hal di bawah ini :

– Apalagi bila usia anda di bawah 30 tahun. Karena saya yakin anda tidak tahu yang namanya ngalun di Cipakancilan atau sungai lain di Bogor. Pasti tidak pernah merasakan nonton bioskop di Wijaya Theater dengan bangku kayunya. Mungkin tidak pernah memunguti kenari yang berjatuhan di jalan Pemuda , apalagi tahu caranya mengambil dan makan isinya.

– Bila usia anda di bawah 36 tahun, maka lebih baik anda tidak menyebutkan diri dengan gagah bahwa anda “orang Bogor” hanya karena KTP anda mengatakan demikian. Karena sudah jelas ketika anda masih baru bisa menyusu , saya sudah bermain anggar, membuat pistol-pistolan dengan peluru biji kayu putih. Atau… ngabuburit di jalan Baru (tahu dimana ini?) saat dimana kiri kanannya masih sawah dan ladang bukan Bogor Indah Plaza. Yang pasti sudah naik bemo atau daihatsu tuyul untuk ke sana kemari.

Bukan…bukan karena itu, saya sudah katakan dengan jelas di atas. Daripada membanggakan KTP anda lebih baik anda melakukan sesuatu yang membanggakan Bogor. Hal yang membanggakan seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak menerobos lampu merah yang sedang menyala, tidak merokok di sembarang tempat, tidak memarkir kendaraan anda sembarangan, dan memastikan anda mengikuti semua aturan yang sudah ditetapkan Bogor.

Bogor akan bahagia ketika aturan yang dibuat untuknya dilaksanakan. Hal itu akan membuatnya tampak rapih , bersih serta tertata. Bogor akan bangga ketika visinya menjadi Kota Beriman terpenuhi dan dia akan bangga kepada semua orang yang membantunya mencapai tujuan utamanya.

Kebahagiaannya akan memberi anda menerima gelar kehormatan ala Bogor. Gelar kehormatan itu adalah sebutan “orang Bogor” yang akan melekat pada nama anda.

——-

Saya tidak lahir di Bogor. Saya lahir di Jakarta. Hanya saya akan tetap mengatakan ketika bertemu dengan orang dari luar Bogor bahwa saya orang Bogor. Bukan karena saya sudah memenuhi semua kriteria tersebut tetapi lebih kepada rasa sayang dan cinta terhadap kota ini.

Pahit , getir, manis, asam, gurih sudah pernah saya alami di kota ini. Tidak pernah terpikirkan untuk meninggalkan kota ini.

Hanya apakah saya pantas mendapatkan gelar kehormatan tersebut, maaf bukan saya yang menentukan. Bogorlah yang menentukan itu dan bukan saya.

Tapi…berhentilah berkata “saya lahir di Bogor” dan “anda pendatang karena tidak lahir di Bogor”, Kata-kata tersebut menimbulkan rasa sakit bagi mereka yang tidak lahir di Bogor tetapi mencintai dan menemukan cinta di Bogor. Menimbulkan rasa kesal bagi mereka yang lahir di Bogor tetapi berada jauh dari Bogor. Hal-hal yang orang Bogor tidak akan pernah lakukan.

——-

Jadi saya tidak lahir di Bogor tapi jangan sebut saya pendatang.

20 COMMENTS

  1. Apapun suku nya. Apapun bahasanya. Siapapun dia. Kaya atau miskin. Kita semua berada langit yang sama. #oioi

    • Setujuuuuu………….

  2. Saya boleh ikut komen ya pak, saya akan coba urun rembuk dari sisi kedaerahan dan kenegaraan.
    1. Dari sisi daerah, betul bahwa Bogor termasuk Jawa Barat dan secara budaya termasuk dalam budaya Sunda. Tetapi nyatanya sekarang, Bogor kok makin kesini makin “gue elu” bukan semakin “abdi anjeun” atau “aing maneh”? Kamarana euy ieu nu ngaku sbg urang Sunda asli Bogor?
    Buat urang Sunda Bogor sadayana, punten nya sanes abdi bade teu sopan atau sok tahu, tapi jangan salahkan pendatang non Sunda yg menyebabkan pudarnya budaya Sunda di Bogor, tetapi cobalah berkaca pada diri sendiri, apakah Anda sudah menerapkan budaya Sunda itu di kehidupan sehari2 di keluarga Anda dan apakah Anda serta keluarga Anda PEDE menerapkan budaya Sunda itu di kehidupan bermasyarakat di Bogor?
    Karena di kota Bandung jg banyak ditinggali pendatang dari Jawa, Padang, Batak, Indonesia Timur, bahkan orang Malaysia dan Bule, dan sama kayak Bogor tiap weekend jg selalu diserbu ribuan pasukan plat B, plat D nya mah di rumah aja, tetapi di jaman mileneal ini Bandung tetaplah PEDE full Sunda insha Allah Sunda salawasna dan kenyataannya justru para pendatang itu yg jadi ngikut Nyunda dan banyak yg pengen belajar bahasa Sunda sama orang Bandung. Nah sekarang, Bogor kumaha ieuh? Kondisi demografi penduduk hampir sama seperti Bandung, tapi naha beda di sisi kesundaan na? Sok mangga diwaler dan direnungkan dina hate masing2, aranjeun nyalira nu langkung terang jawabannana…
    2. Dari sisi kenegaraan, Bogor termasuk di dalam NKRI, dan negara ini berlandaskan hukum dan peraturan yg berlaku secara mutlak dan mengikat warganya. Tapi nyatanya, banyak yg nyampah, melanggar aturan lalu lintas, ngeludah sembarangan, berjualan tidak pada tempatnya, fasilitas umum ada yg dirusak, bikin macet, dll… ngaku2 asli Bogor 100% F bogoh ka Bogor tapi senangnya merusak dan melanggar peraturan? Ai didinya teh waras?
    Jadi menurut saya pak Anton tetaplah orang Bogor, karena respeknya dgn masyarakat dan budaya setempat, dan yg terpenting harus selalu patuh dgn peraturan pemerintah yg berlaku di Bogor, itu baru yg namanya Bogoh ka Bogor…
    Tapi kalo mungkin suatu hari nanti saya ketemu pak Anton lg nyampah sembarangan atau melanggar peraturan di jalanan, hmm mungkin KTP pak Anton akan langsung saya rebut dan saya akan teriak di depan khayalak umum “pak Anton ini bukan orang Bogor tapi orang planet Namec,” hahahaha…

    • Hahahaha.. diterima.. silakan

  3. Kalau bukan pendatang lalu apa dong pak? Bukankah itu hal yang wajar, kecuali jika leluhur pak anton berasal dari bogor.

    Kalau saya jadi pak anton, saya tidak akan merasa keberatan disebut pendatang.

    • Maaf Anda bukan saya.. saya bukan Anda..

      Pemikiran sempit seperti ini yang kerap menimbulkan gesekan. Sebuah kota tidak bisa diaku dan dimiliki oleh sekelompok orang hanya karena mereka dilahirkan disana.

      Tidak ada hak sekelompok orang memberikan label atau vonis kepada orang lain . Sesederhana itu saja.

      Kalau segitu saja tidak mengerti, ya wis.. nda usah dibahas.. capek

  4. Sangkuriang adalah legenda yang berasal dari suku sunda, legenda tersebut berhubungan dengan keberadaan danau bandung purba, dan faktanya danau bandung itu memang pernah ada tapi sudah mengering sekitar 16.000 tahun yang lalu, nah jadi dapat dimungkinkan bahwa orang sunda sudah ada di tanah sunda lebih dari 16.000 tahun yang lalu.

    • Bisakah disediakan bukti arkeologis.. atau sekedar bahasan dari mulut ke mulut saja. Kalau yang terakhir sih, mending nggak usah dibahas.

      Bikin capek saja.. tidak banyak gunanya.

  5. Saya lahir di Bogor, besar di Bogor, sekolah di Bogor. Tapi karena orang tua dari luar Bogor, kadang juga disebut pendatang.

    • Tidak usah dipikirkan.. selama Anda sayang kepada Bogor, jangan pikirkan apa kata orang lain. Anda orang Bogor

  6. mmm,,,tenyata lumayan panas,,,yach Pak saat artikel ini diluncurkan…….

    soal kalimat disebut pendatang ” saya pikir semua orang dahulunya adalah pendatang, yang membuka lahan dan mendiami wilayah tesebut.

    apa mungkin dahulunya wilayah tsb,,tahu2 ada orang…. tahu ada kerajaan,,tanpa ada proses perpindahan dari tempat lain ?

    cobalah plash back ke masa ratusan tahun lalu…..mungkin wilayah yang dipedebatkan pada pembahasan kali ini,,,,hanya merupakan sebuah hutan belantara,,,lalu ada sekelompok atau banyak orang yang datang untuk mendiaminya.

    bukan pendatang atau pribumi yang perlu kita persoalkan, melainkan bagaimana kita membuat suatu wilayah menjadi subur, makmur, dan sejahtera.

    • Begitulah Kang.. Chauvinisme kedaerahan juga terkadang menutupi pemikiran sepertu yang Kang Nata bilang. Saya setuju dengan pendapat si akang karena memang begitulah seharusnya.

      Tetapi, Kang Nata bisa lihat sendiri bahwa ada orang yang menganggap Bogor hanya milik orang Sunda dan yang nggak lahir di Bogor dianggap pendatang.

  7. Medy Indra Putra Pasundan Parahyangan

    Jika anda tidak ingin di sebut pendatang, jangan mengatakan bogor bukan milik orang sunda. Bogor adalah warisan dari kerajaan pajajaran yang juga adalah penerus kerajaan sunda.
    Hargai suku pribumi di mana pun anda tinggal,, jelas ayah anda berdarah jawa maka anda pun bersuku darah keturunan jawa. Itu tidak di sebut rasis, allah pun menciptakan berbagai suku ras agar mereka yang pribumi mengenal para pendatang, juga agar mereka yang datang tau siapa yang mereka datangi.
    Siapa mau mengelak bahwa sunda tidak pernah menginvasi daerah lain di bandingkan dengan majapahit yg ingin menguasai seluruh nusantara.
    Maka jangan anda marah jika ada orang sunda yg mengatakan pendatang dari jawa selalu ingin memiliki tanah pasundan bukan hanya sekedar tinggal di sana.

    Anda ingin agar status pendatang anda hilang,,, maka hargai adat suku setempat dan buang jauh2 jiwa suku lain di diri anda. Ingat,, pada saatnya nnti semua akan kembali pada pemiliknya. Cepat atau lambat..

    Dan berterima kasihlah pada orang2 sunda yang menerima kalian dari jaman kerajaan, merelakan cirebon, cilacap, tegal, brebes serang bahkan sunda kalapa yang kini jakarta mnjadi bukan milik suku sunda lagi

    Tapi siapa mau menerima jika jogjakarta dan solo dikatakan bukan milik jawa. Apa anda mau menerima…???
    Pemilik tetaplah pemilik, jngan anda katakan bogor tanpa ada yang memiliki. Secara garis kultur tetaplah mekkah milik orang arab, bukan indonesia sekalipun bukan hanya orang arab yang mendiami tanah di sana.

    • Justru kenyataannya tidak ada suku yang berhak mengatakan bahwa mereka menjadi pemilik sebuah kota. Terus terang sebuah hal yang aneh untuk mengatakan bahwa Bogor adalah milik suku Sunda karena pada kenyataannya masyarakatnya terdiri dair berbagai ragam suku dan mereka adalah “pemilik” dari kota ini.

      Keterkaitan sejarah adalah bagian dari kehidupan, tetapi tidak membuat mereka berhak mengklaim bahwa sebuah kota adalah milik suku tersebut.

      Bukan rasis, tetapi menjelang chauvinistis dengan mengatakan bahwa sebuah kota adalah milik suku tertentu. Bagaimanapun dikemas dalam bahasa apapun, mengklaim bahwa orang sebagai pendatang dan diri sebagai pribumi dan harus dihormati adalah bentuk dari sebuah sikap yang menjelang rasis.

      Jogjakarta adalah milik semua orang. Memang berlokasi di Jawa, apakah suku Jawa yang memilikinya? Kalau ada sebuah suku yang mengklaim bahwa Jogjakarta adalah milik orang Jawa, berarti orang itu tidak memahami yang namanya BHinneka Tunggal Ika.

      Apakah saya harus berterima kasih pada orang Sunda untuk “diberikan” izin”, weleh.. pemikiran absurd.

      Itu saja pendapat saya.

  8. Apakah anda orang jawa atau orang betawi,?

    Apakah anda ingin disebut pribumi,?
    Coba anda lihat dan saksikan di depok dan bekasi,
    Depok dan beaksi di klaim oleh betawi.
    Bahkan bahasa sunda di depok telah dihapus dari mata pelajaran.
    Dan Saya juga mendapatkan kabar kalau KATANYA bahasa sunda di bekasi juga akan dihapus, (sumber google).

    Mengenai jawa, wilayah sunda menjadi kecil gara-gara orang jawa, dulu setengah pulau jawa itu wilayah sunda, dan sekarang bagian barat prov.jateng dikuasai pihak jawa dan bahkan di utara jabar juga di kuasai pihak jawa.
    Bukan hanya itu, orang jawa juga sering menghina-hina orang sunda, katanya orang sunda itu matre, pemalas, suka selingkuh dan lain-lainnya.

    BAGI SAYA pendatang dari jakarta, depok, bekasi dan jawa adalah ancaman bagi bogor, khususnya SUNDA. Saya lebih SENANG pendatang dari sumatera, bali, kalimantan, sulawesi, maluku, papua, cina, arab

    • Generalisasi yang sangat stereotype. Saya akan memandang orang Bogor sebagai orang Bogor dan bukan sebagai orang Sunda. Sudah sejak lama masyarakat di kota ini terbentuk dari berbagai macam suku bangsa. Bahkan sejak tahun 1745, sudah terdapat banyak sekali banyak ras yang ada di kota ini.

      Bogor bukan milik orang Sunda saja. Dari sudut pandang saya, Bogor adalah milik mereka yang menyayanginya.

      Manusia dimana-mana ada yang baik dan yang buruk. Tidak tergantung ras. Jadi, IMO stereotype seperti yang Anda lakukan tidak akan pernah menjadi pola pandang saya. Itulah yang membuat gesekan antar suku di Indonesia. Jadi jangan berharap saya akan mengikuti pola pandang Anda. Tidak akan pernah. Saya bertemu dengan banyak orang baik dari Jawa, Sunda, Papua, Batak dan lain sebagainya. Pada sisi lain, saya juga mengalami hal-hal buruk dari orang-orang lain yang sukunya sudah saya sebutkan tadi. Jadi, kebaikan atau keburukan tidak tergantung suku, itu tergantung pada manusianya.

      Mengenai tergerusnya Budaya Sunda, mungkin yang harus dipertanyakan justru, mana orang-orang yang mengaku dirinya orang Sunda. Sebuh kebudayaan punah atau tersisih ketika jumlah penganut budaya tersebut menghilang dan tidak bisa berperan. Itu masalahnya. Jangan salahkan budaya lain yang justru mencuat.

      Bila Anda tanya saya suku mana, Bapak Jawa, Ibu Sunda, Lahir di Jakarta, Besar di Bogor. Saya tidak merasa terikat dengan salah satu suku itu tetapi pada saat bersamaan juga terkait dengan semuanya. Bahasa Jawa, saya mengerti, ada sebagian diri saya yang terbentuk dari darah Jawa nya bapak. Bahasa Sunda juga cukup memadai untuk pergaulan, ibu saya mengajarkan cukup dan juga bergaul dengan orang Sunda mah tiap hari. Interaksi dengan dunia modern di Jakarta sudah sejak kecil hingga tua sekarang. Mengalami masa menyenangkan, sedih, kecewa, gembira di Bogor.

      Silakan Anda klasifikasikan sendiri dari suku mana saya berasal. Karena saya tidak akan pernah melakukan itu. Saya adalah orang Bogor, Indonesia.

  9. Tulisan Bapak sangat mewakili saya Pak..terimakasih..

    • Sama-sama… yang penting kita orang Bogor. Tidak peduli lahir dimana.

      Terima kasih sudah berkunjung

  10. Rachmat Amienullah

    semoga makin betah di kota bogor pak…semangat !

    • Amiin.. semoga ya mas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.