Pergunakan Kameramu - Tugu Di Bunderan Taman Yasmin
Bunderan Taman Yasmin, 2016

Apa Anda mempunyai kamera? Kamera saku (compact camera) berharga di bawah 1 juta? Prosumer alias bridge camera dengan sensor yang tidak seberapa besar? atau bahkan DSLR (Digital Single Reflex) berharga jutaan?

Bolehkah saya bertanya kepada Anda satu hal?

Berapa kali Anda mempergunakannya dalam satu bulan? 1X setiap minggu? Sekali setiap bulan? Atau hanya pada acara-acara khusus saja dengan waktu yang tidak pasti?

Maaf kalau sudah terlalu lancang untuk bertanya tentang hal itu. Tentu saja saya menyadari berapa kali kamera tersebut dipergunakan adalah hak Anda sepenuhnya. Tidak ada sedikitpun maksud untuk ikut campur dalam keputusan kapan kamera tersebut dipergunakan.

Tidak ada niat sama sekali untuk itu.

Pertanyaan tersebut hanya merupakan sedikit pemikiran dari apa yang seringkali orang lakukan terhadap kameranya. Mungkin Anda tidak, tetapi berdasarkan pengalaman dan hasil ngobrol , ternyata masih banyak yang tidak begitu sering mempergunakan kamera mereka.

Alasan yang dikemukakan beragam.

Kamera itu mahal, jadi diusahakan agar tidak cepat rusak

Entah itu sekedar ‘compact camdig’ alias kamera saku digital, prosumer atau DSLR, uang terkecil yang dikeluarkan untuk membelinya adalah 1/3 Upah Minimum Regional Jalarta 2016. Itupun hanya untuk sebuah kamera saku biasa yang hanya memiliki zooming 2-4x saja. Tidak lebih.

Kalau menanjak ke prosumer, sejenis dengan Finepix HS 35EXr yang saya miliki, gaji buruh sebulan harus dikeluarkan. Jangan tanya kamera DSLR, yang meskipun sudah, katanya, semakin murah, harganya masih 1.5-2 kali untuk kelas pemula.

Jadi, sesuai dengan sifat alami manusia, sesuatu yang “berharga” harus dijaga sebaik mungkin, agar tidak cepat rusak. Kalau dipergunakan terlalu sering dikhawatirkan barangnya tidak awet dan tahan lama.

Klasik memang.

Pergunakan Kameramua Agar Tidak Mubazir
Jalan Abdullah Bin Nuh, 2016

Tidak tahu harus memotret apa karena momen spesial tidak hadir setiap hari

Masalah klasik berikutnya, setelah membeli kamera untuk sebuah acara khusus, seperti pernikahan atau ulang tahun, atau traveling seseorang tidak lagi punya “sasaran” bagi lensa kameranya.

Setelah acara-acara yang dianggap spesial itu berlalu, maka sang kamera akan kembali masuk dus dan disimpan menanti acara khusus berikutnya hadir.

Frekuensi penggunaan kamera akan menjadi sangat rendah tergantung pada kemampuan atau seberapa sering sesuatu yang spesial datang atau hadir dalam kehidupan. Jelas sangat jarang , karena momen-momen spesial memang tidak setiap hari dalam kehidupan manusia manapun. Yang ada hanyalah “momen-momen” biasa dan umum saja.

Tidak tahu cara menggunakannya

Aneh memang ketika membeli sesuatu tetapi kemudian tidak memakainya karena tidak tahu cara menggunakannya. Paling tidak itulah yang pertama terbersit kalau ada yang mengatakan demikian.

Hanya, belajar dari pengalaman, memang ternyata kadang kita membeli sesuatu bukan karena kebutuhan. Apalagi benda semacam kamera yang merupakan kebutuhan tersier atau lebih rendah lagi dan bukan kebutuhan utama.

Sangat mungkin, kamera dibeli karena ingin terlihat keren dengan mempunyai hobi. Masalah pandangan masyarakat yang masih mementingkan status berdasarkan materi di Indonesia, bisa menjadi pendorong kita untuk membeli sesuatu yang sebenarnya kita tidak begitu paham cara menggunakannya.

Bisa juga karena tertarik, kemudian membeli sebuah kamera, tetapi ternyata setelah membaca berbagai istilah fotografi yang “keren-keren” itu, kepala menjadi pening dan ruwet. Belum lagi kemudian ditambah dengan hasil foto yang tidak ada sebagus yang dilihat di berbagai blog tentang fotografi membuat patah arang.

Nah, kesemua ini bisa mendorong masuknya kamera ke dalam kotak kemasannya (yang biasanya masih disimpan lengkap beserta buku manual dan berbagai asesori lainnya agar nilai jualnya tidak terlalu jatuh).

Tersimpan dengan rapi dan terjaga dalam sebuah lemari.

Pertanyaannya, apakah alasan-alasan dan tindakan-tindakan tersebut salah?

Commuter Line Di Stasiun Cilebut
Cilebut, 2016

Tidak. Sama sekali tidak. Normal dan manusiawi.

Kalaupun memang sudah diputuskan jalan tersebut yang dipilih, itu bukanlah sebuah masalah. Manusia berhak memilih jalannya masing-masing.

Apa yang akan dikemukakan di bawah ini hanyalah sebuah pemikiran. Bukanlah sebuah pemaksaan atau berarti saya lebih baik dibandingkan Anda.

Hanya, apabila pilihan menyimpan kamera di dalam kardusnya atau lemari yang dipilih, bukankah ada kompensasinya. Ya, tentu saja semua pilihan akan ada konsekuensinya, bahkan ketika kita tidak melakukan apapun ada efeknya. Termasuk diantaranya hanya mendiamkan kamera yang kita miliki.

Kompensasi yang ada dengan hanya meletakkan kamera di dalam lemari tanpa menggunakannya adalah kamera tersebut tidak menjalankan fungsi yang seharusnya, alias MUBAZIR.

O ya. Sia-sia dan tidak bermanfaat.

Cobalah kita lihat kembali fungsi dari sebuah KAMERA. Kamera itu adalah alat untuk menangkap momen dalam bentuk gambar atau foto.

Bagaimana ia bisa dikatakan bermanfaat atau berfungsi ketika dirinya hanya berada dalam kardus dan tempat penyimpanan? Foto atau gambar apakah yang dihasilkannya dari dalam box-nya.

Jawabnya, TIDAK ADA. Sama sekali NIHIL.

Kalau sesuatu tidak bisa menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya, maka ia harus dikategorikan sebagai mubazir dan tak berguna. Sia-sia. Tidak bermanfaat. Suka atau tidak suka, itulah istilah yang cocok untuk dipakai dalam hal ini.

Bukankah begitu, Kawan?

Wajar memang karena harganya mahal, maka kita berhati-hati dan agak pelit dalam menggunakannya. Tidak masalah berpikir demikian.

Tetapi kamera adalah benda buatan manusia. Tidak ada bedanya dengan televisi atau sepeda motor atau mobil.

Suatu saat ia akan rusak. Ada waktunya dimana ia menjadi tak berguna. Baik dipakai atau tidak, benda-benda tersebut suatu saat, pasti akan rusak juga.

Mendiamkannya dan membiarkannya berdebu tidak menjamin bahwa sebuah kamera tidak akan rusak. Masalah seperti lensa berjamur sering terjadi pada kamera yang tidak pernah dipergunakan, apalagi kalau tempat penyimpanannya lembab. Komponen elektronik yang berkarat, juga sama menghantuinya.

Jadi, diam atau dipakai, sebuah kamera tetap akan rusak di suatu saat. Jangan pernah berpikir bahwa kamera akan abadi dan tetap pada kondisi seperti saat dibeli.

Lalu kalau memang kemungkinan rusak tetap ada pada jalan manapun yang diambil, mengapa tidak dimanfaatkan saja? Dimanfaatkan dalam artian merekam momen-momen dalam kehidupan kita atau orang lain.

Kalaupun suatu saat ia rusak karena dipakai, sudah banyak bagian-bagian dalam kehidupan kita yang sudah direkam dalam bentuk foto. Bandingkan dengan kata nihil kalau benda tersebut hanya disimpan.

Momen-momen apa yang harus diabadikan? Kadang kita terlalu menyempitkan arti kata spesial sebagai sebuah momen tertentu saja. Padahal banyak sekali momen berharga dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia.

Sebagai contoh bagi yang sudah berkeluarga, tentu anak adalah sesuatu yang selalu kita katakan sebagai di atas segalanya. Kelahirannya, ketika ia berjalan pertama kali, ketika ia terjatuh atau berlari, saat masuk pertama sekolah adalah saat yang menurut kita “spesial”.

Sayangnya, spesialnya bukan termasuk dalam kategori spesial yang membutuhkan kehadiran kamera DSLR kesayangan. Cukuplah dengan kamera handphone saja.

Tidak kah itu menjadi sangat ironis? Bagian dalam hidup kita yang selalu kita sanjung sebagai sangat berharga, tetapi untuk merekamnya kita tidak mau mengeluarkan “peralatan” terbaik yang kita miliki. Bukankah seharusnya sebagai sesuatu yang berada dalam daftar paling atas dalam kategori spesial, mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari yang kita miliki?

Padahal saat pertama kali anak kita berjalan hanya akan ada satu kali saja dalam hidup. Setelah bisa berjalan, maka ia tidak akan belajar lagi. Saat masuk Sekolah Dasar pun hanya sekali. Tidak kah pantas direkam dengan kamera terbaik yang ada.

Tehnik Panning
Jalan Jalak Harupat, 2016

Jadi, obyek untuk kamera itu selalu ada. Bahkan tanpa kita sadari. Orang-oang yang kita sayangi adalah obyek yang tidak akan pernah ada habisnya untuk digali. Mereka akan menyediakan momen-momen yang suatu waktu akan membuat Anda merasa beruntung sudah merekam saat-saat bersama mereka.

Untuk apa? Suatu waktu, orang-orang yang kita sayangi itu akan pergi meninggalkan kita. Masa kecil seorang anak sangatlah pendek, suatu waktu ia akan pergi menyusuri jalan hidupnya sendiri. Mereka hanya akan meninggalkan kita dengan kenangan. Foto-foto yang kita rekam dalam kamera kita akan sangat membantu membuat kita mengingat dan mengenang kembali masa-masa tersebut.

Saya rasa, Anda pasti setuju dengan pendapat ini. Mudah-mudahan begitu.

Bagaimana kalau hambatannya adalah tidak tahu cara menggunakannya? Ah, tidak mungkin. Kamera digital masa kini sudah disetting sedemikian rupa sehingga bisa memudahkan penggunanya. Berbagai menu mulai dari otomatis, semi otomatis hingga manual tersedia.

Kalau memang kita malas mempelajari tentang berbagai tehnik fotografi dengan istilah-istilahnya yang ruwet, pakai saja menu atau mode AUTO. Tidak beda dengan memakai kamera di smartphone. Hanya tinggal arahkan kamera ke obyek dan tekan shutter.

KLIK.

Selesai.

Foto tersimpan di dalam memory kamera, siap untuk dilihat bahkan untuk disharing.

Bagaimana kalau hasilnya tidak menawan dan tidak bisa seperti para master fotografi? Lho, kamera tidak dibuat hanya untuk para ahli atau penggemar fotografi. Tidak ada keharusan bahwa sebuah hasil foto harus indah dan menarik.

Yang terpenting dari melihat hasil sebuah foto adalah ANDA MENYUKAINYA. itu yang terpenting. Bukan masalah walau nanti para “master” dan “ahli” fotografi mengkritik atau mengatakan kelemahannya ini dan itu. Selama Anda bisa menikmatinya dan bahagia dengan hasil tersebut, abaikan semua komentar tersebut.

Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Selama Anda bahagia dan bisa menikmatinya, kenapa tidak.

Kalau Anda tidak menikmati atau menyukainya, nah berarti itu sebuah masalah. Tetapi bukan sebuah masalah besar. Keuntungan dari tehnologi dewasa ini adalah menghasilkan sebuah foto ongkosnya murah dibandingkan masa lalu.

Tidak perlu membeli film. Tidak perlu mencetaknya.

Kalau Anda tidak menyukai hasil jepretan kamera Anda, hapuskan saja dari memory. Lalu, ulangi lagi prosesnya dengan coba mengambil foto yang lain sampai ada hasil yang membuat Anda bahagia. itu saja.

Not a big deal.

Menebar Jala
Situ Cikaret, 2016

Nah, kira-kira begitulah pemikiran yang hendak saya bagi kepada Anda. Daripada membiarkan kamera yang sudah kita beli mubazir dan tidak menghasilkan apa-apa, mengapa tidak mengambil resiko sedikit.

Tentu tetap ada langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk memastikan kamera kita tetap rusak,kalau terlalu cepat rusak juga rugi.

Harus tetap ada titik kompromi untuk mendapatkan hasil maksimum (berupa rekaman momen-momen berharga dalam kehidupan kita) dengan biaya yang dikeluarkan (pemeliharaan dan lama pakai kamera).

Masing-masing akan berbeda titik komprominya tergantung pada banyak faktor. Tidak bisa dipastikan berapa kali bagusnya memakai kamera. Itu semua harus Anda yang menentukan.

Yang ingin saya sampaikan disini, hanyalah menyimpan kamera dalam kotaknya, tidak akan menghasilkan apa-apa. Lebih baik memakainya sesering mungkin, sesuai dengan waktu dan kondisinya.

Terlalu banyak momen berharga yang akan terbuang tak terabadikan kalau kamera hanya disimpan.

Itu saja, Kawan yang ingin saya sampaikan. Tulisan ini dan beberapa foto yang diambil di wilayah Bogor ini merupakan perwujudan dari pemikiran yang saya sampaikan di atas.

Foto-foto ini adalah hasil dari sebuah kamera yang berfungsi sebagai kamera dan bukan sebagai jimat..:-D. Kamera saya meskipun kelas bawah, sebuah prosumer dengan sensor kecil, bisa membuat saya berbagi kehidupan di Bogor kepada Anda.

Bersedia kah Anda membagi sebagian momen berharga Anda kepada orang lain?

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.