Fotografi JalananFoto seorang anak jalanan sedang memainkan ukulelenya di pinggir jalan ini merupakan contoh yang sangat pas dengan istilah ‘Fotografi Jalanan‘.

Bukan karena sang tokoh kebetulan sedang berada di sebuah jalan di Bogor, tetapi karena ada beberapa unsur lainnya yang membuatnya bisa dimasukkan dalam genre fotografi tersebut.

Apa saja unsur yang ada di dalamnya, bisa dilihat dari penjelasan singkat di bawah ini.

Fotografi Jalanan atau Street Photography

Fotografi Jalanan sebenarnya adalah terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu ‘Street Photography“.

Istilah ini, secara sederhana, mengacu pada sebuah genre dalam fotografi yang merekam berbagai hal yang terjadi di “ruang publik”.

Kata “ruang publik” merupakan kata kuncinya. Meskipun pada genre ini ada kata jalanan, tidak berarti bahwa yang direkam oleh kamera hanyalah yang terjadi di atas jalanan saja. Bisa saja foto yang diambil adalah sesuatu yang tidak berada di jalan, tetapi berada di taman.

Hal tersebut bukanlah masalah, selama obyek fotonya berasal dari area umum dan bukan milik pribadi, maka hasilnya bisa dikategorikan sebagai fotografi jalanan.

Tidak ada definisi yang mutlak dan pasti tentang apa itu Fotografi  Jalanan, karena masing-masing orang biasanya akan memiliki pandangan yang berbeda tentang ‘street photographer’ tersebut

Apa yang direkam oleh seorang ‘fotografer jalanan’?

Seorang fotografer jalanan tidak memiliki batasan khusus selain apa yang ada di dalam istilah ‘ruang publik’. Ia bisa saja memilih untuk memotret hanya segi arsitektur, tanaman dan lain-lain yang sesuai dengan minatnya. Sama sekali tidak ada batasan tertentu.

Bisa juga ia merekam obyek berupa manusia dalam dengan berbagai bentuk tingkah laku mereka di area umum, atau wajah dan mimik mereka saja.

Tidak ada keharusan, meski beberapa fotografer jalanan melakukannya, mengkhususkan dirinya pada satu sisi saja.

Keunikan Fotografi Jalanan

Fotografi Jalanan Untuk Ngeblog

Ada satu ciri unik dari genre fotografi ini yang bisa dirangkum dalam satu frase saja, yaitu “APA ADANYA“. POLOS. SPONTAN.

Kehidupan dan keseharian, biasanya akan direkam sebagaimana adanya. Kalau seseorang sedang terlihat marah, maka emosi itu akan terekam pada foto yang diambil. Begitu juga berbagai tingkah laku manusia lainnya.

Hal itu bisa terjadi karena ketika seorang fotografer jalanan akan beraksi, mereka sendiri bahkan “belum” tahu apa yang akan menjadi sasaran lensa kamera. Seringkali bahkan tidak ada ide apapun yang ada di benaknya.

Biasanya, mereka akan mengandalkan pada insting dan mata untuk menemukan obyek ‘menarik’. Menarik dalam artian tak terbatas karena tergantung pada sudut pandang sang fotografer.

Pada saat ‘insting’ atau hati sang pemegang kamera merasa tertarik pada suatu hal, jari akan segera menekan tombol release di kamera.

Jadi, mayoritas street photographer tidak akan melakukan pengaturan gaya pada obyeknya. Sang obyek akan terekam apa adanya. Justru mereka akan menekankan pada ekspresi natural dari sang obyek.

Itulah yang membuat genre fotografi jalanan agak berbeda dengan genre-genre lainnya.

Siapa Yang Bisa Melakukan Fotografi Jalanan?

Semua orang bisa. Tidak ada batasan siapa yang boleh dan tidak boleh.

Apalagi dengan adanya smartphone, yang semakin dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi, maka bisa dikatakan semua orang bisa melakukan fotografi jalanan.

Yang sedikit membedakannya adalah hasil, niat dan keahlian.

Penjual Gulali Di BogorTidak semua orang melakukan ‘stree photography’ karena hobi memotret. Bisa jadi hanya saat mereka kebetulan sedang membawa kamera, seseorang merasa tertarik pada suatu momen.

Sisi ini lah yang membedakan antara seorang yang sekedar iseng dengan seorang yang memang ingin menjadi fotografer jalanan. Dari luar, orang tidak akan bisa membedakan keduanya.

Begitu juga dengan hasilnya. Banyak hasil jepretan kamera seseorang yang benar-benar ahli dan menekuni genre ini akan bernilai seni tinggi. Ide yang ingin disampaikan oleh si pemotret akan tercermin dalam foto hasil jepretannya. Berbeda dengan yang dilakukan sekedar iseng, karena biasanya orang yang iseng tidak akan memiliki konsep tertentu dalam foto-foto mereka.

Hal seperti ini hanya bisa didapat dari ketekunan mereka yang mendalami genre ini. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh mereka yang tidak menekuninya.

Meskipun demikian, secara lahiriah, perbedaan ini sulit dibedakan dan semua hasil karya di ruang publik ini tetap bisa dimasukkan dalam kategori Fotografi Jalanan.

——-

Dalam kaitannya dengan ‘ngeblog‘, mungkin kalau Anda sudah membaca beberapa artikel lainnya di Lovely Bogor, pasti Anda bisa menemukan begitu banyak foto. Bahkan, dalam satu artikel terkadang ada 10 foto.

Kalau Anda lebih seksama , Anda tidak akan menemukan sebuah obyek dengan gaya tertentu. Apa yang ditampilkan dalam foto-foto di LB adalah apa adanya. Foto jalan, rumah, sampah, kesemuanya memang pada kenyataannya seperti itu saat dipotret.

Memang sejak awal, LB memegang konsep “APA ADANYA”. Yang bagus akan dibilang bagus. Yang jelek akan ditulis jelek. LB memang menekankan untuk menyampaikan yang ada di Kota Hujan ini sebagaimana terlihat.

Oleh karena itu foto-foto yang diambil diusahakan akan mewakili apa yang dterkait pada suatu tempat, atau suatu waktu. Tidak ada rekayasa saat pengambilan gambar.

Mengayuh Gerobak Roti - Bogor Hitam Putih
Pedagang Roti Di Jalan Juanda

Sebenarnya foto-foto tersebut diambil, dengan niat hanya sebagai penunjang cerita. Tidak lah menarik sebuah tulisan kalau tidak dilengkapi dengan gambar atau foto. Tujuan utamanya , bukanlah sebagai sebuah usaha sengaja untuk melakukan apa yang dinamakan fotografi jalanan.

Hanya ternyata, semakin lama ngeblog dengan pola penulisan seperti ini ini, saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah bentuk fotografi jalanan.

Selain itu pengalaman menunjukkan bawah kekuatan gambar bukan hanya bisa menjadi penunjang sebuah tulisan (sangat jauh dari anggapan hanya sebagai sebuah pemanis belaka seperti seorang pernah bilang). Justru sebuah foto bisa menjadi kunci utama sebuah artikel dan kata-kata di dalamnya sebagai penunjang.

Hasilnya, saya tidak pernah mengalami yang namanya kekurangan ide. Dengan begitu banyaknya koleksi hasil “berburu” momen-momen menarik di jalanan ala fotografer jalanan mulai terasa memberikan keuntungan saat ini.

Saya memiliki ribuan foto . Bila diumpamakan setiap foto akan mengandung paling tidak satu cerita, maka berapa puluh atau ratus bahan cerita yang tersedia.

Yang perlu diperlukan adalah menambahkan tulisan-tulisan untuk melengkapinya . Meskipun sebenarnya, di tangan seorang fotografer jalanan yang sudah ahli, tidak diperlukan tulisan atau artikel. Sebuah foto adalah sebuah cerita.

Sebagai contoh sederhananya adalah beberapa foto hasil berkelana di jalan-jalan (ruang publik) yang ada di Bogor dalam artikel ini. Tukang becak, pedagang roti, anak jalanan masing-masing membawakan cerita mereka. Saya hanya perlu menyajikannya dalam sebuah tulisan . Dengan begitu banyak foto, ada begitu banyak hal untuk diceritakan kepada pembaca.

Mengapa foto-foto tersebut dianggap layak diceritakan kepada khalayak pembaca ?

Tentu saja. Mereka adalah bagian dari Bogor. Mungkin, banyak yang lebih suka menulis tentang yang indah-indah di lokasi wisata (saya juga menyukainya). Ada yang suka memajang kenikmatan kuliner saja.

Hanya, saya ingin menceritakan Bogor ‘apa adanya‘. Baik atau buruk hanyalah tentang sebuah sudut pandang. Bagaimana mengartikannya adalah hak para pembaca. Kemungkinan besar akan berbeda dengan apa yang saya ingin sampaikan, tetapi itu bukanlah sebuah masalah besar, selama Anda menyukainya. Perbedaan adalah sebuah hal yang wajar.

Berjalan Kaki Di Jalan Dewi Sartika BogorLagipula hidup tidak selamanya indah dan enak. Pasti ada bagian-bagian kehidupan yang pahit dan tidak menyenangkan. Mengapa harus malu menceritakannya selama hal tersebut tidak melanggar aturan dan norma.

Terus terang, saya merasakan dorongan yang semakin besar untuk meneruskan cara ngeblog ini. Ternyata ada juga genre fotografi yang cocok dengan ide LB. Sebenarnya, bukan hanya cocok, bisa dikatakan merupakan bagian yang saling berhubungan dengan cara ngeblog yang saya inginkan.

Sesuatu yang patut disyukuri.

 

Itulah manfaat dari fotografi jalanan dalam ngeblog (paling tidak buat saya)

Jadi, bila Anda sama dengan saya, seorang ‘blogger kota’, jangan ragu untuk memotret peristiwa-peristiwa yang Anda anggap menarik. Itu adalah sumber ide bagi tulisan berikut Anda.

Siapkan kamera atau smartphone Anda setiap saat karena kadang momen-momen lucu, menyebalkan akan melintas di depan mata. Jangan sampai ‘ide-ide’ bagus itu lewat begitu saja tidak terekam.

Saya seringkali merasa menyesal karena ketidaksiapan dalam mengambil foto.

(Bolehkah saya bertanya, apakah foto-foto di tulisan ini menarik ? Kalau menurut Anda, berapa nilai yang didapat untuk foto-foto ini ? 5-6-7? Bisa berikan nilai di kolom komentar?)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.