Delman
Delman di jalan Juanda Bogor

Suara benturan besi di kaki kuda yang biasa menyertai ketika sebuah delman lewat semakin jarang terdengar di kota Bogor.

Kendaraan tradisional ini sudah sejak lama ditinggalkan oleh para penghuni Bogor sebagai sarana transportasi. Perannya sudah digantikan oleh sang raja jalanan Bogor, angkot.

Populasinya di Bogor sendiri tinggal beberapa gelintir saja. Kehadirannya semakin tidak terlihat di jalan-jalan kota Bogor.

Menang ada beberapa hal tak terelakan yang membuat peran delman semakin menipis sebagai sarana transportasi.

Alasan menghilangnya delman

 

Lamban

 

Tentu saja bila dibandingkan sebuah angkot, transportasi umum utama di Bogor, yang memiliki puluhan tenaga kuda, maka delman sangatlah lamban.

Satu tenaga kuda penarik dibandingkan mesin 1300 CC tidaklah sebanding. Angkot bisa membawa penumpang jauh lebih cepat.

Delman
Delman di dekat Istana Bogor

 

Mahal

 

Dengan Rp. 3,500.- per orang , seorang warga Bogor bisa menempuh jarak yang lebih jauh daripada Rp. 20,000-30,000.- per delman. Mengapa mereka harus naik delman?

Sebuah pemikiran yang wajar dan tentu saja tidak bisa dinafikan . Apalagi dalam sebuah masyarakat modern dimana perhitungan ekonomi menjiwai keseharian hidup.

 

Kotor

 

Bukan kudanya yang kotor. Hanya saja sebagai hewan seekor kuda penarik delman tentu saja tidak akan mengerti bahwa membuang kotoran sembarangan bukanlah hal yang sopan.

Sayangnya , sang sais atau pemilik delman sering tidak mengindahkan bahwa kotoran yang dibuang kudanya selain tidaklah higienis juga menyebarkan bau tak sedap.

Kotoran kuda yang berserakan juga membuat pemandangan kota menjadi kotor dan tidak indah.

 

Minat masyarakat

 

Delman
Delman di Bogor

Lamban, mahal, dan kotor, ujungnya menggerus minat masyarakat penghuni Bogor untuk mempergunakannya.

Tidak bisa disalahkan ketika sudah merupakan sebuah budaya masyarakat modern yang ingin cepat, cepat dan cepat tidak akan mampu dipenuhi oleh sebuah delman.

Duduk di belakang delman yang kadang tidak pandang waktu mengeluarkan kotoran tentu juga bukan sebuah hal yang menyenangkan.

Akhirnya, semakin sedikit orang yang ingin menaikinya.

 

Lahan yang menghilang

 

Bogor yang semakin menjadi kota metropolitan pun menyumbang dalam menghilangnya delman dari bumi Pasundan ini.

Lahan yang dulu menghasilkan persediaan makanan bagi para kuda penarik delman pun sudah berubah wujud. Bangunan-bangunan beton sudah berdiri diatasnya dan tentu saja bangunan beton tidak bisa menghasilkan rumput.

Delman di Bogor

Kuda penarik delman tidak bisa makan semen dan tanaman hias di taman (karena pasti terlalu mahal).

Ujungnya biaya perawatan seekor kuda tidak lagi murah. Bila harus membeli makanan buatan pabrik tentu sang sais tidak akan punya sisa untuk dapur.

—–

Alhasil semua itu berujung pada surutnya penghasilan pak sais. Surutnya pemasukan membuat generasi penerus, yaitu anak-anak sang kusir delman tidak lagi melihat profesi sebagai sais menjanjikan bagi masa depannya.

Generasi yang terkait dengan delman (seperti) terputus disini.

Meskipun demikian, hilangnya kendaraan tradisional ini dari Bogor bukanlah hal yang diinginkan.

Setelah entah berbagai jenis hal berbau tradisional sedikit demi sedikit menghilang, sebagian warga Bogor tidak rela kehilangan kereta berkuda ini.

Nuansa tradisionalnya memang memberikan sebuah ciri khas tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.

 

Bisakah keberadaan delman dipertahankan

 

Delman di Bogorterlihat sulit , sebenarnya banyak koda di dunia menunjukkan bahwa keberadaan kendaraan jenis ini bisa dipertahankan.

Sulit ! Tetapi bukan tidak mungkin.

Bisa disebut New York dan London , dua kota diantaranya. Kedua kota ini masih memelihara keberadaan kereta berkuda di kota. Padahal keduanya adalah kota metropolis.

Meskipun demikian kemasan delman di kedua kota ini berubah. Kereta berkuda difokuskan sebagai sebuah sarana wisata.

Tentu memberikan kesan tersendiri bagi para pengunjung untuk berkeliling kota , melihat pemandangan di kendaraan terbuka.

Sebuah konsep yang sepertinya secara tidak sadar, sudah dilakukan oleh para sais di Bogor.

Penampakan delman lebih banyak dari hari biasa menjelang akhir pekan atau libur. Kehadiran mereka sering terlihat di jalan Juanda , dekat Istana Bogor.

Biasanya mereka akan membawa penumpang dan wisatawan  berkeliling sekitar Istana Bogor dan Kebun Raya. Tentu secara naluri, disadari oleh para sais bahwa mereka yang sedang berwisata bersama keluarga tak akan segan mengeluarkan uang lebih.

Bogor
Delman diantara angkot

Konsep dasar yang sebenarnya bisa dikembangkan dan didukung oleh Pemerintah Daerah kota Bogor.

Dukungan pemerintah bisa berupa usaha meminimalisir kelemahan sebuah delman , perawatan kuda serta penetapan tarif yang wajar dan menguntungkan sais dan penumpang.

Pemberian celana kuda dapat mencegah pengotoran jalan. Pembebasan biaya pemeriksaan hewan sebenanrya juga bisa diberikan untuk mencegah berkurangnya populasi kuda penarik.

Hal-hal yang sangat pantas dilakukan untuk mencegah punahnya lagi sebuah unsur tradisional dari Bogor.

Tentu kita tidak ingin , bila suatu waktu kita mengajarkan anak atau cucu kita lagu ciptaan ibu Sud, Naik Delman, tapi hanya bisa menunjukkan foto atau gambarnya dari website ini.

Bukankah begitu ?

…. Tuk tik tak tik tak tik tuk .. suara s’patu kuda….Pada hari minggu kuturut ayah ke kota……Naik delman istimewa kududuk dimuka…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.