http://www.lovelybogor.com/belajar-dari-pemain-liong-dan-barong-say/

Lebih! Lebih dari sekedar hanya pesta hura-hura tanpa tujuan. Cap Go Meh Bogor atau yang juga dikenal sebagai CGM Bogor Street Fest adalah sebuah ajang yang lebih luas daripada itu.

Saya memandangnya sebagai sebuah ajang interaksi antar manusia, bukan hanya warga Bogor.

Sulit untuk membayangkan dimana manusia-manusia yang banyak diantaranya tidak saling kenal sebelumnya bisa saling melemparkan senyum dan kemudian berbincang dan bercanda bersama. Mereka yang bahkan pada saat bertemu, hingga saat berpisah tidak saling mengenal namanya bisa berbincang dengan akrab.

Tidak ada yang menanyakan apa agamanya. Tidak ada yang menanyakan berasal dari suku apa.

Semua larut dalam kegembiraan dan keakraban.

Para penonton berteriak kepada para fotografer untuk difoto dan dibalas dengan senyum dan semangat yang sama oleh para fotografer. Mereka mengarahkan kameranya ke arah penonton.

Pak polisi. walau kumisnya membuat tampak garang dan galak, justru dengan senyum bersedia melakukan wefie. Keluarga Tionghoa tanpa diminta menyediakan minuman bagi siapapun yang merasa haus.

pak polisi ramah di cap go meh bogor

Bukan hanya para peserta aksi 112 di Istiqlal, Jakarta (pada hari yang sama) yang bisa melakukannya.

Mereka yang berada di sepanjang Jalan Suryakencana Bogor pun melakukannya. Tanpa komando, tanpa keterpaksaan. Mereka semua larut dalam kegembiraan bersama.

Semangat kebersamaan tumbuh dan seperti diberi pupuk dengan subur disana.

Itulah saya rasa yang diharapkan oleh penyelenggara acara ini. Kebersamaan yang dirasakan oleh semuanya. Sesuatu yang diharapkan di kemudian hari bisa mempererat persatuan dan kesatuan bangsa ini, paling tidak di Bogor.

Sesuatu yang bisa menjadi dasar bagi kemajuan kota ini, bangsa ini di kemudian hari.

O ya bukan tanpa tantangan.

Banyak ucapan nyinyir yang diterima terhadap acara ini. Bahkan, Lovely Bogor yang sekedar menuliskannya pun tidak luput dari kata-kata bernada rasis seperti itu.

Beberapa hari yang lalu, ada beberapa komentar nyinyir bernada SARA yang mampir ke kolom komentar. Setelah melalui pertimbangan, komentar-komentar bernada rasis itu diputuskan untuk dimasukkan ke tong sampah. Padahal sebelum ini, admin selalu membiarkan pemikiran yang bertentangan sekalipun terbit karena dapat memperkaya sudut pandang.

Tetapi, setelah dipikir-pikir, komentar-komentar bernada rasis itu tidak akan memberi manfaat bagi orang lain. Oleh karena itu harus dianggap sebagai sampah dan tempatnya memang harus ada di tong sampah.

Itulah tantangan yang dihadapi Bogor dewasa ini dan tercermin dari sikap sebagian masyarakatnya yang masih tidak bisa menerima perbedaan.

Meskipun demikian, melihat interaksi antar manusia di CGM Bogor yang baru berlalu, rasa optimis hadir bahwa suatu waktu kebersamaan yang dirajut dalam acara tersebut akan bisa berbuah manis di kemudian hari.

Semoga.

3 COMMENTS

  1. EKPRESI wajah dan prilaku pada Gambar yang dipasang pada tulisan ini, sudah cukup membuat saya memahai bahwa acara tersebut..sangat membuat Masyarakat disana antusias dan larut dalam kegembiraan.

    tapi saya belum lihat…fhoto Pak Anton lagi jepret ? apa nyusul yach Pak…hehe.

    • Ysh… kslu foto saya tampil, nanti justru pada kabur dan acara tidak memikat lagi deh.. heuheuheu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.