bahasa sunda

Wilujeng wengi sadayana. Hatur nuhun pisan tos dongkap ka rorompok kuring. Upss.. maaf kalau pembuka tulisan ini memakai bahasa yang mungkin idak anda mengerti artinya.

Dua kalimat penyambut tersebut diambil dari sebuah bahasa yang dulunya merupakan salah satu ciri khas dari Kota Bogor, yaitu Bahasa Sunda. Arti kedua kalimat tersebut adalah “Selamat Malam. Terima kasih sudah singgah di tempat kediaman saya”.

Kalimat-kalimat dalam Bahasa Sunda tersebut dahulunya mencerminkan banya hal. Dulunya Bogor adalah sebuah kota yang didominasi oleh masyarakat Sunda.

Di setiap pelosok kota ini, ketika itu Bahasa Sunda dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua orang akan mempergunakannya ketika bercakap-cakap dengan tetangga hingga ketika melakukan jual beli di pasar. Semua aktifitas sehari-hari akan selalu diwarnai oleh bahasa daerah Jawa Barat tersebut.

Saya katakan “dulu”. Dulu memang begitulah adanya. Kota ini bercirikan budaya suku Sunda. Bahkan ketika saya pertama menginjakan kaki di tahun 1978, masyarakatnya masih sangat kental dengan budaya ini. Bahasa Sunda merupakan ciri khas budaya yang dianut oleh masyarakat Bogor.

Sayangnya belakangan ini, terlihat sekali telah terjadi perubahan dalam kehidupan di Kota Hujan ini.

Bila Anda memasuki sebuah rumah makan, apalagi yang berada di mall atau shopping center, tidak akan terdengar lagi sambutan seperti Wilujeng Sumping (Selamat Datang). Bisa jadi, justru Anda akan mendengar pelayan mengatakan “Irrasshaimase” ala Jepang. Tidak percaya? Silakan anda kunjungi Ichiban Sushi atau Han Suki.

Begitu pula bila yang didatangi adalah tempat-tempat kuliner lainnya atau juga factory outlet, yang menyambut kedatangan Anda, jarang sekali yang menggunakan Bahasa Sunda. Mereka akan mengatakan “Selamat Datang”.

Penggunaan bahasa Indonesia, bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya akan lebih sering terdengar. Padahal kota ini merupakan kotanya “Urang Sunda” (Orang Sunda). Aneh kan? Padahal sampai saat ini, masih banyak orang yang mengenal Bogor sebagai kotanya masyarakat Sunda, tetapi mengapa bahasa Sunda sebagai ciri utamanya justru tidak lagi terdengar.

Bahasa Sunda

Mengapa Bahasa Sunda seperti menghilang dari negerinya sendiri?

Ada beberapa hal yang menyebabkan bahasa Sunda bak tersingkirkan di kotanya sendiri. Mengapa masyarakatnya sendiri seperti berpaling dari bahasa yang satu ini.

1. Intensnya kontak budaya dengan Jakarta

Setiap harinya, ratusan ribu warga Bogor pergi ke Jakarta untuk mencari nafkah. Kepergian mereka ke ibukota ini sepertinya hal yang sederhana dan tidak berpengaruh sama sekali.

Padahal secara budaya hal ini memberikan pengaruh yang sangat besar bagi perubahan di dalam masyarakat Bogor sendiri. Mereka yang bekerja di Jakarta untuk sementara bak terlepas dari akarnya di Bogor. Mereka bergaul dalam dunia dimana budaya Sunda yang mereka anut harus dilepaskan setiap harinya.

Para pekerja ini secara tidak sadar harus masuk ke dalam budaya Indonesia setiap harinya. Mereka dipaksa kebutuhan untuk berbicara dalam bahasa Indonesia dibandingkan bahasa mereka sendiri. Kalau hanya sekali dua, maka tidak akan memberi pengaruh terlalu dalam, tetapi bila setiap hari, maka budaya Indonesia meresap semakin dalam ke dalam diri mereka.

Hasilnya, budaya Sunda sedikit demi sedikit tergantikan posisinya oleh budaya metropolis ala Jakarta/Indonesia.

Selain itu berubahnya Kota Bogor menjadi sebuah kota wisata memaksa masyarakatnya menyesuaikan diri dengan kebutuhan wisatawan. Sudah lazim bahwa untuk menjual produknya, toko-toko di Bogor harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh pengunjung. Jadi mereka secara tidak langsung dipaksa menanggalkan baju “Sunda” mereka ketika berhadapan dengan para wisatawan.

2. Masyarakat asli Bogor semakin terpinggirkan

Faktor ekonomi merupakan alasan utama bagi terpinggirkannya masyarakat pengguna bahasa Sunda di Bogor.

Perkembangan Jakarta yang sedemikian pesat membuat harga tanah di ibukota semakin tak terjangkau oleh banyak orang. Sementara itu kebutuhan akan tempat tinggal terus mendesak. Dengan alasan inilah, orang-orang di Jakarta, yang notabene bukan berasal dari suku Sunda mengalihkan pandangan ke Bogor.

Meskipun mereka tidak mampu membeli rumah yang semakin tinggi harganya di Jakarta, daya beli mereka masih lebih kuat dibandingkan kebanyakan warga Bogor. Apalagi bila dibandingkan dengan masyarakat asli Bogor. Dengan daya beli tersebut mereka membeli rumah-rumah, atau lahan yang dulunya milik warga pengguna bahasa Sunda.

Nah, mereka ini kemudian tinggal dan menjadi warga Bogor. Sementara itu, orang asli Bogor yang lahannya dibeli harus pindah lebih ke pinggiran dimana harga tanahnya masih bisa mereka jangkau.

Oleh karena itu tidak heran kalau di Kota Bogor sendiri, masyarakatnya sangat heterogen. Berbagai suku bisa ditemukan di Bogor, bahkan banyak daerah sudah memiliki ciri khas sesuai dengan suku asalnya.

Bahasa Sunda

3. Bahasa Sunda tidak “menarik”

Tidak menarik dalam artian bahasa Sunda tidak menawarkan sesuatu yang istimewa. Hal ini berkaitan dengan pola pandang baru yang dianut terutama oleh generasi muda di Bogor.

Berbeda dengan bahasa Inggris yang kian dicari dan menjamur pemakaiannya, bahasa Sunda tidak memberikan nilai jual lebih. Kalau bahasa Inggris seperti menjadi kunci ilmu pengetahuan dan dunia luas, bahasa Sunda hanya menawarkan pergaulan terbatas. Hal ini tidak menarik bagi generasi muda yang lebih suka mengidentifikasi diri sebagai warga dunia daripada hanya sekedar warga Bogor.

Ditambah dengan metode pengajaran bahasa Sunda di sekolah-sekolah yang terkesan seadanya dan tidak menarik, maka bahasa Sunda seperti tidak mampu bersaing.

Bahasa Sunda sulit bersaing terutama dengan berbagai bahasa asing yang mulai merasuki sendi kehidupan masyarakat. Contoh sederhananya adalah para orangtua di Bogor akan mendorong anaknya untuk pergi kursus bahasa Inggris dibandingkan mempelajari bahasa Sunda. Kursus bahasa negeri Ratu Elizabeth ini ada dimana-mana di Bogor, tetapi tidak ada kursus bahasa daerah Jawa Barat ini.

Paling tidak itu tiga hal yang paling berpengaruh terhadap semakin tersingkirnya bahasa Sunda dari kota ini.

Apakah hal tersebut perlu dikhawatirkan? Apakah ada solusinya?

Kalau saya lebih memandang hal tersebut sebagai sebuah kewajaran. Dimanapun memang sedang terjadi perubahan. Banyak bahasa daerah di berbagai belahan dunia mengalami hal yang sama.

Masalah yang mereka hadapi pun sama. Budaya yang lama cenderung dianggap obsolete alias kuno dan tidak menarik oleh generasi berikutnya. Oleh karena itu budaya, termasuk didalamnya bahasa, akan terpengaruh oleh perubahan pola pandang baru dalam masyarakat.

Termasuk bahasa Sunda.

Bila para pendukung bahasa Sunda di Bogor tidak mampu merubah pola pandang masyarakat, terutama generasi muda penerus, maka hasilnya sudah bisa diprediksi. Bahasa Sunda akan terus tersingkir dan akan semakin menjauh dari kehidupan di Bogor.

Pemerintah Daerah Bogor telah menggulirkan Gerakan Rebo Nyunda untuk mencegah semakin hilangnya kebudayaan Sunda dari Bogor, termasuk bahasanya. Meskipun demikian, hal tersebut bersifat defensif dan terbatas.

Pemerintah dan warga Bogor pendukung budaya Sunda harus lebih agresif dalam memasarkan budaya dan bahasa Sunda pada warga Bogor. Mereka harus bisa membangkitkan kebanggaan berbudaya Sunda dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan berbagai kegiatan berbau budaya Sunda (yang sayangnya sangat minim di Bogor) secara rutin. Even-even komersial pun harus dikemas dalam bentuk budaya Sunda, seperti yang dilakukan banyak kota.

Tanpa usaha konsisten dan kreatif, maka sulit sekali menghadang laju invasi budaya lain ke dalam kehidupan masyarakat di Bogor. Kalau hal ini terus berlanjut, bisa dipastikan 10-20 tahun mendatang, maka dominasi warga pengguna bahasa Sunda akan semakin mengecil. Akibatnya, bahasa yang satu ini juga akan semakin menghilang dari Bogor.

Leres teu kang, teteh? Mangga atuh urang nyarios basa Sunda sapopoe?

Wilujeng wengi sadayana.

19 COMMENTS

  1. Abdi ti Bandung tapi kabupaten na sanes kota, teu acan kantos ka bogor, tapi maca artikel ieu mani asa hariwang basa sunda janten ka sered, boboraah di kota, di kampung wae ge sok aya nu gengsian nyarios basa sunda. Pajarkeun mah basa sunda teh kasar, pan ari basa Indonesia mah lempeng we teu kasar teu lemes. Di kampung wae aya nu kitu, komo deui atuh di kota. Mudah-mudahan we atuh sipat gengsi urang sunda nyarios sunda teh teu aya deui.

    • Yah… perkembangan jaman kang.. mau tidak mau. Tetapi itulah kenyataannya..

  2. Simabdi kawit ti sukabumi…sukabumi sareng bogor jarak na cakeut nanging bahasa na benten pisan????

    • Iyah.. Bogor sudah jadi mirip Jakarta Kang..:-D

  3. Muhun leres pisan kang, abdi ti Bandung.
    Karaos pisan bentenna upami nyarios sareng urang Bogor, kumaha kita asa rada kagokeun upami diajak cumarios ku basa sunda teh

    • Atuh kumaha akang.. urang Bogor ge sok rada kagok upami nyarios Sunda sareng urang Bandung. Da lemes pisan. Upami Sunda Bogor pan heuras genggerong, rada kasar kitu.

      Abdi ge sok isin upami kapendak sareng urang ti Bandung. 😀

      • Assalamualaikum, ngiring komen ah..
        Abdi pas basa awal2 di Bogor oge asa kumaha kitu pak, Sunda Bogor mah asa heuras genggerong teu sapertos di Bandung..
        Tapi lama2 oge abdi ngartos pami Sunda Bogor mah emang kitu ti jaman kapungkur, tidak terlalu berpegang pada undak usuk bahasa Sunda lemes – kasar layaknya bahasa Sunda di tanah Priangan, kesannya seperti letah aing kumaha aing weh, tapi ya begitulah keanekaragaman bahasa Sunda di Jawa Barat ini, ada yg halus ada yg kasar ada juga yg campur bahasa Jawa kayak di Cirebon dan Indramayu…
        Saya aja yg awalnya cuman ngikut eh makin kesini makin kebawa2 deh saya yg awalnya Sunda Bandung jadi Sunda Bogor… 😀
        Kadang sok jadi bahan ngaheureuy pas abdi mudik ka Bandung nyarios Sunda sareng kulawargi pun istri, “Tah eta urang Bogor asli” bari seuseurian… 😀
        Terlepas dari Sunda Bogor yg heuras genggerong, saya jg berharap semoga Sunda Bogor tetap menjadi tuan rumah di Tanah Pakuan Pajajaran ini karena bagaimanapun jg Bogor adalah tempat berdirinya Kerajaan Pajajaran yg diwariskan untuk generasi mendatang…
        Tos ah cekap sakieu heula komentar ti sim kuring bisi panjang teuing, nuhun…
        Wassalamu’alaikum

        • Hatur nuhun pisan kang kangge komentar na…

          Sumuhun. Memang basa Sunda di Bogor mah rada benten sareng basa Sunda Cianjur atawa Bandung. Abdi ge tiasa nyarios Sunda diajar ku babaturan.

          Benar. Sayangnya, anak-anak zaman now sekarang sudah sangat jarang sekali mempergunakan bahasa Sunda dala kehidupan sehari-hari. Berbeda di jaman saya dulu, dimana saya bisa nyomot satu satu kata dari pergaulan.

    • hahahaha forza juga Kang Ramdani

  4. Hariwang pisan pak maca na ge

    • Muhun kang.. tapi ayana kitu.. kumaha deui

  5. Muhun kang, abdi oge hariwang..satuju pisan kedah dimumule ku urang, husus na mah nya ku urang sareng pamarentah Bogor.

    • Mangga atuh kang dimumule tina kaluwargi

  6. Ngadangu na oge meni matak ngahariwangkeun eta bogor teh anu sajarah na wilayah karajaan sunda dugi ka pajajaran ayeuna mah janteun betawi atau jawa
    Atanapi anu sames na ngangge bhs indonesia,, allhamdulilah abdi ti garut bhs sareng budaya sunda priangan timur masih keneh ngamumule budaya sunda malahan mah urang jawa urang cina atanapi urang batak jadi kabawakeun nyunda.. Pemkot atanapi pemkab bogor kedah nurutan bupati purwakarta anu janten pusat budaya sunda ayeuna.. Kebijakan na ngamumule budaya sunda.. Cikaracak ninggang batu laun laun janten legok,, sampurasun dulur ti garut

    • Benar kang. Pemerintah Bogor memang harus mengupayakan supaya Bahasa dan Budaya Sunda menarik masyarakat untuk menggunakannya. Tanpa itu akan sulit bagi budaya Sunda bertahan di Bogor karena semakin majemuknya masyarakat di kota hujan itu.

      Salam dari Bogor kang.

  7. Comment: BOGOR TANEUH WARISAN SUNDA PADJADJARAN, kalo di wilayah abdi mah SUNDA masih berkuasa kang, BOGOR TERTUTUP we, abeh sunda na teu di asingkeun

  8. Comment: bener tah,,,,,,,,,,, alhamdulillah di wilayah kuring bahasa sunda masih keneh jadi raja,, termasuk masyarakat na,,,,,,,,

    HIDUP NEGARA PASUNDAN

    • Iya kang.. saya berharap bahasa ini tetap bisa bertahan. Jangan sampai terus tersingkir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.