Rencana baru yang dikemukakan oleh Walikota Bogor, Bima Arya, pasti akan menghadirkan banyak rasa di dalam masyarakat penghuni Kota Hujan ini. “Kota Bogor tanpa angkot tahun 2022”, begitulah kata pria lulusan SMA Negeri 1 Bogor ini.

Menurut pernyataannya, jumlah angkot akan dikurangi secara alamiah dan bertahap. Tahun 2019 ini, 800 angkot tidak akan diperpanjang izinnya. Sehingga pada tahun 2022 nanti, seluruh 2400 yang terdaftar sekarang sudah “hilang”.

Pastinya, akan ada yang bernafas lega dan menyambut gembira rencana tersebut. Meski belum tentu terealisasi, setidaknya sudah ada wacana yang melegakan hati. Tidak sedikit warga Kota Bogor yang sebenarnya merasa gerah dan mulai sebal dengan transportasi umum yang hampir 40 tahun menjadi andalan kota ini.

Tidak terhindarkan rasa itu hadir mengingat di jalanan, banyak sekali tindak-tanduk para pengemudi angkutan umum berwarna hijau terang ini yang membuat bete. Bukan hanya penumpangnya saja yang kesal karena sering terlalu lama ngetem, tetapi juga pengguna jalanan lainnya karena sikap sradak sruduk dan tidak peduli aturan juga merupakan salah satu ciri khasnya.

Belum ditambah dengan panasnya telinga mendengar julukan sebagai Kota Sejuta Angkot.

Semua membuat pernyataan sang walikota itu mendapat banyak respons positif dari sebagian warganya sendiri. Banyak yang merasa bahwa angkot sudah seharusnya digantikan dengan transportasi umum lain yang lebih manusiawi dan nyaman tentunya.

Tetapi, tidak semuanya.

Hampir pasti pula, ada sebagian dari warga Kota Bogor yang kurang senang dengan rencana ini. Selain para juragan dan pengemudi angkot, ada sebagian warga yang merasa khawatir bahwa kota Bogor yang bebas angkot akan membuat mereka sulit untuk beraktivitas.

Dan, hal itu selalu menjadi polemik, seperti yang juga pernah terjadi beberapa tahun lalu, ketika wacana penghapusan angkot digelar.

“Terus, rakyat kecil seperti saya harus naik apa, kalau angkot tidak ada?” Seperti itulah kata-kata yang terungkap di banyak media sosial beberapa tahun lalu, dan rasanya pasti ada yang kembali mengungkapkannya terkait hal ini.

Kota Bogor Tanpa Angkot - Warga Harus Naik Apa C

Kota Bogor Tanpa Angkot : No Problem

Sebenarnya, kalau diamati, kalaupun angkot secara perlahan dihapus dari daftar transportasi umum, bukan sebuah masalah juga. Memang, saya bukan pengamat transportasi, tetapi pengamatan sendiri di jalan-jalan, angkot bukan lagi sesuatu yang vital dan tidak tergantikan.

Lebih jauh, lagi angkutan umum ini sebenarnya sudah bukan lagi favorit warganya. Banyak angkot terpaksa beroperasi dengan penumpang yang hanya 3-5 orang saja dari kapasitas 12 orang. Apalagi kalau sedang musim liburan sekolah, pengguna angkot akan menurun secara drastis.

Sejauh ini, warga Kota Bogor sudah banyak yang berpindah ke berbagai moda transportasi lain, dengan berbagai alasan. Beberapa alat angkutan yang belakangan umum dipakai dan bisa dijadikan pilihan saat Kota Bogor tanpa angkot tahun 2022 nanti ada di bawah ini :

1. Sepeda Motor (pribadi)

Berarti harus beli? Iya lah kalau tidak punya. Rasanya sepeda motor sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan hanya di Bogor, tetapi juga di Indonesia.

Memiliki sepeda motor adalah sebuah hal biasa dan mudah sekali dilakukan karena banyak tawaran pembayaran secara mencicil bisa dilakukan dengan uang muka yang rendah sekali.

Besar cicilanpun kalau dijumlahkan tidak akan berbeda jauh dengan ongkos naik angkot selama sebulan, bahkan bisa lebih rendah. Jadi, kenapa tidak?

Dan, ini sudah dilakukan masyarakat Kota Bogor yang terbukti dari jumlah sepeda motor yang sudah mencapai ratusan ribu.

2. Ojeg Online (Grab/Go Jek)

Yang ini juga sudah menjadi sesuatu yang umum 3-4 tahun terakhir. Kehadirannya, walau ditentang oleh banyak supir angkot dan ojeg pangkalan, semakin banyak. Kemudahannya dan ongkos yang masuk akal menjadikannya moda angkutan transportasi yang sudah dipilih banyak warga Bogor.

Jadi, kalau tidak ada angkot, hanya perlu install aplikasinya saja. Beres.

3. Bus

Beberapa jalan di Bogor masih dilewati angkutan bus antar kota yang sering juga mengangkut penumpang jarak pendek, seperti bus Pusaka jurusan Bogor Parung atau Tangerang yang mengangkut penumpang ke arah Terminal Barangsiang.

Bagi mereka yang tinggal di bagian Utara kota ini, bus ini lebih populer dan murah dibandingkan angkot yang mahal.

Apalagi kalau rencana Trans Pakuan kembali dihidupkan terealisasi. Pilihan akan semakin banyak.

Kota Bogor Tanpa Angkot - Warga Harus Naik Apa C4) Sepeda

Memang lumayan berat naik sepeda di Bogor, tetapi kenapa tidak. Hemat ongkos dan sehat.

Buat anak sekolah seharusnya tidak menjadi masalah karena dengan sistem zonasi sekarang jarak antara rumah dan sekolah lebih dekat. Seharusnya bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda.

5) Mobil (pribadi)

Salah satu penyebab angkot kosong , selain karena sepeda motor, juga karena banyak orang yang menggunakan mobil pribadi. Mereka tidak lagi merasa nyaman harus naik angkot.

Coba saja perhatikan di berbagai sekolah di Bogor, tidak sulit menemukan setiap paginya mobil berderet dan menurunkan anak sekolah. Parkiran di mall juga selalu penuh.

Kalau memang ada, pergunakan saja mobil sendiri. Toh, juga biasanya kalau sudah memiliki mobil pribadi, semakin jarang pula kita naik angkot karena jelas lebih nyaman dan bahkan kalau dihitung biayanya bisa lebih murah dibandingkan harus naik angokot.

Tidak percaya? Kalau sendiri jelas murah naik angkot, tetapi kalau 4 orang, ongkos angkot bisa lebih mahal dari uang untuk bensin dan parkiran.

6) Transportasi Massal Pengganti Angkot

Nah yang penting sebenarnya ini. Rencana Kota Bogor tanpa angkot itu tidak berdiri sendiri. Ada bagian dimana pak walikota mengeluarkan pernyataan juga bahwa akan disediakan sarana transportasi massal “pengganti”.

Dinas Perhubungan Kota Bogor juga sudah menyebutkan hal itu.

Bentuknya belum jelas dan masih dalam tahap pembahasan. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah trem. Pola ini sampai sekarang masih dipakai di berbagai kota seperti San Fransisco dan Melbourne.

Sayangnya, seperti biasa, pernyataan tidak dibaca dengan lengkap dan hanya sepotong-sepotong. Pastinya pemkot Bogor sudah berpikir tentang itu dan rasanya tidak mungkin angkot ditiadakan tanpa pengganti.

Bagaimanapun, tugas mereka adalah menyediakan fasilitas bagi warganya, termasuk transportasi umum.

Kota Bogor tanpa  angkot seharusnya tidak menakutkan dan juga harus dipandang sebagai sebuah langkah maju. Bukan kemunduran.

Sistem angkot sudah berada di kota ini hampir 40 tahun. Usia yang sudah terlalu tua untuk sebuah sistem dan sudah saatnya digantikan dengan yang lebih baru dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Lagipula, angkot bukan tanpa dampak negatif bagi kota ini.

Jadi, mungkin memang sudah saatnya kita mengatakan “Goodbye Angkot”. Terima kasih untuk semuanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.