Terminal Laladon merupakan sebuah tempat yang penting bagi transportasi antar Kota dan Kabupaten Bogor. Bagaimana tidak, disinilah titik perhentian terakhir bagi angkot dalam Kota Bogor dan merupakan titik awal bagi transportasi sejenis yang mengarah ke wilayah Kabupaten Bogor sebelah Barat.

Disinilah keduanya bertemu.

Disinilah warga Bogor yang hendak pergi ke wilayah di Kabutapen Bogor, seperti Kampus IPB Dramaga, atau tempat wisata Curug Cigamea harus transit dan berganti kendaraan.

Maklum, angkot dari dalam kota tidak diperkenankan melintasi lebih dari wilayah ini.

Terminal ini juga sempat menjadi kontroversi dan silang pendapat karena lokasinya hanya berjarak sekitar 1 kilometer saja dari terminal sejenis milik Pemda Kota Bogor, yaitu Terminal Bubulak.

Sekaligus, menunjukkan ego sektoral dan kurangnya koordinasi ternyata membuat fasilitas yang fungsinya sama dibangun berdekatan sehingga keduanya tidak bisa berfungsi maksimal.

Terminal Laladon berlokasi di jalan raya Sindang Barang, Kecamatan Ciomas, Desa Laladon. Posisinya berada di antara Pusat Ikan Hias dan Pasar Laladon (yang tidak berfungsi).

Beberapa angkot dalam kota yang bertujuan akhir disini adalah 02 Merah dan 03 Merah.

Dari terminal ini pula ada satu trayek yang lebih jauh dari angkot biasa. Angkot “khusus” ini bentuknya juga khusus karena menggunakan kendaraan jenis ELF dan memiliki trayek hampir ke perbatasan Jakarta, yaitu ke Cibubur dengan melewati Cileungsi. Rute terjauh dari semua angkot yang beroperasi di Bogor.

Terminal Laladon : Luarnya Ramai Dalamnya Kosong Dan Sepi

Terminal Laladon - Luarnya Padat Dalamnya Kosong Dan Sepi 3

Ada satu hal yang agak mengherankan di terminal Laladon.

Bukan tentang fasilitasnya. Secara teori, tempat ini memiliki fasilitas yang cukup bagi sebuah terminal angkot.

Laladon memiliki lahan luas yang bisa menampung ratusan angkot sekaligus. Namanya juga terminal sudah pasti harus memiliki tempat lapang untuk itu. Dan, terminal ini mempunyai hal ini.

Terminal Laladon - Luarnya Padat Dalamnya Kosong Dan Sepi 4

Lapang sekali.

Ditambah lagi, terminal ini memiliki tempat berteduh yang “cukup”. Penumpang yang sedang menunggu angkot tidak akan terkena hujan karena shelter untuk menunggu tanpa terkena tetesan air hujan. Bangunan permanen beratap genteng dan beralas keramik cukup nyaman untuk tujuan itu.

Terminal Laladon - Luarnya Padat Dalamnya Kosong Dan Sepi 9

Fasilitas lainnya adalah jalur untuk angkot keluar yang dimaksudkan agar tidak terjadi rebutan penumpang. Angkot bisa mendapatkan penumpang sesuai dengan urutan yang sudah ditentukan.

Shelter ini juga diberia payung agar penumpang tidak akan kehujanan kalau hujan turun.

Bahkan ada menara kontrol untuk petugas melakukan pengaturan.

Pokoknya lengkap. Semua fasilitas yang dipelrukan untuk menghasilkan terminal angkot yang nyaman bagi penumpang dan keteraturan bagi para pengemudi kendaraan tersedia disini.

Yang membuat jadi heran adalah kesannya sepi. Iya, sepi sekali di bagian dalam terminal Laladon. Lahan seluas itu hanya dipergunakan sebagai lahan parkir bagi beberapa angkot saja.

Hal itu bisa terlihat pada foto-foto di atas. Kosong meski tidka melompong.

jejeran angkot di terminal laladon
Jejeran angkot trayek Cibubur

 

Lalu kemana para angkot yang membuat Bogor terkenal sebagai kota sejuta angkot?

Jawabannya ternyata ada di luar terminal itu sendiri.

Berbeda dengan di bagian dalamnya, kepadatan terlihat di bagian luar terminal yang berbatasan dengan jalan raya.

Para supir angkot menjejerkan kendaraannya di luar gerbang terminal Laladon hingga mendekati pinggir jalan raya Sindang Barang. Tidak jarang terlihat angkot menaikkan penumpang dan menurunkan penumpang disana.

Sesuatu yang bahkan sering menyebabkan terganggunya arus lalu lintas di jalan tersebut. Oleh karena itu, tidak heran kalau titik di depan terminal ini menjadi salah satu titik paling menyebalkan saat berkendara disana.

Banyaknya angkot yang menaikkan dan menurunkan penumpang kerap menghambat laju kendaraan. Belum lagi mereka yang berputar tanpa memasuki terminal.

Situasinya akan membaik biasanya kalau ada petugas polisi yang mengawasi.

Bahkan, lebih lucu lagi, kurang lebih 200-300 meter ke sebalah Barat (ke kiri dari arah terminal) ada terminal bayangan untuk para angkot menunggu penumpang.

Lucu.

Pemerintah bersusah payah dan memakai uang rakyat untuk membuat keteraturan. Fasilitas disediakan untuk memberi “kenyamanan” bagi supir angkot dan penumpang. Semua itu disia-siakan.

Tetapi kalau mengingat karakter masyarakat Indonesia yang memang masih perlu belajar banyak tentang kedisiplinan, atau tidak malas dan egois, maka terminal Laladon yang luarnya padat dan dalamnya kosong nan sepi bisa dimengerti.

Penumpang terlalu malas untuk berjalan ke dalam terminal dan efeknya, supir angkot pun karena tuntutan perut merasa bagian dalam tidak akan menguntungkan bagi mereka. Jadilah, mereka lebih suka mangkal di luar dibandingkan di dalam terminal.

Sesuatu yang sangat disayangkan karena selain menyebabkan gangguan bagi pengguna jalan yang lain, uang rakyat yang dipakai membangun terminal menjadi sia-sia saja.

Mungkin suatu waktu, ketika masyarakat sudah sadar apa fungsi terminal dan manfaatnya bagi orang banyak, dan keteraturan, Terminal Laladon akan lebih ramai di bagian dalam daripada bagian luarnya.

Entah kapan hal itu akan terjadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.