Percayalah. Yang satu ini dulu pernah menjadi primadona dimana-mana, termasuk di Bogor. Orang-orang tidak segan untuk menunggu dalam antrian yang panjang demi sekedar beberapa menit bersamanya. Counter kue Syahrini atau Shireen Sungkar tidak akan mampu bersaing dengannya.

Namanya telepon umum koin. Bentuknya beragam sebenarnya, tetapi rata-rata tertempel pada sebatang tiang, berkanopi sederhana sekedar supaya penggunanya (atau perangkatnya tidak terkena hujan).

telpon umum koin kuno di pertigaan jalan pengadilan a

Di zaman tahun 1980-1990-an dimana handphone masih belum nongol ke bumi Indonesia dan jaringan pesawat telepon belum banyak terpasang, benda ini merupakan salah satu andalan bagi mereka yang ingin berkomunikasi.

Berbekal uang receh kepingan Rp. 100-500-an, mereka yang memerlukannya akan bersedia untuk menunggu. Antriannya terkadang panjang sekali karena kerap sebagian dirusak oleh tangan jahil.

telepon umum koin kuno di pertigaan jalan pengadilan b

Yang paling menyebalkan dalam menggunakan fasilitas telepon umum koin ini adalah ketika sedang butuh-butuhnya, di depan ada penelpon yang sedang pacaran.

Berapa lama waktu menunggu kadang bisa diduga dari kepingan uang logam yang diletakkan di atas telponnya. Kadang, kalau memang terpaksa, maka yang mengantri akan mendesak dan ngomel pada yang sedang pacaran supaya memutuskan pembicaaran.

Biasalah orang Indonesia, kalau ada fasilitas umum, sering dianggap milik sendiri dan tidak peduli pada kebutuhan orang lain.

Kerap terjadi “keributan” kecil karena hal itu.

telepon umum koin tua di jalan pengadilan c

Sangat berjasa bagi banyak orang.

Sayang sekali kalau melihat penampakan beberapa telepon umum koin yang masih tersisa di Bogor. Kondisinya bisa dikata mengenaskan dan sudah tidak beroperasi. Kedudukannya sudah tergantikan oleh smartphone dan perangkat komunikasi modern lainnya.

Padahal kalau saja tetap bisa terpelihara dengan baik, box telpon umum koin tua seperti ini bisa menjadi daya tarik tersendiri dan membuat Bogor berbeda. Selain tetap bisa bermanfaat, juga seperti di Inggir, telpon umum kunonya merupakan daya tarik bagi para wisatawan. Di beberapa negara maju lainnya pun, telepon umum koin tetap banyak beroperasi karena tetap saja terkadang membantu saat pulsa atau baterai habis.

Sayang juga.

(Lokasi : telepon umum koin di pertigaan jalan Pengadilan dan Dewi Sartika, depan Pasar Anyar/SDN Pengadilan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.