Sentra Kuliner Gang SelotTanyakan kepada Bima Arya! Tanyakan padanya punya kenangan apa di Gang Selot.

Bukan saya menyuruh Anda tidak sopan pada sang walikota Bogor periode 2014-2019, alias saat tulisan ini ditulis. Tetapi, saya cukup yakin bahwa ia memiliki cukup banyak kenangan di tempat ini.

Sama seperti saya.

Dimana dan apa menariknya Gang Selot?

Gang Selot adalah nama sebuah jalan kecil yang berada di sebelah kompleks sekolah SMP dan SMA Negeri I Bogor. Ujungnya bertemu dengan Jalan Juanda di dekat Gereja Ayam, alias Gereja Zebaoth.

(Kenapa nama itu disebut gereja Ayam, silakan baca : Gereja Zebaoth – Gereja Ayam)

Tempat ini sebenarnya tidak istimewa karena merupakan kawasan perumahan dan tidak terlalu panjang. Namanya juga hanya gang saja, bukan jalan raya.

Meskipun demikian ada satu sudut dimana akan membuat kangen banyak orang untuk terus dan terus kembali. Saya pikir pak Bima Arya pun akan pernah merasakan kangen untuk berkunjung ke sana.

Sentra Kuliner Gang SelotSebagai lulusan SMP dan SMA Negeri I Bogor, ia selama 6 tahun akan sering pergi ke sudut ini selama masa sekolahnya. Sudah pasti itu. Kalau ia tidak pernah melakukannya, justru heran.

Ujung gang Selot yang dimaksud berupa jejeran pedagang makanan, minuman dan jajanan. Letaknya tepat berada di bawah pohon kersen.

Disanalah biasanya gerobak pedagang berjejer. Disana pula para siswa SMP dan SMA Negeri I Bogor menghilangkan haus setelah pelajaran olahraga dengan segelas es kelapa. Disana juga mereka menghilangkan lapar dengan makan mie ayam atau sekedar tahu slawi. Tidak jarang juga dipakai untuk nongkrong pada saat ada jam bebas atau karena guru tidak hadir.

Yang tidak jarang juga, dipakai siswa yang sedang kasmaran untuk berdekatan dengan sang kekasih. Acap kali dipakai untuk “nembak” orang yang disuka.

Walau tidak keren, namanya juga lagi jatuh cinta, tempat ini menyaksikan entar berapa kata kali “saya suka kamu” dilontarkan.

Tapi itu dulu ya. Entah apakah masih seperti itu saat ini. Tetapi, kalau Anda kebetulan kenal dengan walikota Bogor, yang namanya saya sebut di atas, boleh lah ditanyakan padanya dengan siapa ia biasa makan tahu slawi di Gang Selot. Kalau sudah dapat jawabannya, tolong share disini ya.

Sentra Kuliner Sehat Gang Selot

Sentra Kuliner Sehat Gang Selot

Sentra Kuliner Sehat Gang Selot, itu nama barunya sekarang. Nama ini ditahbiskan pada Januari 2016 yang lalu oleh sang walikota, Bima Arya.

(Kira-kira apa yang ada di benak pak walikota yah saat meresmikan tempat ini. Mungkin kah terbayang seseorang yang pernah bersamanya? Maybe yes, maybe no. Ada yang bisa bantu tanyakan?)

Bentuknya memang sudah jauh berubah.

Bila 27 tahun yang lalu masih beralaskan tanah. Sekarang sudah berlantaikan lantai keramik yang mulus dan mengkilat. Tidak ada lagi gerobak dorong. Semuanya sudah digantikan dengan etalase kecil. Atapnya pun bukan sekedar plastik atau ranting pohon kersen, atapnya sudah lebih permanen.

Tidak ada lagi bangku kayu yang terkadang miring sebelah. Seperangkat meja dan kursi plastik membuat yang makan mie ayam bisa menikmatinya dengan tenang tanpa takut tiba-tiba tumpah karena bangku tiba-tiba miring.

Nyaman. Bersih.

Tentu saja, sebagai salah satu sentra kuliner sehat di Kota Bogor, selain di Jalan Bina Marga, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Bersih, nyaman hanyalah dua diantaranya.

Jajanan di Sentra Kuliner Sehat Gang Selot

Sentra Kuliner Gang Selot

Masih ada!

Maksudnya sisa-sisa jenis jajanan dari masa lalu masih bisa ditemukan di Gang Selot versi baru.

Dulu favoritnya adalah Tahu Slawi yang dijual si bapak berkumis yang biasanya ditemani si ibunya. Ini salah satu penganan yang bahkan hingga saat ini akan dicari para alumni dari kedua sekolah itu.

Juga, masih ada Mie Ayam dan Siomay. Tetapi, ada yang hilang. Es kelapanya tidak ada.

Kalau dilihat di Gang Selot versi baru, jenis jajanan yang dijual, jelas sekali, lebih banyak. Jumlahnya 2 kali lipat pedagang di masa lalu. Jenisnya pun beragam dan yang tradisional seperti tahu slawi sampai yang bercita rasa asing seperti Takoyaki dan Okonomiyaki.

Kalau sekilas yang teringat, saat mengunjungi Sentra Kuliner Gang Selot ini, jajanan yang tersedia disini ada

  • Bubur Ayam
  • Siomay
  • Mie Ayam Gang Selot
  • Tahu kress Pedas
  • Mie Bakso Pak Madun
  • Pisang Molen
  • Tahu Slawi
  • Takoyaki dan Okonomiyaki
  • Penjual kopi dan minuman

Masih ada beberapa yang tidak tercatat. Mungkin nanti kalau saya berkunjung kesana lagi, daftarnya akan dilengkapi.

Harganya sendiri terjangkau lah untuk anak sekolah zaman sekarang. Kalau diukur pada saat Bima Arya atau saya bersekolah disana, jelas tidak terjangkau. Kira-kira berada di antara Rp. 1000 (pisang molen) sampai Rp. 20000

Walaupun sudah menjadi sebuah sentra kuliner, harga jajanan pun sepertinya tetap mentargetkan para siswa di kedua sekolah yang berada di dekatnya sebagai pelanggan.

—-

Sentra Kuliner Gang SelotApakah kalangan umum boleh mampir kesini? Tentu saja. Tidak ada larangan untuk itu. Apalagi namanya sudah menjadi sentra kuliner.

Banyak alumni SMP dan SMA Negeri I Bogor yang akan selalu menyempatkan diri untuk mampir ke tempat ini. Meskipun sudah banyak bagian yang berubah wujud, tetapi pohon kersen, tahu slawi dan kenangan yang tersimpan bersama mereka tidak akan pernah terlupa.

Kenangan lucu canda bersama teman sambil menyeruput es kelapa, atau kenangan deg-degan saat mengunyah tahu slawi sambil melirik inceran, atau kenangan pahit bertengkar dengan pacar adalah sesuatu yang tidak mungkin terlupakan. Tidak semua manis saat itu, banyak yang pahit, tetapi ketika hadir di tempat itu sekarang, semua menjadi terasa menyenangkan, lucu dan manis.

Itulah mungkin yang membuat saya kembali kesana beberapa hari yang lalu. Sedikit memanfaatkan waktu luang untuk menjelajahi kembali sebuah tempat yang dulu pernah begitu lekat dalam kehidupan. Sedikit menjadi melankolis dengan bernostalgia tentang masa yang telah lalu.

Saya cukup yakin, pak Bima Arya, yang kalau menurut data merupakan adik kelas saat itu, juga merasakan hal yang serupa.

Kangen. Kangen terhadap tahu slawi, es kelapa, mie ayam dan tentunya pada berbagai hal manis yang pernah terjadi . Sesuatu yang saya rasa sedang dibangun oleh banyak ABG yang melihat saya dengan heran ketika mengambil foto-foto tempat ini.

Suatu waktu mereka, rasanya, akan merasakan dan melakukan hal yang serupa dengan yang saya lakukan. Mungkin sekali, suatu waktu, di masa yang akan datang, akan ada artikel serupa dari mereka tentang Gang Selot, meski dalam judul yang berbeda.

2 COMMENTS

  1. Dulu tahun 1989, mobil masih bisa lewat gang selot, sepertinya sekarang kalo kesana gak bisa, mau nostalgia kalo mobil parkir dimana ya ?
    (Alumni SMPN 1 tahun 1992)

    • Masih bisa lewat kang.. cuma kalu parkir mah ga mungkin. Biasanya bisa ditaruh di ruko yang sebelah balaikota. Aman ga nyusahin orang atau di taman topi. Jalan dikir biar sehat.

      Jangan depan smp 1 ya kang ada tanda larangan parkir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.