Pasar Bogor
Pedagang di jalan Roda Pasar Bogor

Pasar Bogor sebenarnya tidak berbeda dengan banyak pasar tradisional lainnya. Berbagai ciri khas pasar tradisional terdapat juga disini. Hal-hal seperti semrawut, macet, tidak tertib dan sejenisnya terlihat jelas.

Yang membedakannya dengan pasar-pasar lain yang ada di kota hujan ini adalah sejarah yang pernah ada disini.

Pasar Bogor adalah pasar pertama di kota hujan

Pasar ini berdiri di sekitar tahun 1770 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Belanda bernama Petrus Albertus van Der Parra. Dia menjabat sejak tahun 1761 sampai 1775.

Dilihat dari tanggal berdirinya maka Pasar Bogor jauh lebih tua dibandingkan dengan Pasar Anyar. Selisih satu abad lebih antar keduanya.pasar tersebut

Sejarah berdirinya Pasar Bogor

Ada dua hal yang berkaitan dengan awal mula berdirinya Pasar Bogor.

Yang pertama adalah peristiwa pembantaian etnis Cina atau Tionghoa di Batavia tahun 1740. Korbannya mencapai 10,000 orang dari etnis tersebut dan mengakibatkan eksodus warga etnis Cina dari Batavia. Salah satu tujuan pengungsian mereka adalah Bogor. Untuk pengawasan akibat apa yang terjadi di Batavia, kelompok etnis Cina tersebut dilokalisir di kawasan sekitar yang sekarang bernama Jalan Suryakencana.

Yang kedua adalah berdirinya pesanggrahan Buitenzorg, atau yang dikenal sekarang dengan Istana Bogor tahun 1745. Menyesuaikan dengan nama Buitenzorg yang berarti “Tanpa Kecemasan” atau “Tempat yang tenang”, Gubernur Jenderal Belanda melarang aktifitas ekonomi di Bogor selain untuk warga Eropa.

———

Pada sekitar tahun 1745-1750-an, pemukiman pribumi terus berkembang dan membutuhkan lahan. Sementara lahan di sekitar pesanggrahan Buitenzorg, yang dimiliki gubernur jenderal Belanda masih banyak yang kosong. Akhirnya sebagian disewakan kepada pribumi.

Pasar Bogor
Pemandangan Pasar Bogor di pagi hari dari arah jalan Suryakencana

Akhirnya , perkampungan pertama berdiri di tahun 1752, yang bernama Kampeong Bogor, lokasinya ditengarai berada di yang sekarang menjadi Taman Meksiko di Kebun Raya Bogor. Terpisah hanya oleh jalan Otto Iskandardinata dan pagar Kebun Raya

———

Perkembangan pesat di kawasan ini mencuri perhatian Gubernur Jendral Belanda tahun 1761-1775 Petrus Albertus van der Parra. Perhatianya berkaitan dengan masih banyaknya lahan kosong milik Belanda.

Penyewaan lahan kepada pribumi (walau bukan untuk tujuan ekonomi) ternyata menghasilkan pemasukan yang besar bagi pendahulunya. Hal yang mengilhami van der Parra untuk menyewakan lebih banyak lagi lahan tak terpakai dengan harapan pemasukan akan lebih besar lagi.

Demi tujuan itu , sang gubernur akhir mengundang semua orang (termasuk pribumi) untuk menyewa lahan di sekitar Buitenzorg. Penyewaan tanpa batasan bahkan untuk kegiatan perekonomian yang sebelumnya dilarang.

Berkembangnya perekonomian membuat kebutuhan akan interaksi antara penjual dan pembeli juga meningkat. Di tahun 1770 pembangunan pasar pertama inidimulai dan ketika berdiri dinamakan sebagai Pasar Baroe. Lokasinya dipilih berdekatan dengan pemukiman penduduk yaitu Kampung Bogor. Hal yang logis mengingat situasi Bogor saat itu masih berupa hutan. Bahkan jalan-jalan yang ada sekarang belum ada.

Mulanya hanya beroperasi seminggu sekali. Kemudian menjadi setiap Senin dan Jumat karena ternyata sangat ramai. Hal yang tentu saja membuat tersenyum para Gubernur Jenderal karena keuntungan berlimpah dikantongi dari sewa lahan.

Nama pasar tersebut akhirnya bergeser. Karena dekat dengan Kampoeng Bogor, Lama kelamaan namanya menjadi Pasar Bogor dibandingkan Pasar Baroe.

———-

Beberapa puluh tahun setelah berdiri, perkembangan Pasar Bogor semakin pesat. Hal yang disebabkan semakin terhubungnya akses dari dan menuju Bogor pada tahun 1808. Pembangunan Jalan Raya Pos yang melintasi Bogor mendongkrak perdagangan disini.

Berbagai macam hasil bumi diperdagangkan. Sayur Mayur dari daerah Puncak masuk ke Pasar Bogor serta berbagai hasil bumi lainnya.

Perkembangan berlanjut ketika di tahun 1873, jalur kereta api antara Batavia dan Bogor dibangun. Status pasar yang sebelumnya pasar lokal berubah menjadi pasar regional. Pasar Bogor saat itu menjadi penyuplai berbagai hal seperti kina, kopi, gula, kentang, sayur mayur bagi Batavia.

Plaza Bogor
Plaza Bogor

Situasi Pasar Bogor masa kini

Sebenarnya sulit untuk menggambarkan  situasi Pasar Bogor di saat sekarang. Salah satu alasannya lokasi yang dirujuk nama ini tidak jelas sama sekali.

Lokasi lama Pasar Bogor berada persis di sebelah Vihara Dhanagun atau Klenteng Hok Tek Bio. Hanya di tempat Pasar Bogor dulu berada sudah berdiri pusat perbelanjaan baru. Bangunan bertingkat lima Bogor Plaza telah menggantikan pasar tersebut.Pasar traidisionalnya sendiri bergeser agak ke dalam di sebelah jalan Roda.

Semakin tidak jelas ketika banyak sekali pedagang kaki lima yang merambah jalan-jalan di sekitar Pasar Bogor sebagai lahan jual beli. Mereka membuka lapak tidak hanya di jalan Roda tetapi bahkan sampai ke jalan Otto Iskandardinata dan jalan Suryakencana.

Jadi istilah Pasar Bogor saat ini sebenanrya tidak memiliki bentuk yang pasti mana yang dirujuk. Sama seperti kasus Pasar Anyar, istilah teori dengan yang ada di realita berbeda. Pasar Bogor dewasa ini lebih merupakan nama sebuah kawasan dibandingkan nama sebuah pasar.

———

Kalau gambaran kondisi disana, saya rasa sudah tergambarkan di awal tulisan. Semrawut, macet, kotor dan bau. Sungguh, itu perasaan saya ketika menjelajahi Pasar Bogor beberapa waktu yang lalu. Sampah berserakan menebarkan bau busuk dan merusak pemandangan. Macet karena angkot yang sering mangkal di tengah jalan. Penumpang yang tidak tertib dan masih banyak lagi yang menunjukkan pasar ini perlu penataan ulang.

Hal ini juga berlaku pada pasar modern-nya yaitu Plaza Bogor. Dulu pertama kali berdiri terlihat mentereng. Hanya sekarang terlihat sangat kusam dan lusuh. Bagian dalamnya pun jelas menunjukkan butuh polesan baru.

———-

Pasar Bogor
Sampah berceceran di pinggir jalan Otto Iskandardinata Pasar Bogor

Kalau melihat Pasar Bogor sekarang sempat terbersit pikiran nakal. Kalau dulu Pasar Bogor ini dibangun dengan tujuan mengejar keuntungan tanpa mempedulikan aturan (bahwa Bogor adalah kota peristirahatan dan tidak boleh ada aktifitas ekonomi). Sekarangpun disini memang terlihat tidak ada aturan, semua yang terlibat juga hanya mengejar keuntungan saja. Deja vu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.