Hari ke-50, atau entahlah hari keberapa sejak saya harus menjalani masa WFH (Work From Home) alias #dirumahsaja. Bukan sebuah masa yang menyenangkan dan penuh tantangan tersendiri bagi yang menjalaninya. Tetapi, sebagai warga negara yang patuh kepada pemimpinnya, mau tidak mau, suka atau tidak suka, saya harus mematuhinya.

Apalagi, saya menyadari juga bahwa semua ini adalah demi kebaikan bersama dan mencegah virus Covid-19 terus mendapatkan inang baru dan menyebar semakin luas. Semaksimal mungkin, saya akan terus berusaha mendukung usaha pemerintah dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)-nya.

Demi kebaikan negeri ini.

Tapi , ada rasa kecewa dan sedih di dalam hati dalam dua hari terakhir. Kebetulan pada dua hari terakhir ini, saya harus keluar rumah, yang pertama untuk mengambil pesanan makanan untuk berbuka, dan kemudian hari ini harus mengambil pesanan dari sebuah toko bahan makanan.

Tidak lama saya berada di jalan. Waktu yang diperlukan paling lama hanya satu jam saja berada di luar rumah.

Tapi selama itu pula, saya menyaksikan banyak kejadian yang membuat geleng-geleng kepala.

Meskipun berita dimana-mana memberi informasi mengenai keganasan sang Corona, dan betapa sosialisasi pemerintah agar seluruh warga taat dan patuh menjalankan instruksi pencegahan, hal itu seperti tidak terlihat di lapangan.

Memang, selama masa PSBB, terasa sekali arus lalu lintas di jalanan Kota Bogor lebih lengang dari biasanya. Rupanya memang sudah banyak juga warga Kota Hujan yang memilih tidak beraktifitas di luar rumah. Hal itu tetap tidak bisa dipungkiri bahwa PSBB sudah memberikan efeknya.

Cuma, di banyak bagian yang saya lewati selama dua hari ini, terlihat masih banyak sekali warga Bogor yang tidak patuh terhadap instruksi yang diberikan pemerintah.

Tidak memakai masker masih terlihat dimana-mana. Bahkan di pasar tempat saya mengambil pesanan, pelayan tokonya pun tidak mengenakan masker, begitu juga dengan beberapa pengunjung. Rumah makan tempat saya mengambil pesanan pun, karyawannya banyak yang tidak menggunakan masker juga.

Jangan tanyakan tentang social distancing atau physical distancing. Dalam toko yang saya datangi hari ini, para pengunjung tetap saja berdempetan dan berebut. Saya akhirnya memutuskan tetap berada di luar toko sambil bersuara keras bahwa saya datang mengambil pesanan.

Sepulangnya pun, ketika melewati Jalan Pendidikan dari arah Kayumanis, disana sini tetap saja banyak warga berkumpul, nongkrong, tanpa masker dan tanpa menjaga jarak juga. Anak-anak bermain bebas tanpa pelindung wajah.

Geleng-geleng kepala (tidak mengelus dada karena di atas sepeda motor).

Saya merasa menjadi makhluk asing dari planet lain dengan jaket tangan panjang, sarung tangan, masker, helm, tas kecil untuk membawa hand sanitizer. Tambahkan pula dengan sepulang ke rumah, biasanya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badan.

Mungkinkah kami yang terlalu parno menghadapi situasi?

Sepertinya sih tidak. Keganasan sang virus sudah terbukti sekali dalam merenggut jiwa manusia. Perlengkapan yang saya pergunakan pun sudah sesuai instruksi pemegang wewenang di kota Bogor dan di negeri ini.

Lalu dimana salahnya? Kenapa masih banyak sekali warga yang tidak mau manut?

Keluar rumah dalam waktu singkat seperti sekarang seperti menunjukkan bahwa PSBB yang diharapkan mampu mengekang pandemi Covid-19, masih mirip Macan di atas kertas saja. Belum menyentuh kehidupan nyata.

Saya tidak menyalahkan jajaran Pemda dalam hal ini. Bagaimanapun, mereka memiliki keterbatasan personil dan tenaga untuk mengawasi wilayah yang ada. Tidak mungkin mereka bisa menjelajahi dan patroli setiap sudut kota untuk menertibkan masyarakat.

Hal itu sama sekali tidak mungkin. Karena itulah adanya check point, sekedar untuk membatasi.

Kecewa dan sedih melihat semua ini. Sekaligus khawatir. Bagaimana wabah ini akan berakhir kalau pelanggaran seperti ini terus terjadi?

Hanya, berkaca dari kejadian baru-baru ini, di kawasan Empang, ketika seorang pria bernama Endang Wijaya ngamuk-ngamuk kepada petugas PSBB, saya menyadari bahwa PSBB menjadi bak macan kertas bukanlah hanya disebabkan pemerintah saja.

Ada masalah yang lebih mendalam di diri masyarakat Bogor, Indonesia, terutama dalam hal kepatuhan terhadap hukum dan aturan.

Penolakan Endang Wijaya untuk tidak duduk berdampingan dengan istrinya di dalam mobil terlihat sederhana. Tetapi, di dalamnya terlihat sekali bahwa banyak anggota masyarakat yang tidak mau berkorban, bahkan untuk hal yang kecil, seperti duduk terpisah dengan istrinya.

Masyarakat masih terlalu mengedepankan ego dan kemauan mereka sendiri. Masih banyak anggota masyarakat yang pilih melanggar aturan daripada melakukan hal kecil yang sebenarnya tidak merugikan diri mereka. Ego pribadi lebih dikedepankan dan membuat aturan menjadi tidak punya arti di mata mereka.

Sesuatu yang sudah terlihat setiap hari, bahkan sebelum masa PSBB, yaitu ketika lampu merah tidak lagi berarti “berhenti” karena banyaknya yang melanggar. Pelanggaran dan ketidakpatuhan itu terjadi setiap hari dan tidak pernah berhenti.

Jadi, tidak heran kalau pada masa genting seperti sekarang, melanggar aturan tetap dilakukan. (Hikss.. kalau mau bicara teori, sebenarnya inti dari sebuah masyarakat dengan peradaban tinggi / beradab, salah satunya adalah tingkat kepatuhan kepada aturan, norma, atau etika yang berlaku)

Padahal, tanpa kepatuhan pada aturan, virus Corona tipe yang satu ini akan terus menemukan inang baru dan menyebar dengan cepat. PSBB pun pada akhirnya akan menjadi hanya “Macan kertas” saja.

Keberhasilan PSBB bisa dikata bergantung bukan hanya pada apa yang dilakukan pemerintah saja. Mereka tidak bisa melakukannya sendiri. Pemda/pemerintah pusat butuh bantuan dari rakyatnya.

Mereka butuh rakyatnya patuh kepada apa yang sudah ditetapkan. Mereka butuh masyarakat untuk mau berkorban juga.

Masyarakat harus mau berkorban untuk repot sedikit memakai masker kemana-mana, tidak ngumpul dengan teman, tetangga. Jaga jarak dengan orang lain juga butuh kemauan berkorban. Tidak melakukan apa-apa dan diam di rumah saja kalau tidak ada keperluan pun adalah bentuk pengorbanan yang dibutuhkan dalam masa pandemi Corona.

Masyarakat harus mau menjadi “pahlawan”, mau berkorban kenyamanan, ego, dan kesenangan mereka. Semua demi kebaikan bersama.

Sayangnya, selama beberapa hari terpaksa keluar rumah, saya  menyaksikan bahwa nilai-nilai kepahlawanan dan kemauan berkorban seperti tidak dimaknai banyak orang. Banyak yang rupanya masih berpikir kalau “berkorban” atau “menjadi pahlawan” adalah sekedar pergi berperang.

Padahal, nilai kepahlawanan itu adalah ketika seseorang mau mengorbankan kepentingan pribadinya demi kebaikan bersama. Dan, dalam masa suram, penerapan nilai kepahlawanan seperti itulah yang diharapkan dari semua orang.

Tanpa itu semua, maka semakin hari akan semakin banyak korban yang jatuh akibat Corona. Tenaga medis dan kesehatan yang pada akhirnya akan kelimpungan.

Ada betulnya, sebuah pandangan yang saya baca, yaitu garda terdepan di masa pandemi ini sebenarnya bukan perawat, dokter, atau nakes lainnya. Garda terdepan adalah masyarakat itu sendiri, yang mau menjaga dirinya sendiri dan melakukan pengorbanan dengan mengesampingkan ego, kesenangan, dan kepentingannya sendiri.

Mau patuh pada aturan.

Jika masyarakat patuh, maka korban positif Covid-19 akan terus menurun dan para tenaga medis bisa mengurus mereka yang sakit, beristirahat, dan tentunya bertemu dengan keluarga mereka lagi.

Sesuatu yang sedihnya tidak terlihat di jalanan Kota Bogor yang saya terpaksa lewati selama dua hari belakangan.

Banyak anggota masyarakat masih menolak untuk patuh.

Dan, itulah mengapa PSBB Kota Bogor, dan banyak kota lainnya, masih seperti macan di atas kertas. Bagian lain dalam sebuah negara, kota, yaitu masyarakatnya masih tetap abai dan tetap mengedepankan ego dan kemauannya sendiri.

Gambaran di depan mata yang membuat saya hanya bisa berdoa bahwa ada mukjizat pandemi ini akan segera berakhir. Sambil tentunya, berusaha sebisa mungkin menjaga lingkungan dimana keluarga kecil kami tinggal untuk terus mematuhi instruksi pemerintah.

Setidaknya, saya sudah mencoba, bukan untuk menjadi pahlawan tetapi untuk membantu sedikit pemerintah dalam menangani wabah si Covid ini.

 

Bogor, 6 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.