Perlintasan RE Martadinata Perlintasan RE Martadinata

 

Rasanya susah untuk mengerti apa yang dipikirkan oleh orang-orang di dalam gambar di atas. O ya foto-foto di atas diambil di kawasan perlintasan RE Martadinata.

Apakah mereka sebegitu terburu-burunya sehingga tidak bisa menunggu di belakang palang pintu kereta ? Berapa lamakah beda waktunya sehingga mereka sebegitu tidak sabarnya untuk menunggu di tempat yang seharusnya?

Padahal palang pintu perlintasan sudah dalam keadaan tertutup. Sebuah simbol sederhana bahwa para pengendara yang hendak melintas harus berhenti sebentar sampai si ulat besi lewat.

Apakah mereka sebegitu tergesanya sehingga lupa mengambil helm di rumah? Bukankah helm itu untuk mengurangi resiko dan untuk keselamatan dirinya sendiri. Ataukah? Mungkin mereka memiliki ilmu kebal sehingga aspal, beton atau benturan tidak akan pernah melukainya.

Entahlah.

Perlintasan RE Martadinata
Bocah tanpa helm

 

Yang diperlihatkan pada foto-foto tersebut menggambarkan sesuatu yang terjadi setiap hari di kawasan tersebut. Lebih tepatnya di banyak kawasan di Bogor, baik kota maupun kabupaten.

Hal tersebut selalu terjadi setiap hari, setiap waktu.

Berbagai ketidakdisiplinan dan pelanggaran seperti sudah menjadi sebuah kewajiban. Bertentangan dengan apa yang selalu diajarkan di sekolah untuk mematuhi aturan berlalu lintas.

Sepertinya memang disini aturan tidak berlaku. Yang berlaku adalah prinsip “nek ra ngedan ra keduman” alias kalau tidak gila tidak kebagian. Sistem masyarakat modern yang mengutamakan keteraturan tidak laku. Yang ada hukum rimba, siapa kuat dia menang.

Meskipun yang diperebutkan cuma beberapa detik saja.

Bila orang tidak tahu aturan, biasanya disebut orang primitif. Lucunya kalau disebut begitu , merekaf pasti “ngamuk” dan pasti akan menantang berkelahi. Mereka tidak akan pernah mau disebut orang tidak beradab.

Perlintasan RE Martadinata

Padahal kalau menurut seorang filsuf, salah satu tolok ukur tinggi rendahnya sebuah peradaban ada pada kepatuhan manusia terhadap aturan. Pada titik ekstrim, sebuah masyarakat disebut berperadaban tinggi kalau mereka sudah bisa mematuhi aturan yang bahkan tidak tertulis (atau norma).

Nah kalau di perlintasan RE Martadinata Bogor yang terjadi justru berlawanan. Berbagai aturan yang ada saja dilanggar dan tidak dipatuhi. Lalu bukankah berarti mereka berada di posisi masyarakat berperadaban rendah alias primitif (kalau mau ekstrim disebut biadab)

Tidak tega menyebutnya. Cuma bisa mengelus dada. Rupanya warga Bogor memang masih harus belajar banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.