Penjual Tape Uli

Hasil jepretan Xperia M di bulan Agustus lalu.

Ada yang menarik? Tidak sih hanya seorang pedagang kaki lima (PKL) dengan keranjang disisinya sementara ia berbincang dengan rekannya sesama PKL di atas trotoar Jalan Sawojajar.

Hanya, bagi saya, seorang warga Bogor, pemandangan ini layak diabadikan. Sebelum nanti semakin sulit ditemukan.

Tahukah Anda apa yang diperdagangkan oleh si abang? Si pedagang adalah penjual tape uli.

Penjual Tape Uli

penjual tape uliKalau melihat apa yang ada di atas keranjangnya, paling tidak terlihat 3 jenis makanan tradisional.

Yang pertama terbungkus dalam plastik transparan berwarna kehitaman. Itulah “Tape Ketan”.

Berbeda dengan tape yang terbuat dari singkong, kuliner tradisional Bogor ini terbuat dari ketan yang difermentasi. Rasanya manis dan asam. Tidak jarang aroma masam akan tercium ketika bungkus tape ketan terbuka, mirip dengan semerbak makanan hasil fermentasi. Sering juga terdapat cairan hasil fermentasi yang rasanya juga masam.

Makanan tradisional yang kedua, bisa dilihat terbungkus dengan daun pisang. Namanya Uli atau kadang disebut dengan Oli.

Uli sama bahannya yaitu ketan. Warnanya putih kekuningan. Lengket dan kenyal.

Biasanya di Bogor dimakan berbarengan dengan Tape Ketan. Kalau ditanya rasanya, enak lho. Gurih, asam, manis akan bercampur.

Di atas keranjang abang penjual tape uli ini, terlihat juga satu lagi makanan yang terbuat dari ketan. Namanya, kalau di Bogor disebut “Leupeut”.

Lagi-lagi bahan pembuatnya adalah ketan. Terbungkus dalam lilitan daun sejenis kelapa atau enau. Biasanya di dalamnya juga dimasukkan beberapa butir kacang kedele dan dikukus. Rasanya gurih.

Lengket sudah pasti, namanya juga masakan yang terbuat dari ketan. Tetapi, enak. Tidak rugi tangan sedikit kotor.

Kalau Anda memang ingin merasakan sesuatu yang benar-benar tradisional di Bogor, penjual tape uli ini haruslah menjadi salah satu target.

Sudah semakin jarang penjual tape uli ditemukan. Yah, seperti yang sudah ditulis sebelumnya, sesuatu yang tradisional semakin terdesak di Kota Hujan ini. Ini juga salah satu bukti yang menunjukkan hal tersebut.

Jadi, kalau Anda kebetulan berkunjung ke Jalan Sawojajar, cobalah perhatikan trotoar di depan Bogor Junction. Biasanya di abang penjual tape uli ini nongkrong di sekitar area ini.

2 COMMENTS

  1. Terimakasih Kang Anton, masih mau berbagi cerita tentang makanan khas warga sunda-Betawi ..sy yakin tak lama lagi makanan ini akan sulit dijumpai, karena sudah berganti selera ke makanan barat, separti Pitza, burger dan semacamnya yg kini banyak disukai anak muda ,sungguh sangat disayangkan kalau makanan khas Indonesia hasil olahan para leluhur kita ini sampai hllang ditelan jaman.

    • Yah begitulah Kang Oman.. Lovely Bogor dibangun salah satunya untuk mencatat berbagai hal tradisional yang suatu waktu akan menghilang dari bumi Bogor tergerus zaman..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.