Penjajahan Kuliner Asing
Iga Bakar Rumah Cupcake

Judulnya terkesan kejam dan dahsyat sekali ya? Penjajahan! Kesan yang tergambar adanya sebuah “penguasaan” atau “pendudukan” terhadap Kota Hujan oleh kelompok lain. Banyak yang akan terkenang film-film bertema perjuangan kemerdekaan di masa lalu, dimana para pejuang Indonesia bertempur dengan bambu runcing melawan tank dan senapan mesin.

Memang, tidak ada darah yang tertumpah dalam penjajahan kuliner asing di Bogor. Tidak ada desingan peluru dan rentetan mitraliur mengeluarkan sang anak peluru. Semuanya sunyi senyap dan bahkan sepertinya tanpa perlawanan sama sekali.

Bahkan kalau diperhatikan, masyarakat Bogor sendiri justru sangat menikmati penjajahan oleh kuliner yang berasal dari luar budaya yang dianutnya. Lebih jauh lagi, justru mayoritas warga Bogor menganggapnya sebagai sebuah trend baru yang harus diikuti agar tidak ketinggalan zaman.

Berlomba mereka mendatangi outlet-outlet kuliner asing yang mereka baca atau lihat di televisi. Berbondong-bondong warga kota talas ini memburu berbagai jenis makanan yang terdengar keren dan sesuai dengan gaya hidup metropolitan.

Tidak ada yang menolak. Mereka menikmatinya. Tidak ada korban (benarkah?) dan semua senang.

Penjajahan Kuliner Asing = Penjajahan Budaya

Penjajahan Kuliner Asing
Jajanan Tradisional Bogor – Gemblong

Are you kindding? Rasanya itu yang akan Anda sampaikan kepada Lovely Bogor membaca pembukaan di atas. Bercanda? Apakah Lovely Bogor sedang bercanda dengan mengatakan Penjajahan Kuliner Asing adalah sebuah wujud penjajahan budaya?

Tentu saja tidak. Hal tersebut memang sesuai dengan teori mengenai benturan budaya dan kebudayaan dalam kehidupan umat manusia. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa dalam dunia yang tidak terlihat, sebenarnya budaya/kebudayan yang ada di dunia ini saling bertarung. Budaya yang satu akan coba bertahan hidup sekaligus pada saat bersamaan menaklukan budaya atau kebudayaan yang lain.

Pertarungan ini sama dahsyatnya dengan sebuah pertempuran di dunia nyata. Keras dan kejam. Yang kalah akan binasa dan menghilang dari peredaran. Yang menang akan berkuasa dan terus berkembang sampai suatu waktu ada budaya/kebudayaan yang lebih kuat lahir dan mengalahkannya.

Makanan, pola makan, jenis masakan adalah bagian dari sebuah budaya/kebudayaan. Jadi mau tidak mau sebagai prajurit dari sebuah budaya tertentu, maka dunia kuliner pun mengalami pergolakan. Saling berbenturan dan coba mengalahkan. Yang kuat dialah yang menang. Yang menang akan menjajah dan yang kalah akan binasa, menghilang dari peredaran.

Jadi, penjajahan kuliner asing memang merupakan sebuah penjajahan budaya.

Bagaimana dengan dunia kuliner atau makanan di Bogor?

Penjajahan kuliner asing di kota seluas 118 kilometer persegi ini sangat jelas terasa dan kasat mata. Kesemua yang menunjukkan kemenangan kuliner luar Bogor terpampang begitu nyata dan tidak bisa terbantahkan.

Donatnya si J. Co yang merupakan bagian dari Johnny Andrean Group ini terlihat begitu perkasa kalau dibandingkan dengan si Gemblong atau Sagu Rangi. Warga Bogor saat ini akan memilih untuk berkunjung ke gerai makanan berbentuk huruf O itu dibandingkan si hitam manis gemblong. Padahal keduanya sama-sama manis.

Penjajahan Kuliner Asing di Bogor
Creamy Corn Carbonara

Macaroni Panggang lebih diminati dibandingkan toge goreng. Laksa Bogor bagai takluk ketika berhadapan dengan Fetucini atau Creamy Corn Carbonara.

Anak-anak sejak kecil selalu berkeinginan pergi ke Mc D (Mc Donald) atau Pizza Hut untuk makan burger atau Paket Nasi dibandingkan makan doclang. Orangtua lebih merasa keren kalau anaknya mengadakan pesta ultah di Mc Donald dibandingkan di rumah makan Sunda.

Tidak satupun kuliner tradisional Bogor yang mampu menahan laju penjajahan kuliner asing di kotanya sendiri.

Bahkan kuliner Sunda ala Bogor pun bertumbangan ketika berhadapan dengan koleganya dari luar daerah, seperti di Warung Nasi Ampera. Takluk dan terkalahkan, itulah situasi kuliner Bogor pada masa kini.

Dunia perkulineran di Bogor sudah dikuasai hampir seratus persen oleh berbagai jenis makanan yang berasal dari luar wilayahnya.

Adakah yang bisa bertahan dari penjajahan kuliner asing?

Hampir 100%. Hampir, belum sepenuhnya. Masih ada sisa-sisa dari kuliner tradisional Bogor yang bisa bertahan terhadap gempuran berbagai jenis kuliner dari luar Bogor. Beberapa orang masih mampu membuat dunia perkulineran Bogor sepenuhnya berwarna asing atau “luar daerah Bogor”.

Beberapa seperti Laksa Gang Aut ala Mang Wahyu masih menjadi salah satu benteng kuliner tradisional Bogor yang bertahan. Merekalah yang membuat Bogor masih memiliki identitas dunia kulinernya sendiri.

Penjajahan Kuliner Asing
Laksa Gang Aut

Meskipun demikian, melihat kondsi kuliner tradisional asli Bogor, bisa dikatakan hanya bertahan. Tidak lebih. Mereka tidak bisa menembus dan melawan penjajahan kuliner asing dan menolaknya. Mereka hanya bisa bertahan di pinggiran dimana, masih cukup banyak warga Bogor yang mempertahankan pola hidup dan selera makan yang masih mengikuti pola lama. Mereka tidak mampu menembus dunia masyarakat Bogor yang baru, yang cenderung mengikuti trend dan gaya hidup metropolitan.

Ketika, suatu saat mereka tiada, kecil kemungkinan generasi berikut memiliki pola pikir dan daya tahan yang sama. Apalagi bisa dipastikan pola pikir generasi penerus mereka sudah akan terkontaminasi oleh budaya instan dan praktis.

Suatu waktu, sisa-sisa dunia kuliner asli Bogor pun akan menghilang. Penjajahan kuliner asing di Bogor akan sempurna, alias mencapai level 100%. Sangat kecil kemungkinan akan bisa ditepis.

 Perlukah penjajahan kuliner asing dikhawatirkan?

Bukan perlu atau tidak. Sesuatu yang berkaitan dengan budaya atau kebudayaan adalah sesuatu yang natural alias kodrat. Budaya lama yang dianggap usang digantikan budaya baru yang dianggap lebih bagus. Itu adalah bagian dari kehidupan manusia di dunia. Tidak ada kebudayaan yang bertahan selamanya. Seberapa kuat sebuah kebudayaan pun, suatu waktu akan tergantikan oleh yang lebih baru.

Penjajahan Kuliner Asing di Bogor
Capital Party Set Ichiban Sushi Botani Square

Oleh karena itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jalani dan nikmati saja. Toh tidak akan ada upaya yang bisa menghentikan sebuah pergantian budaya dalam sebuah masyarakat. Begitu juga dengan dunia perkulineran Bogor. Pergantian tersebut sedang dalam proses dan tidak akan bisa dihentikan.

Seiring dengan perkembangan, baik fisik kota dan psikologis masyarakat, perubahan yang menyangkut selera makan adalah sebuah hal yang normal. Bukan sebuah hal yang aneh. Bukan juga sebuah hal yang bisa ditentang karena hal tersebut berada di luar kontrol manusia.

Istilah penjajahan kuliner asing di Bogor hanyalah sebuah istilah merujuk pada pergantian bentuk dunia makan memakan di Kota Hujan ini. Bukanlah sesuatu yang terlihat secara fisik dan lebih kepada kebiasaan yang ada dalam masyarakat.

Warga Bogor sendiri tidak pernah merasa dirinya dijajah. Mereka bahkan mungkin bersyukur dengan “dijajah”nya dunia kuliner mereka. Dengan dijajah, mereka bisa bergabung dengan masyarakat dunia yang lebih luas. Berperilaku yang sama dengan masyarakat dari dunia lain.

Hanya mungkin suatu waktu, ketika rasa kangen atau rindu terhadap masa lalu hadir, barulah rasa kehilangan tersebut akan terasa. Ketika laksa Bogor tidak lagi ditemukan, ketika penjual gemblong tidak lagi berlalu lalang, saat penjual toge goreng berganti berjualan spaghetti, mungkin baru saat itulah kita semua akan menyadari bahwa ada sebagian dari dirinya yang telah hilang.

Penjajahan Kuliner Asing di Bogor
Macaroni Panggang oleh-oleh khas Bogor

Apakah akan disesali atau tidak kehilangan tersebut? Nobody knows. Tidak ada yang tahu. Yang jelas, saat sekarangpun rasa kehilangan tersebut sudah timbul pada diri sebagian masyarakat Bogor yang melahirkan “teriakan” agar dunia kuliner tradisional Bogor digalakkan.

Ah, rupanya pertarungan menghadapi penjajahan kuliner asing di Bogor belum usai. Babak pertarungan berikutnya masih akan berlangsung. Tiga tahun? 5 tahun? Tidak perlu diduga.

Yang pasti pergunakan waktu yang ada untuk menikmati kuliner khas Bogor selama masih ada. Jangan sampai ada penyesalan ketika tiba saatnya bagi mereka undur diri dari kancah dunia makan memakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.