Setiap wisatawan yang berkunjung ke sebuah tempat wisata, sudah pasti berharap bahwa mereka akan “mendapatkan” sesuatu dari tempat yang dikunjunginya. Jika, lokasi wisata yang didatangi adalah sebuah lokasi wisata alam, tentunya mereka membayangkan akan bisa mendapatkan pemandangan indah, udara sejuk, hawa yang segar dari tempat itu. Untuk itulah mereka mau berkorban uang, waktu, dan tenaga untuk mencapai destinasi itu.

Tidak akan ada yang berharap bahwa mereka akan menemukan sesuatu yang “kotor” dan “busuk” terlihat. Keberadaan yang seperti itu akan merusak mood dan kesenangan saat sedang melakoni kegiatan wisata.

Semua wisatawan, baik dalam dan luar negeri, dari bangsa apapun menginginkan hal yang sama. Tidak akan ada yang bisa menerima kurang dari itu.

Lalu, bagaimana dan apa yang terjadi kalau mereka menemukan hal yang tidak layak selama berwisata disana? Kecewa, kesal, dan bahkan marah. Di zaman sekarang, kekecewaan itu akan tersampaikan dari gadget ke gadget dalam berbagai bentuk. Hasilnya nama jelek akan tersandang pada pengelola tempat wisata itu.

Begitupun orang-orang yang datang ke Kebun Raya Bogor. Mereka pasti berharap hal yang sama. Apalagi, Bogor dan Kebun Raya-nya dianggap bisa menyegarkan mereka dari kepenatan kehidupan sehari-hari. Ketika mereka kecewa pun, hal yang sama akan terjadi.

Dan, sedihnya, hari ini, terlihat ada hal yang tidak layak dan tidak seharusnya terjadi di Kebun Raya Bogor, sebuah lokasi wisata yang sangat terkenal bukan hanya di Bogor, tetapi juga di seluruh Indonesia.

Di salah satu sudutnya, Taman Teijsman dan berbatasan dengan wilayah Koleksi Bambu memperlihatkan ada sesuatu yang kurang beres dan bisa menimbulkan efek negatif bagi siapapun yang melihat dan menciumnya.

Ada apa disana?

Sampah yang menumpuk dan menyumbat aliran air! Hasilnya, pemandangan di aliran air kecil yang mengalir di bawah jembatan Taman Teijsman menjadi tidak enak dilihat. Bagaimana mau enak dipandang mata ketika terlihat berbagai botol plastik dan styrofoam menumpuk dan menghalangi aliran air.

Situasinya mirip dengan apa yang terjadi di banyak sungai kota besar dimana airnya menjadi hitam, menggenang, dan penuh sampah.

Satu lagi.

Bau busuk tersebar disana.

Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi di sebuah kawasan wisata berusia ratusan tahun dan sekaligus merupakan pusat penelitian dan konservasi tanaman di Indonesia. Sebuah situs cagar budaya Bogor dan Indonesia.

Sebuah tempat yang seharusnya menjadi contoh bagi pengelolaan kawasan wisata alam dan budaya dimanapun.

Sayang sekali, apa yang terlihat hari ini, memberikan sebuah contoh yang buruk sekali. Tentunya, akan sangat memalukan jika yang melihat adalah turis-turis asing yang datang ke Kebun Raya Bogor dan ingin melihat sebuah taman indah yang didedikasikan untuk seseorang yang berjasa dalam pengembangan Kebun Botani pertama di Asia ini.

Entah apa yang akan mereka celotehkan ketika kembali ke negara mereka?

(Baca juga : Banyak Pengunjung Taman Kencana Yang Tidak Menhaga Kebersihan )

Pengunjung Tidak Peduli Pengelola Lalai Hasilnya Bau Busuk Di Sudut Taman Teijsman (3)

Ada rasa marah, sedih, dan kecewa hadir di hati saat melihat pemandangan tidak mengenakkan seperti ini. Padahal, saya bukanlah seorang wisatawan yang hanya sekali dua datang ke KRB. Sudah tak terhitung berapa kali tempat ini saya kunjungi.

Tetapi, tetap saja kesal dan sebal disuguhi pemandangan seperti ini. Apalagi mereka yang datang dari jauh karena mendengar keindahan lokasi wisata andalan Kota Bogor ini.

Kecewa dan kesal kepada siapa?

Ada dua pihak yang jelas bertanggungjawab terhadap hal ini.

  1. Pengelola Kebun Raya Bogor : jelas sekali ada kelalaian dari pihak pengelola karena mereka memiliki wewenang, kuasa, dan tentunya kewajiban untuk memastikan bahwa tumpukan sampah seperti ini tidak ada di dalam wilayah Kebun Raya. Untuk itulah mereka memiliki sarana, prasaran, dan petugas untuk memastikan hal ini tidak terjadi. Kalau sampai terjadi, sudah pasti ada kecerobohan dari pihak pengelola
  2. Pengunjung Kebun Raya : sampah-sampah berupa botol plastik dan bekas pembungkus makanan hampir pasti berasal dari para pelancong yang datang. Tempat sampah di Kebun Raya Bogor banyak sekali dan tersebar merata di semua area, sangat mudah menemukannya. Mengapa harus membuang ke sungai padahal menyimpannya sejenak sampai bertemu dengan tempat sampah akan bisa membantu. Rendahnya kesadaran dan kepedulian mereka terhadap lingkungan adalah penyebabnya dan kemalasan mereka adalah biang keladinya

Kesal, marah, sebal, kecewa. Semua campur aduk. Dan, satu lagi yang pasti MALU! Bagaimana bisa hal yang seperti ini terjadi di sebuah lokasi wisata yang dikelola mereka yang katanya profesional dan berpendidikan bisa memiliki aliran air yang penuh sampah dan menyebarkan bau busuk.

MALU. Bagaimana kalau Presiden Republik Indonesia, Pak Jokowi melihatnya? Tidak kah menyebabkan beliau marah? Mungkinkah bahkan untuk mengurus hal seperti ini, seorang presiden negara berpenduduk Indonesia harus turun tangan juga?

(Baca Juga : Kebun Raya Bogor – Tempat Mana Yang Menarik?)

Entahlah, terkadang memang dipikir, negara ini adalah negara antah berantah yang bahkan hal kecil saja harus dibuat “besar” dulu sebelum kemudian diselesaikan dengan cara sederhana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.