Nostalgia Tahu Slawi ala Mantan Murid SMA Negeri 1 Bogor

Terus terang. Agak heran juga mengapa penganan sangat sederhana ini bis abegitu menarik dan paling sering dicari oleh kalangan tertentu. Namanya Tahu Slawi.

Bentuknya sendiri jauh sekali dari yang namanya keren bin modern. Kalau kuno sih iya, bahkan kalau mau disebut tidak beda dengan “gorengan” biasa saja. Terbuat dari sagu (aci) yang dicampur dengan sepotong kecil tahu yang digoreng biasa.

Tidak ada bumbu aneh-aneh. Simpel bin sederhana. Tidak ada bumbu cocol selain “cengek” atau cabe rawit sebagai kawannya.

Tetapi, yang memburu makanan sederhana ini banyak sekali . Banyak yang bergelar doktor, insinyur, manager, dokter dan lain sebagainya. Kendaraan yang ditumpangi mereka pun bermacam merek, dari yang beroda empat hingga beroda dua, mulai bermerk mahal hingga yang murah. Semuanya berburu jajanan ini.

Tidak percaya?

Cobalah tanyakan pada para alumni SMP atau SMAN 1 Bogor yang berlokasi di Jalan Juanda No 16 Bogor.

 

Mereka biasanya gemar sekali berburu Tahu Slawi jika ada waktu. Tetapi, bukan sembarangan tahu slawi, kalau tidak dibeli di tempat tertentu dan dimakan di tempat, mereka tidak akan membelinya. Mereka akan memilih penganan jenis lainnya.

Tahu Slawi yang sangat spesial ini biasanya mangkal di Gang Selot, jalan di sebelah kedua sekolah itu. Tempat itu namanya sekarang Sentra Kuliner Sehat Gang Selot.

Inilah jenis Tahu Slawi yang mereka inginkan. Bukan yang lain.

Harganya murah, hanya Rp. 1000per buah saja. Beli 5 atau sepuluh diberi bonus kantung kertas seperti yang biasa diberi tukang gorengan kepada pembelinya.

Heran mengapa mereka bisa memburu makanan sederhana ini?

Saya tidak. Karena saya tahu persis rahasianya. Ada satu bumbu rahasia yang terkandung di dalamnya. Kebetulan bumbu rahasia ini bukan dibuat oleh yang menjual, tetapi bumbu ini secara otomatis menempel di dalamnya.

Nama bumbunya adalah kenangan, nostalgia.

Tahu SlawiPara mantan murid SMP dan SMA Negeri 1 Bogor sudah mengenal tahu Slawi ala Gang Selot ini sejak dulu, lama sekali. Kalau dihitung tahun, maka tahun 1980-an saja mereka sudah akrab dengan penganan ini.

Di masa ketika mereka sedang culun-culunnya dan dengan uang jajan yang snagat terbatas, di kala mereka ingin jajan atau mengisi perut, biasanya mereka pergi ke Gang Selot dan membeli beberapa potong tahu slawi. Murah dan terjangkau.

Biasanya sambil mengunyah potongan-potongan kecil aci goreng mereka akan nongkrong dengan teman-teman, bergosip, pusing bersama soal PR, dan banyak hal lainnya.

Itulah yang membuat Tahu Slawi ala Gang Selot berbeda bagi para alumni SMP dan SMA Negeri 1 Bogor.

Tahu Slawinya sederhana, bahkan mungkin kalah enak dibandingkan tahu yang dijual di Slawi. Hanya ketika memakanya sambil mengenang masa-masa saat bisa bercengkerama dengan kawan-kawan di masa itu, maka jelas “rasa”nya menjadi berbeda.

“Enak sekali”. Tidak akan bisa ditemukan di tempat lain.

itulah yang membuat banyak alumni kedua sekolah tersebut gemar sekali berkunjung ke Gang Selot dan mendatangi tempat pak penjual Tahu Slawi, yang bahkan hingga sekarang saya sendiri tidak tahu namanya.

Kalau Anda mau mencoba, silakan saja. Tempat itu terbuka untuk umum, siapapun bisa datang. Tetapi, kalau Anda bukan lulusan SMP atau SMA Negeri 1 Bogor, mungkin rasanya tidak sama dengan yang saya rasa. Bukan salah yang jual tapi ya, bukan salah Anda juga.

Yang salah mungkin lidah saya yang sudah merasakan masa-masa menyenangkan di sana selama tiga tahun antara tahun 1986-1989.

6 COMMENTS

  1. hehehe,,,betul juga sich kata Pak Anton, saya jadi malu… hehehe.

    Tapi dengan mencermati hasil tulisan dan Debat2 Pak Anton diForum….saya yakin Pak Anton Memang Pintar.

    Tapi kepintaran semua orang belum tentu menjamin masa depan seseorang jadi lebih baik,keberuntungan juga menjadi ” KUNCI “.

    sebenarnya orang pintar itu banyak terlepas dari bersekolah atau tidak, tapi orang jujur itu sulit di dapat.

    dan Kejujuran tulisan pak Anton,,,membuat saya percaya bahwa Pak Anton memang Pintar,,,hehehe,,,kwkwkwkwk……..:)

    • Hadeuh… hahahahaha.. Alhamdulillah ternyata memang bisa lulus sekolah. Jadi boleh lah dianggap pintar.. wkwkwkwkw

      • nah,,begitu donk pak,,,,biar sudut pandang saya yang bodoh ini, bisa tersalurkan,,,,,,hehehehe.Peace…..yach. 🙂

  2. saya juga Alumni SMA 1, tapi buka di Bogor,,,hehe…

    kalau harga selawi atau 25 rupiah itu,,,harga jajan sewaktu saya masih sekolah SD pak….itu saja hanya dapat 1 buah Es balon.

    Pak Anton orangnya Pinter Yach,,soalnya Jebolan Sekolah Negeri dan Kerja di Perusahaan Ekspor Lagi,,haduchhhhh…..pantesan saja karya tulisannya buagusss,,buagusss semua. 🙂

    • Saya mah kebetulan saya bisa masuk sekolah negeri. Boro-boro pinter.. heuheu..

      Lagi pula, sekolah negeri tidak berarti orang pintar. Banyak sekali yang tidak bersekolah di sekolah negeri pun pintar-pintar.

      Bukan jaminan bersekolah di sekolah negeri itu sudah pasti pintar.

      Kerja di perusahaan ekspor juga begitu, kebeneran saja ada lowongan dan saya bisa mengerjakannya. Tidak ada kaitan dengan pintar atau tidak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.