Ngenes - Pengamen Ondel Ondel Betawi Merambah Kota Bogor

Ngenes. Menyedihkan. Melihat para pengamen ondel ondel Betawi setiap pulang kantor di Jakarta saja selalu menghadirkan rasa itu di dalam hati. Bagaimana tidak, sebuah kesenian lokal yang sejak dulu menjadi ikon dari ibukota Indonesia (setidaknya sampai saat tulisan ini dibuat) seperti turun derajat.

Bila dulu posisinya dalam kebudayaan masyarakat Betawi memegang peranan begitu penting, dan kehadirannya selalu ditunggu-tunggu, sekarang, posisinya tidak berbeda jauh dengan para pengamen jalanan yang mengumpulkan recehan demi bertahan hidup.

Apalagi pelajaran yang didapat saat kuliah di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia mengajarkan bahwa hal yang seperti ini merupakan pertanda tersingkirnya, kalahnya sebuah budaya oleh budaya lainnya.

Yang seperti ini merupakan gejala dimana sebuah budaya mendekati tahap akhir dalam siklus hidupnya. Ia tergusur dan perlahan kemudian akan menghilang dari peredaran. Punah.

Ngenes - Pengamen Ondel Ondel Betawi Merambah Kota Bogor 2

Itu saat di Jakarta, wilayah dimana kesenian ini berasal dan memang seharusnya berada.

Bagaimana kalau penampakan mereka terlihat berulangkali saat ajang Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Jalan Sudirman, Kota Bogor. Kota ini berjarak 50-60 kilometer dari Jakarta. Lebih jauh lagi, kota hujan adalah wilayah masyarakat Sunda, bukan Betawi.

Tentu akan berbeda kalau ondel-ondel ini hadir dalam ajang Cap Go Meh Bogor, yang kerap menjadi ajang perkenalan terhadap kebudayaan dari tanah yang lain. Hal itu tentu akan sangat diapresiasi.

Kehadirannya dalam acara rutin mingguan dan sekedar untuk mengumpulkan uang receh dari para pengunjung yang datang menghadirkan rasa sedih yang lebih besar lagi.

Sudah begitu tersingkir kah ondel ondel Betawi dari wilayahnya ? Sudahkah masyarakat Jakarta tidak menghargai lagi sesuatu yang merupakan wujud nyata peninggalan sejarah dari masa lalunya? Tidak kah pemda DKI Jakarta, yang kerap mengatakan ondel-ondel sebagai ikon budaya kotanya memperhatikan kehidupan mereka? Ataukah, peran mereka hanya sebatas mulut terbuka saat pidato saja?

Haruskah Indonesia bersiap untuk segera “mengebumikan” seni boneka raksasa ini dan menambah torehan dalam buku kesenian dan kebudayaan yang sudah punah?

Entahlah.

Hanya, yang pasti, ngenes melihat para pengamen ondel=ondel ini. Pastinya hidup mereka berat, seberat boneka yang mereka kenakan.

#sedih

2 COMMENTS

  1. Di jakarta udah terlalu sumpek Pak, malahan hampir tiap saat seliweran. Jadi ondel-ondel bukan hal yang istimewa lagi kayaknya. Saya pernah liat pengamen ondel-ondel anak-anak istrirahat. mereka lagi asik ngerokok sambil hitung recehan. Semenjak itu saya stop kasih uang ke ondel-ondel krucil ini.

    • Ironis juga.. menjadi ikon, tetapi tersingkir dan cuma untuk mendulang recehan.

      Pertanyaannya, kenapa bisa begitu? Seharusnya ondel-ondel mendapat tempat spesial dan dikelola secara spesial juga mengingat seni yang satu ini merupakan simbol budaya penting bagi Jakarta?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.