Mlipir Ke Angkringan Sabrina , Secuil Yogya Di Taman Air Mancur, Bogor

Secuil.

Kesannya meremehkan karena maknanya berarti sedikit sekali. Tapi, rasanya kata itu pas sekali untuk menggambarkan tentang Angkringan Sabrina.

Berdasarkan penuturan dari si mas yang melayani, ia bukan berasal dari Yogya, wilayah dimana keberadaan angkringan merupakan salah satu ciri khasnya. Si mas-nya berasal dari Pekalongan, salah satu kota batik di Indonesia.

Namanya juga jelas sekali berbau modern dan mungkin agak tidak sesuai dengan tema angkringan yang biasanya menyajikan kuliner tradisional. Memang bukan berarti tidak ada orang bernama Sabrina di Yogyakarta.

Hanya saja, angkringan sering diidentikkan dengan ketradisionalan. Nama Sabrina yang melekat padanya tidak mengedepankan unsur ini di dalamnya. Modern banget.

Melihat jenis makanan yang ditampilkan di atas gerobak sederhananya kepada pengunjung juga “gado-gado”. Campur aduk antara unsur modern dan tradisional.

Yang modern ada bakso, terus yang biasa disajikan di tipe makanan “shabu-shabu”, beef roll, tapi juga ada wedang jahe, ati ampela yang ditusuk, sate usus, dan sebagainya.

Bervariasi.

angkringan sabrina secuil Yogya di Taman Air Mancur 6

Unsur Yogya, sebagai daerah yang kerap diidentikan dengan angkringan, ada pada dua hal.

Pertama, lagi-lagi berdasarkan penjelasan si mas yang tetap dengan ramah menjawab pertanyaan sambil melayani, pemiliknya orang Yogya.

Jadi, apapun alasannya, tetap ada unsur Yogya di dalamnya.

Belum ditambah dengan kata angkringannya sendiri, sebuah usaha kuliner dengan gerobak yang biasa menjadi tujuan para pelancong di Yogya.

Secuil. Tapi, tetap membawa nuansa Yogya keluar daerah asalnya dan di tanah Pasundan, Kota Bogor.

angkringan sabrina secuil Yogya di Taman Air Mancur Bogor

Mlipir ke Angkringan Sabrina

Tidak mewah dan wah, tetapi mungkin angkringan Sabrina bisa memberikan sebuah nuansa yang berbeda dengan nuansa ke-modern-an Kota Bogor.

Pas juga, bagi mereka yang tidak terlalu lapar dan hanya butuh sekedar jajanan sebagai teman nongkrong bersama teman atau keluarga. Atau, sekedar ingin menghabiskan malam di luar rumah.

Yang pasti, bagi mereka yang berasal dari Yogya, mungkin bisa mengobati sedikit rasa kangen terhadap kampung halaman, meski hanya secuil.

Untuk bisa mlipir ke angkringan Sabrina tidak bisa dilakukan siang hari karena baru buka pukul 6 sore dan tutup tengah malam.

Jangan harapkan sebuah pelayanan ekstra ala restoran, angkringan tetaplah angkringan, tempat jajan di pinggir jalan. Justru, itulah yang membuatnya bisa menjadi pilihan bagi yang bosan dengan ke-modern-an ala restoran atau rumah makan.

Tidak ada piring keramik mewah, yang ada piring bambu yang tanpa alas. Nasi yang dibungkus dengan daun pisang dan kertas koran. Makanan dan minuman sederhana dab harus dipanaskan memakai tungku/bara dan bukan kompor gas.

Khas angkringan.

Tempat jajan rakyat jelata.

Tidak beda dengan warkop atau warung ala tempo dulu.

angkringan sabrina secuil Yogya di Taman Air Mancur 4

Tapi, mungkin itulah yang membuatnya bisa menghadirkan nuansa jauh berbeda dari suasana sebuah kota yang semakin hari semakin jelas menjadi kota modern.

Sesuatu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sebuah kota yang agak bosan dengan modernitasnya.

Tidak heran, menurut penuturan si Mas asal Pekalongan tadi, ia akan merasa kerepotan saat akhir pekan. Pengunjungnya luber, melebihi daya tampungnya yang terbatas.

Padahal, kalau melihat lokasinya mangkal, di ujung Jalan Ahmad Yani, tepat di seberang SPBU Total di kawasan Taman Air Mancur, pastinya tidak nyaman sama sekali.

Hanya ada dua bangku panjang dari bambu, beberapa kursi plastik dan sebuah lesehan kecil di tanah kosong di belakang gerobak.

Sederhana sekali.

Dan, mungkin, memang begitulah angkringan seharusnya. Justru kalau ada di tempat mewah, rasanya tidak akan terasa seperti angkringan.

angkringan sabrina secuil Yogya di Taman Air Mancur 2

Makanan sederhana nan murah (Makan bertiga, bersama tim Lovely Bogor hanya menghabiskan 76 ribu rupiah saja, termasuk minum).

Tempat seadanya.

Pinggir jalan.

Tapi, angkringan Sabrina menawarkan sesuatu, “secuil nuansa Yogya” yang membuatnya menjadi “berbeda” dengan yang biasa ditemukan di Kota Hujan.

Hal yang mungkin membuatnya masih bisa bertahan dalam kompetisi di dunia kuliner di kota ini.

Dan, mungkin bisa memberi Anda pilihan jika ingin menikmati waktu senggang bersama teman di malam hari. Kongkow, makanan kecil, dan udara malam pastinya sudah lebih dari cukup untuk menghadirkan kegembiraan di hati dan melepaskan kebosanan dalam rutinitas dunia modern yang kadang melelahkan.

(Catatan : untuk memesan, pilih saja makanan sendiri dan taruh di atas piring. Serahkan kepada si Mas untuk dipanggang di atas tungku. Pembayaran dilakukan setelah selesai makan)

Mari Berbagi