Pernah ingat, sekitar 2 tahun lalu, sebuah cerita beredar di dunia maya tentang tingkah laku turis asal Indonesia yang tidak membereskan meja setelah selesai di sebuah restoran di Haneda, Tokyo? Kisah yang menjadi viral karena mendapatkan perhatian dari banyak kalangan.

Sesuatu yang mendapat cibiran banyak orang karena para turis itu dianggap tidak tahu etika karena kebiasaan “beberes setelah makan” sudah semakin umum di banyak negara.

Tidak akan ada pelayan yang datang membawa lap dan perlengkapan lainnya akan membereskan meja setelah tamunya selesai. Para tamu diharapkan untuk membersihkannya sendiri untuk pengunjung berikutnya.

Bahkan, tidak jarang pengunjung , setelah selesai makan, juga harus membawa nampan makanan bekas pakai ke tempat yang disediakan.

Sebuah budaya yang semakin lama semakin berkembang di banyak negara maju. Kebiasaan yang dianggap lebih baik dalam menumbuhkan kesadaran tentang kebersihan lingkungan dan meningkatkan keikutsertaan setiap anggota masyarakat dalam setiap usaha ke arah sana,

Selain tentunya menumbuhkan kesadaran bahwa kenyamanan itu harus dibangun bersama-sama termasuk para pengunjung sendiri.

Sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan di Indonesia.

Sudah merupakan pemandangan yang biasa melihat meja di sebuah restoran / rumah makan berantakan dan seperti kapal pecah setelah ada yang selesai bersantap disana.

Pikiran, “Ah, nanti juga ada pelayan yang membersihkan” sampai sekarang masih sangat dalam tertanam di benak banyak orang. Mereka berpikir karena sudah membayar termasuk “service charge”, tanggungjawab untuk “beberes meja” itu tidak ada pada dirinya.

Sebuah pemikiran yang masih kental aroma feodalnya.

Sudah kuno.

Sebuah pemikiran yang sudah banyak dibuang oleh masyarakat di belahan dunia lain. Tapi, sayangnya justru masih menjiwai banyak tindakan dalam masyarakat di Indonesia, termasuk di Bogor.

Menumbuhkan Budaya Beberes Setelah Makan Di Tempat Umum - Reffles Foodlife 2

Itulah mengapa menjadi sesuatu yang menyegarkan ketika berkunjung ke Raffles Foodlife, sebuah foodcourt di Bogor Junction, melihat ada upaya untuk menumbuhkan budaya beberes setelah makan di Bogor.

Setiap meja dipasangi sticker berwarna dasar kuning berisi slogan, “Yuk Beberes Setelah Makan”.

Pada beberapa tiang terpasang juga sticker-sticker yang sama dalam ukuran yang lebih besar.

Menumbuhkan Budaya Beberes Setelah Makan Di Tempat Umum - Reffles Foodlife 3

Pengunjung Raffles Foodlife belum sampai perlu membawa nampan bekas makan sendiri ke suatu tempat. Mereka cukup membersihkan, menumpuk piring dan gelas secara rapi, dan petugas akan datang mengambil.

Itupun sudah sebenarnya sudah sangat membantu karena meja tetap kelihatan rapi dan bersih meski sudah dipakai. Pastinya juga menghemat waktu dan tenaga para staf pembersih karena mereka hanya perlu mengambil tumpukan piring dan gelas yang sudah dirapikan pengunjung.

Sebuah bukti bahwa tindakan sekecil ini sudah menghadirkan sesuatu yang berbeda. Pemandangan di sekitar Raffles Foodlife tidak lagi menyebalkan akibat tebaran piring kotor berantakan beserta sampah di atas meja.

Menumbuhkan Budaya Beberes Setelah Makan Di Tempat Umum - Reffles Foodlife 4

Sudah semua pengunjung melakukannya ? Belum. Bukan sesuatu hal yang aneh kalau orang Indonesia sulit sekali patuh pada aturan. Terlihat dari masih adanya pengunjung yang pergi begitu saja tanpa membereskan mejanya. Tapi, juga sudah banyak piring dan gelas bekas pakai yang tertumpuk rapi saat pengunjung meninggalkannya.

Masih akan butuh waktu yang panjang untuk merubah pola pikir manusia Indonesia. Tidak akan mudah.

Tetapi…

Setidaknya, sebuah usaha kecil sudah dilakukan oleh paling tidak satu institusi di Bogor untuk menjadikan masyarakat kota ini segera sadar bahwa ada nilai-nilai yang harus diubah.

Membangkitkan kesadaran untuk tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai saja masih menghadirkan pro dan kontra, apalagi etika yang seperti ini.

Hanya saja, kalau tidak dimulai, maka masyarakat Indonesia akan semakin tertinggal dan kejadian-kejadian memalukan seperti yang terjadi di Jepang beberapa tahun yang lalu itu akan terus terulang.

Tidak akan menyenangkan bahkan sekedar membacanya saat melihat manusia-manusia Indonesia dianggap tidak tahu etika saat berada di negara lain.

Sesuatu yang harus diubah mulai sekarang.

2 COMMENTS

  1. Di Jogja, ada gerai KFC yang sudah memberlakukan aturan serupa. Mereka menempel stiker di tiap meja supaya pelanggan tahu dan yang sudah tahu bisa ingat. Cuma kalau hendak diterapkan di tempat-tempat lain, barangkali sosialisasinya harus masif. Kayaknya nggak bisa kita cuma mengandalkan stiker atau plang. Bisa-bisa ujung-ujungnya kayak rambu-rambu “Belok Kiri Ikuti Lampu APILL” yang sampai sekarang, di mana-mana, masih kerap dilanggar. 😀

    • BEtul KFC memang sudah menerapkan hal serupa. Dan, sama sekali tidak salah butuh lebih dari sticker untuk membudayakan hal yang satu ini.

      Sangat betul.

      Tapi memang tidak pernah mudah mengubah sebuah kebiasaan dan akan butuh waktu. Langkah ini memang masih awal, dan perlu kesadaran setiap orang untuk mau ikut serta

      Perlahan pasti bisa, kalau kita mau ikut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.