Memotret Orang Kecil Untuk Menggambarkan Kehidupan Di Bogor
Bukit Cimanggu City, Januari 2016

Entah mengapa, setelah memperhatikan berbagai jepretan kamera belakangan ini, saya menemukan banyak sekali potret pedagang kaki lima. Paling tidak terdapat puluhan foto sejenis dengan yang di atas terdapat di hard disk komputer dan SD Card si Finepix HS 35EXR.

Rupanya memotret ORANG KECIL, atau kalau dikatakan secara gamblang, masyarakat berperekonomian rendah menjadi salah satu kebiasaan saya ketika mengambil gambar. Kalau dipikirkan ulang, memang sejak saya memfokuskan diri memperbaiki tehnik pengambilan gambar untuk blog ini, warga Bogor dari kalangan tersebut sering menjadi obyek lensa kamera.

Mungkin, kalau Erik Prasetya, seorang tokoh fotografi jalanan Indonesia yang sudah malang melintang selama puluhan tahun melihatnya, ia akan serta merta menyebutkan bahwa saya terjebak dalam gejala atau gaya Eksotisme dari sudut pandang voyeur.

Untuk mudah dimengerti, eksotisme dari sudut ini akan memandang sesuatu atau seseorang di luar kelasnya sebagai sesuatu yang eksotis alias menarik, indah. Nuansa yang mirip dengan Tari Kecak dari sudut pandang orang asing yang belum pernah melihatnya.

Jadi, karena saya berasal dari (katakanlah) “kelas menengah”, maka seorang pengemis atau pedagang kaki lima, yang dianggap berada di luar kelas tersebut, sebagai sesuatu yang unik dan menarik.

Jawabannya, may be yes, may be no (terserah siapapun untuk menilai). Saya sebenarnya tidak peduli sama sekali dan sangat menentang tentang pengkastaan berdasarkan kategori apapun dalam masyarakat. Tidak seharusnya hal tersebut dilakukan, bahkan dalam fotografi sekalipun.

Meskipun demikian, kalau menilik hasil potret, maka kesan yang timbul bisa dimengerti. Tidak disalahkan kalaupun ada yang mengatakan demikian. Toh, pada kenyataannya memang diakui bahwa saya memandang mereka sebagai sesuatu yang “harus” saya abadikan dalam sebuah foto.

Hanya yang berbeda adalah alasannya. Orang-orang “kecil” tersebut tidaklah unik. Biasa saja. Tidak ada yang unik dalam kehidupan mereka dibandingkan dengan apa yang saya jalani sehari-hari, yaitu mencari nafkah. Saya pun sama ‘orang kecil’ nya seperti mereka.

Penjual Kembang Gula Bogor
Jalan Juanda, Januari 2016

Latar belakang banyaknya saya memotret orang kecil tersebut adalah karena ide awal blog ini adalah menampilkan Bogor secara apa adanya.

Sudah banyak sekali blog atau website yang menulis dengan penekanan wisata, kuliner, berita dan lainnya. Lovely Bogor tidak pernah ditargetkan hanya untuk salah satu bagian dari hal tersebut saja.

Ketika pertama kali membuat blog ini, deskripsi blog terangkum dalam sebuah kalimat “The Journey To The Rain City Of Mine”, Sebuah Perjalanan Di Kota Hujan Saya.

Apa yang ingin ditampilkan dalam blog ini akan mewakili apa yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tentu saja dari sudut pandang saya sebagai pengelola. Keindahan alam dan tempat wisata akan dihadirkan, tetapi begitu pula dengan berbagai kesemrawutan di kota ini. Keberhasilan dan kegagalan akan mendapatkan porsi yang seimbang. Susah, senang, sedih, gembira akan coba diuraikan dengan kata maupun gambar/foto.

Begitu pula dengan manusia dan tingkah lakunya.

Pengambilan foto orang kecil atau yang berasal dari golongan ekonomi tidak mampu adalah sebuah usaha untuk menampilkan pada khalayak pembaca sisi lain yang sering tertutup oleh gemerlapnya industri pariwisata di Bogor.

Jarang sekali mereka tampil di halaman depan media cetak, kalau tidak ada berita bombastis atau propaganda yang menyertainya. Mereka lebih sering menjadi obyek dibandingkan subyek.

Oleh karena itulah, LB akan mencoba menampilkan sebuah sisi lain dari wajah Bogor. Wajah yang mungkin tidak enak dilihat, bahkan menyakitkan. Meskipun demikian, itulah salah satu sisi  Bogor. Sesuatu yang sebenarnya terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Penjual Jas Hujan Sekali Pakai Bogor
Jalan Soleh Iskandar, Januari 2016

Mengapa media foto yang dipakai adalah karena itu cara termudah menggambarkan realita kehidupan yang ada. Dibandingkan dengan mencoba menguraikan dalam kata-kata yang sering terlalu panjang tetapi tidak mengena, menampilkan sebuah foto akan bisa menjelaskan lebih tepat sasaran.

Klise. Tidak berseni. Bukan sebuah masalah.

Selama hal itu bisa menampilkan salah satu bagian kehidupan di Bogor, maka sudahlah cukup. Meskipun demikian, saya akan terus berusaha meningkatkan kualitas dari setiap foto yang diambil agar bisa meninggalkan kesan lebih dalam pada pembaca.

Jadi, memotret orang kecil itu tidak selamanya karena menganggap mereka eksotis, atau unik. Bisa jadi, karena mereka menggambarkan bagian lain dari kehidupan di sebuah kota.

Sesederhana itu saja.

Pedagang Kaki Lima Bogor
Jalan Jalak Harupat, Januari 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.