Yap. Kalau boleh saran, jika sempat terpikirkan di kepala Anda untuk buang sampah ke sungai di Kota Bogor (atau dimanapun), ada baiknya dihentikan. Buang jauh-jauh pemikiran itu. Bukan sebuah kebiasaan yang bagus.

Memang Anda tidak repot. Tinggal lempar ke aliran sungai, dan sepertinya sampah itu akan terbawa entah kemana. Masalah Anda selesai, dan memang kemungkinan kecil sekali akan menjadi “masalah”.

Maklum saja, di Kota Hujan yang sedang bergerak menjadi sebuah kota modern, masalah sampah masih dianggap bukan hal yang urgent. Belum lagi jumlah petugas yang mengawasi aliran sungai juga masih kurang sekali. Meski ada Perda no 9 Tahun 2012 tentang larangan membuang sampah tidak pada tempatnya menyebutkan dengan jelas larang buang sampah ke sungai, masalah dalam penerapannya masih jauh sekali dari ideal.

Belum ditambah karakter masyarakat yang masih cueks, memaklumi, dan tidak peduli, pada urusan yang seperti ini. Jangan heran juga, di Bogor, mayoritas orang masih menganggap biasa membuang sampah sembarangan.

Jadi, jika Anda hendak membuang sampah ke sungai, jujur saja, rasanya paling tidak kemungkinan kecil sekali menjadi masalah. Lha ya wong mayoritas masih tidak peduli dan petugasnya masih jarang dan kadang juga tidak bisa bersikap tegas.

Iya kan?

Mau Buang Sampah Ke Sungai - Jangan Deh Bikin Repot Banyak Orang 2

Tetapi…

Sebagai manusia beradab tentu Anda punya empati. Iya kan? Tentunya Anda punya perasaan.

Nah, dalam kasus ini, jika Anda membuang sampah ke sungai, jangan hanya berpikir bahwa masalah Anda selesai. Masalah Anda sebenarnya hanya dilemparkan kepada orang lain dan orang lain lah yang repot menyelesaikan masalah tersebut. Sebuah hal yang sepertinya kecil, tetapi bisa menunjukkan seberapa beradabnya Anda sebagai manusia.

Contohnya….

Hari ini, saya menyempatkan diri untuk ikut serta, sebagai penonton saja, dari kegiatan GOTONG ROYONG BEBERSIH SUNGAI CILIWUNG yang digagas oleh Komunitas Peduli Ciliwung bekerja sama dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Bogor dan Tim Naturalisasi Sungai Ciliwung.

Sebuah kegiatan rutin yang dilakukan para suikarelawan di wilayah Bogor yang prihatin terhadap situasi dan kondisi dari sungai yang mengalir membelah Kota Hujan itu.

Kondisi Ciliwung sendiri memang sangat memprihatinkan dengan begitu banyak sampah yang bertebaran di setiap pelosok.

Untuk kali iini, kegiatan itu dilaksanakan di wilayah Jembatan Satu Duit, Warung Jambu. Tidak begitu jauh dari salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Bogor, Plaza Jambu Dua.

Dan, melihat perjuangan yang harus dilakukan para relawan tadi membuat tidak henti pikiran yang memaki mereka yang seenak udelnya melemparkan sampah ke sungai. Rasanya ingin menggetok kepala si pembuang sampah.

Perjuangan Relawan Peduli Ciliwung Dalam Memungut SampahPerjuangan Relawan Peduli Ciliwung Dalam Memungut Sampah di Sungai

Jarak Jembatang Satu Duit dan permukaan sungai dimana sampah berada lumayan tinggi, sekitar 15 meter. Dan, tidak ada jalan untuk menuruninya.

Para relawan tidak bisa dengan mudah turun dan kemudian memungut sampah. Diperlukan skill seperti yang biasa dimiliki pemanjat tebing atau tim penyelamat. Jadilah, para relawan yang ikut dalam aksi bersih-bersih tadi harus berjuang dulu turun dari ketinggian sebelum bisa memunguti sampah yang ada di bawah.

Mudah? Tidak. Sama sekali tidak.

Kali ini hanya beberapa peserta yang sudah terlatih turun tebing menggunakan tali dan perlengkapan lain saja yang bisa melakukannya.

Itupun dengan perlengkapan khusus.

Repot? Jangan tanya. Untuk mengenakan dan mempersiapkan perlengkapannya saja memakan waktu. Belum ditambah untuk menuruni dan kemudian memunguti sampah yang berserakan dan menggantung di tiang.

Pastinya Anda tidak mau melakukan hal itu. Apalagi tanpa bayaran. Iya Kan?

Nah, berpegang pada pepatah ” Kalau tidak mau dicubit, jangan mencubit”, ada baiknya jika memang terkilas niat membuang sampah ke sungai karena Anda terlalu malas berjalan ke tempat pembuangan sampah, ingat saja pepatah itu.

Ubah sedikit menjadi, jika Anda tidak mau dibuat repot oleh sampah, janganlah membuat orang lain yang repot. Siapapun yang membuang sampah ke Ciliwung yang pada akhirnya menyebabkan para relawan repot berjibaku seperti ini, jelas bukanlah orang yang beradab. Sudah tidak mematuhi aturan yang ditetapkan, mereka juga tidak adil karena “membuat orang menjadi repot karena ulahnya” Mau mencubit tapi tidak mau dicubit.

Biarkan empati Anda yang berbicara.

Ini masih sebuah hal kecil saja dibandingkan berbagai kerepotan lain yang diakibatkan kebiasaan buruk yang satu ini. Sebut saja “kerepotan” lain, seperti banjir, penyakit, dan hilangnya sumber air bersih bagi banyak orang.

Jadi, berikan waktu sejenak jika tangan sudah gatal melemparkan sampah ke sungai. Beberapa saat untuk mengingat bahwa Anda sedang melempar masalah dan pada akhirnya akan membuat banyak orang lain menjadi repot.

Pikirkan itu Kawan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.