Makam Raden Saleh Bogor
Penampakan Makam Raden Saleh

Ngumpet! Itu satu kata yang cocok untuk Makam Raden Saleh di Kota Bogor ini. Penulis membutuhkan waktu untuk menemukan keberadaannya. Baru setelah bertanya kepada beberapa orang maka makam ini bisa ditemukan.

Letaknya tersembunyi di balik padatnya pemukiman padat penduduk di kawasan Bondongan, Bogor Selatan. Tidak adanya petunjuk yang menandakan bahwa di tempat tersebut terdapat makam salah seorang maestro seni lukis Indonesia memang menyulitkan siapapun yang ingin bertandang.

Mengapa Lovely Bogor ingin menemukan Makam Raden Saleh? Tentu saja harus! Makam Raden Saleh adalah salah satu situs yang termasuk cahar budaya di Kota Bogor. Oleh karena itu, tentu saja menuliskan tentang tempat yang satu ini sudah menjadi sebuah keharusan.

Apalagi mengingat siapa Raden Saleh dan apa yang ditorehkannya dalam sejarah Indonesia.

Mengapa Makam Raden Saleh dijadikan cagar budaya?

Nah, pertanyaan tersebut tentu harus bermula pada siapa Raden Saleh itu? Apa perannya dalam sejarah Indonesia sehingga tempat peristirahatan terakhirnya saja dimasukkan dalam daftar benda atau situs yang harus dilindungi di Kota Hujan.

Raden Saleh adalah salah seorang maestro seni lukis Indonesia yang telah menghasilkan banyak karya fenomenal semasa hidupnya. Dua buah karyanya yang bernilai tinggi bisa disebutkan adalah “Penangkapan Pangeran Diponegoro” dan “Perkelahian dengan Singa (Antara Hidup dan Mati)”.

Makam Raden Saleh Bogor
Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Karya Raden Saleh

(Image : Wikimedia Commons)

Lukisan yang pertama dibuatnya di tahun 1857 sebagai cetusan rasa nasionalismenya terhadap karya sejenis dari Nicolas Pieneman tahun 1835. Karya¬†pelukis Belanda yang disebutkan terakhir sebenarnya berjudul “Penyerahan Diri Pangeran Diponegoro”. Raden Saleh membuat lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” sebagai tandingannya.

Lukisan kedua menggambarkan pertarungan antara seorang penunggang kuda dengan seekor singa. Digambarkan dalam lukisan ini pertarungan yang mempertaruhkan nyawa dari yang terlibat di dalam pertarungan ini.

Kedua lukisan ini sangat terkenal bukan hanya di Indonesia. Lukisan yang pertama bahkan lebih banyak tinggal di Belanda sejak dibuatnya tahun 1857. Lukisan ini baru dihadiahkan kepada Indonesia pada tahun 1978 untuk memperkuat hubungan kebudayaan antar kedua negara.

Sebelumnya lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” ini dimiliki oleh Raja Belanda. Raden Saleh menghadiahkannya kepada sang raja yang sangat terkesan akan kemampuan melukis seorang yang berasal dari Hindia Belanda dengan memakai gaya yang merupakan ciri seni lukis Eropa masa itu.

Memang sejak tahun 1829, Raden Saleh telah tinggal di daratan Eropa. Bakatnya dalam menulis dan hubungannya dengan Reindward, sang pendiri Kebun Raya Bogor membawanya mendapatkan perjalanan khusus ke benua ini untuk belajar seni lukis. Dukungan dari petinggi Hindia Belanda, termasuk Van Der Capellen, Gubernur Jenderal Belanda antara tahun 1816-1826 memuliskan langkahnya untuk melanglang buana.

Disanalah pelukis yang lahir tahun (1807 atau 1811, ada dua versi) ini mengenal aliran Romantisisme. Kekagumannya pada pelukis legendaris aliran ini Perancis Ferdinand Victor Eugene Delacroix membuat ciri-ciri romantisisme yang menggambarkan emosi manusia secara kuat dan detail melekat kental dalam karya lukisnya.

Dalam pengembaraannya di luar Indonesia, Raden Saleh juga sempat tinggal beberapa bulan di benua hitam, Afrika. Tepatnya di Aljazair.

Lukisan Singa Menyerang Kuda Karya Raden Saleh
Lukisan Singa Menyerang Kuda

(Image : Wikimedia Commons Lion Attacking Horse)

Disanalah ia juga terpesona oleh sosok hewan-hewan yang ada di benua tersebut. Itulah yang mengilhaminya untuk menghasilkan belasan karya bertemakan hewan selama hidupnya.

Raden Saleh meninggal di tahun 1880 dan dimakamkan di wilayah Empang, yang sekarang dikenal dengan Jalan Pahlawan atau Bondongan ini.

Makam Raden Saleh di Kota Bogor

Makam Raden SalehMengingat betapa tenarnya nama Raden Saleh di kancah seni lukis Indonesia di masa itu, agak mengherankan melihat betapa tersembunyinya tempat peristirahatannya.

Padahal, tiga tahun setelah kematiannya, di Belanda diadakan pameran lukisan untuk mengenangnya yang diprakarsai oleh Raja Belanda saat itu.

Salah satu lukisannya pernah dilelang di balai lelang terkenal Christie’s dan nilainya mencapai Rp. 5,5 milya rupiah. Sesuatu yang menunjukkan betapa nama Raden Saleh begitu mendunia.

Makam pria bernama asli Raden Saleh Sjarif Bustaman ini sebenarnya cukup rapi dan terawat. Selain terdapat makam pria tersebut bersanding dengan makam istri keduanya, Raden Ayu Danureja atau Danudirja juga terdapat sebuah dinding peringatan bertuliskan namanya.

Makam Raden SalehDi bagian belakang, terlihat beberapa petak dinding yang dilukis dengan fotonya. Juga terdapat beberapa papan informasi yang menjelaskan tentang siapa Raden Saleh tersebut.

Cukup terawat. Tidak mengherankan karena kompleks makam Raden Saleh ini sejak ditemukan kembali tahun 1823 telah mengalami dua kali pemugaran.

Yang pertama dilakukan di tahun 1953 atas perintah dari Presiden Republik Indonesia di masa itu, Ir. Soekarno. Insinyur yang mendapat tugas di masa itu adalah Friederich Silaban, sang arsitek awal Mesjid Raya Bogor. (Simak tulisan Mesjid Raya Bogor РJejak Pluralis untuk lebih jelasnya)

Yang kedua dilakukan tahun 2008 dengan didukung oleh Galeri Nasional. Saat itu bertepatan dengan dua ratus tahun Raden Saleh.

Makam Raden Saleh Bogor
Lukisan di dinding Makam Raden Saleh

Pemugaran dilakukan karena sepertinya makam Raden Saleh sama dengan banyak situs bersejarah lainnya juga mengalami penjarahan. Dahulunya, konon kompleks ini terbuat dari marmer. Sayangnya akibat tangan-tangan tak bertanggung jawab, kerusakan terjadi disana sini sehingga memerlukan pemugaran.

Ada satu sisi menarik, sekaligus membuat miris dari berbagai tulisan tentang situs Makam Raden Saleh ini. Semuanya terlepas dari ketenaran nama sang maestro seni lukis ini.

Menurut beberapa orang yang berkunjung ke tempat ini, kesemuanya menuliskan bahwa pengelolaan Makam Raden Saleh ini bisa dikata hanya dilakukan secara mandiri.

Seorang warga Bogor, dengan inisiatifnya sendiri telah merawat situs ini. Memang, pada lokasi terdapat papan informasi yang menjelaskan bahwa situs ini merupakan sebuah cagar budaya Kota Bogor.

Makam Raden Saleh BogorMeskipun demikian, kalau informasi yang disampaikan oleh beberapa tulisan adalah benar, maka sebenarnya perawatan dilakukan karena kesadaran pribadi. Memang sang perawat makam mendapatkan “gaji” yang tidak seberapa besar dan bahkan tidak mampu menutupi biaya operasional perawatan situs Makam Raden Saleh ini.

Kalau memang apa yang tertulis itu benar, sayang sekali. Sebuah situs penting dan merupakan seorang yang sangat luar biasa di masanya, ternyata kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Meskipun bukan sesuatu yang aneh. Sudah beberapa tempat cagar budaya di Kota ini mengalami nasib yang serupa.

Sesuatu yang Lovely Bogor berniat pastikan untuk bertemu langsung dengan sang penjaga Makam Raden Saleh. Kebetulan pada saat Lovely Bogor datang, sang penjaga tidak berada di tempat.

Suasana Makam Raden Saleh sendiri bisa dikata sepi. Mungkin karena lokasinya tidak ngumpet di balik tebok-tembok rumah dan berada dalam gang kecil , membuatnya tidak terlihat oleh orang yang lalu lalang di Jalan Pahlawan. Mungkin pula ketiadaan papan informasi, membuat orang tidak sadar bahwa ada sebuah situs penting di balik perumahan padat penduduk ini.

Mungkin, ide yang mendasari pembuatan Lovely Bogor tidaklah salah. Salah satu ide dasar membangun blog ini adalah untuk memperkenalkan Bogor dan berbagai bagiannya kepada masyarakat luas.

Bila Anda membaca tulisan ini, penulis mengajak Anda untuk berkunjung ke Makam Raden Saleh ini. Sebuah situs yang mengingatkan kepada seorang maestro yang dihargai oleh banyak orang. Sudah sepantasnya kita sebagai orang Indonesia pun mengenalnya.

Caranya mudah kok untuk menuju ke situs Makam Raden Saleh ini. Lovely Bogor akan coba memandunya.

Cara menuju Makam Raden Saleh

Makam Raden Saleh BogorCaranya sama dengan yang sudah ditulis tentang cara menuju Prasasti Batu Tulis atau ke Taman Makam Pahlawan Dreded.

Makam Raden Saleh berada di jalan yang sama atau paling tidak searah.

Bila Anda memakai angkot no 02 Merah dari Stasiun Bogor, setelah Taman Makam Pahlawan Dreded, situs makam ini berjarak kurang lebih 1 kilometer. Patokannya jangan sampai anda melewati Jembatan yang menuju ke kawasan Empang.

Kurang lebih 100 M sebelum jembatan itu terdapat sebuah gang kecil. Namanya Gang Raden Saleh. Hanya 50 meter dari ujung gang tersebut Anda akan menemukan situs ini.

Kalaupun Anda bertanya, maka orang di sekitarnya akan segera menunjukkan arah yang dimaksud.

Tidak dipungut biaya untuk memasuki situs Makam Raden Saleh. Hanya mengingat biaya operasional perawatan, ada baiknya bila Anda bisa meninggalkan “sesuatu” untuk membantu biaya perawatan. Setidaknya untuk menunjukkan Anda peduli pada kelestarian sebuah cagar budaya ini.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.