Lebih Merasa Aman Di Dalam Stasiun Cilebut Dan Di Atas Kereta Daripada Di Luar

Sistem yang belum sempurna lebih baik daripada tidak ada sistem sama sekali

Entah siapa yang mengatakan itu, tetapi kebenarannya sulit dibantahkan. Kehadiran sebuah sistem, seberapapun penuh dengan kekurangan akan memastikan adanya keteraturan dibandingkan tanpa sistem yang menjamin chaos, kekacauan.

Lebih Merasa Aman di Dalam Stasiun Dibandingkan Di Luar

Setiap Senin, pagi hari, biasanya di berbagai media online dan media sosial ada sebuah topik rutin yang tayang. Isinya hal kecil tapi selalu mengundang perhatian.

Antrian calon penumpang Commuter Line atau KRL Jabodetabek di stasiun Bogor. Panjangnya antrian mengular sampai ke area parkir.

Setiap awal pekan, berita tersebut akan nangkring di beberapa media besar, seperti Detik atau Kompas.

Bad news is good news.

Opini yang timbul dalam masyarakat, di tengah pandemi Covid-19, yang hingga kini belum tampak ujungnya, adalah PT KCI seperti mengeluarkan kebijakan yang bisa menimbulkan klaster penderita baru dari penyakit tersebut.

Kerumunan calon penumpang yang “terhambat” masuk ke dalam stasiun dipandang sangat berpotensi menjadi salah satu sumber penularan virus berbahaya tersebut.

Tidak salah, tetapi, sebagai seorang pengguna Commuter Line dan sudah harus menjalani WFO (Work From Office) sejak 2 Juni, atau hampir dua bulan yang lalu, saya berpandangan berbeda.

Justru, saya pikir PT KCI telah berbuat sangat banyak untuk mengamankan wilayah yang menjadi tanggung jawabnya, stasiun dan kereta.

Dan, saya merasakan hasil dari usaha tersebut. Saya lebih merasa aman di dalam stasiun (Cilebut) dan di atas kereta, dibandingkan saat berada di luar.

Memang, stasiun keberangkatan yang digunakan adalah Stasiun Cilebut sampai ke Stasiun Gondangdia, bukan Stasiun Bogor. Meskipun demikian, melihat suasana di stasiun setelah Bogor itu dan di atas kereta, saya harus memberikan apresiasi yang besar terhadap pengelola angkutan massal itu.

Penerapan Ketat Protokol Kesehatan di Stasiun Cilebut Menimbulkan Rasa Aman

Lebih Merasa Aman Di Dalam Stasiun Cilebut Dan Di Atas Kereta Daripada Di Luar

Tahu apa yang harus dilalui sebelum bisa masuk ke dalam kereta jurusan Stasiun Jakarta Kota setiap harinya?

Begini tahapannya

  • Sebelum masuk stasiun harus dicheck suhunya
  • Langsung naik peron? Tidak bisa! Jika kereta ke Jakarta Kota belum tersedia, maka kita tidak diperkenankan naik ke peron untuk menunggu. Penumpang harus menunggu di hall dan harus berdiri di atas tanda di lantai
  • Jangan kaget kalau petugas menegur kalau tidak berdiri di tanda yang ditetapkan
  • Ketika peron sudah penuh, meski jadwal kereta berikutnya adalah yang hendak kita pakai, penumpang tetap tidak diperkenankan naik ke peron. Mereka harus menunggu di hall, sampai pintu terbuka
  • Saat pintu kereta terbuka, tetapi penumpang sudah terlalu banyak, petugas akan menahan Anda untuk naik kereta berikutnya
  • Jangan heran kalau Anda diusir kalau tidak memakai masker, saya pernah melihat seorang calon penumpang diperintahkan keluar karena tidak memakai masker
  • Jangan coba nyelonong masuk karena setiap hari saya melihat mereka yang mencoba dipaksa menunggu perintah

Penerapan protokol kesehatan di Stasiun Cilebut ketat. Petugasnya pun bukan hanya Petugas Keamanan Dalam dan staf KCI saja. Mereka dibantu petugas dari Kepolisian RI membawa senjata laras panjang dan petugas dari unsur TNI.

Meski tetap saja ada penumpang badung yang tidak mau mengikuti aturan, terlihat sekali keteraturan dan kepatuhan di dalam stasiun Cilebut.

Ketegasan petugas dan jumlah yang mencukupi menjamin keteraturan tersebut tetap terjaga.

Di dalam kereta pun, suasana masih terasa aman karena masing-masing penumpang berusaha menjaga diri sendiri dan mematuhi aturan yang ada. Bahkan, dalam situasi padat sekalipun, mereka tetap berusaha menghindari berhadap-hadapan dengan penumpang lain.

Tidak sedikit bahkan yang sudah mengenakan jaket atau baju lengan panjang sebelum Kementerian Perhubungan mengeluarkan peraturan itu.

Di berita memang terkesan buruk dan menakutkan, tetapi sebenarnya tidak begitu. Tetap memang kekhawatiran ada karena masih adanya penumpang bandel dan tidak mau taat aturan, tetapi secara keseluruhan kondisinya lebih kondusif dan mendukung upaya pencegahan penularan Covid-19.

Protokol kesehatan yang dijalankan dengan ketat, petugas yang tegas memastikan semua mengikuti aturan yang ada, dan kedisiplinana penumpang yang semakin baik.

Physical distancing dan berbagai protokol lain dijalankan dengan sungguh-sungguh oleh semua pihak

Semua berperan menjadikan suasana di dalam stasiun dan kereta terasa “aman”. Tidak semenakutkan yang dibayangkan banyak orang.

Bandingkan dengan di luar stasiun Cilebut!

Tanpa masker? Sudah biasa.

Sepulang kerja, saat keluar dari stasiun Cilebut terasa sekali peralihan dari dunia yang teratur ke dunia antah berantah.

Pandangan pertama saat keluar stasiun di Kabupaten Bogor ini adalah deretan ojeg yang pengendaranya tidak menjaga jarak dan tidak memakai masker. Mereka saling berteriak dan berbincang dalam jarak dekat.

Berjalan beberapa meter melewati kemacetan rutin disana, akan terlihat pedagang buah tanpa masker menawarkan dagangannya, dan banyak orang hilir mudik tanpa masker atau bergerombol ngobrol dengan santai.

Lebih Merasa Aman Di Dalam Stasiun Cilebut Dan Di Atas Kereta Daripada Di Luar

Perjalanan antara stasiun dan tempat penyimpanan motor Bayu Berkah yang hanya berjarak kurang dari 50 meter saja, terasa lebih “menyeramkan” dibandingkan saat berada di dalam stasiun.

Bukan hanya itu saja, saat berkendara dari Cilebut sampai ke rumah di Bukit Cimanggu City, yang berjarak 3-4 kilometer, akan terlihat hal yang sama dimana perintah untuk memakai masker dan jaga jarak seperti tidak ada.

Meski data dari pemerintah menunjukkan bahwa setiap hari ribuan pasien baru terkonfirmasi positif, pandemi Corona seperti sudah usai disana.

Mungkinkah karena orang-orangnya sakti dan kebal terhadap virus ini?

Yang paling mungkin jawabannya adalah disana aturan tidak ditegakkan dengan baik, tidak ada petugas yang mengawasi dan memaksa, dan kesadaran masyarakat yang rendah

Seperti di antah berantah saja.

Jadi, itulah yang saya sampaikan kepada para tetangga di lingkungan yang sebelumnya merasa khawatir karena saya menggunakan KRL untuk bekerja di masa wabah.

Saya jelaskan bahwa protokol kesehatan dijalankan dengan ketat oleh semua pihak di dalam stasiun dan kereta. Tidak sempurna, tetapi semua pihak berusaha menjalankan perannya sebaik mungkin.

Saya jelaskan bahwa saya merasa lebih aman dan nyaman di stasiun daripada di luarnya. Bahkan, dibandingkan saat berada di cluster tempat tinggal sekalipun karena banyak tetangga yang mulai abai dan malas menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan selama pandemi Corona.

Jempol untuk usaha tim PT KCI, Kereta Commuter Indonesia dalam hal ini. Di tengah situasi sulit seperti sekarang, mereka bisa memberikan rasa nyaman dan aman bagi penumpangnya.

Mari Berbagi