BANDROS. Kadang juga disebut KUE BANDROS.

Apabila mengucapkan satu kata ini kepada warga Jawa Barat, pastinya mereka akan langsung mengerti. Dalam benak mereka akan terbayang salah satu penganan khas Jawa Barat.

Kue Bandros - JajananTradisional Yang Sering Menimbulkan Perdebatan 2Tetapi lain halnya jika kita berbicara tentang bandros kepada warga di luar Jawa Barat. Kemungkinan besar, tentang kue bandros akan menimbulkan perdebatan kecil.

Seperti ini contohnya:

A : (warga Jawa Barat)
B : (warga di luar Jawa Barat)

A : ‘Mau kue bandros?’
B : ‘Bandros? Apaan, tuh?’
A : ‘Itu, lho..Kue yang seperti perahu, warnanya putih, ada kelapa mudanya. Terus, di atasnya dikasih gula pasir.’
B : ‘Ohhhhh..Kue pancong, ya?’

Di sinilah biasanya perdebatan kecil itu akan dimulai.

A : ‘Pancong? Bukan!..Beda lagi..Ini, mah, bandros.’
B : ‘Iya, kalo di daerah saya namanya kue pancong. Itu, kan, yang dari tepung beras?’
A : ‘Bukan, ini bandros bukan pancong.’
B : ‘Tapi, dimana-mana kue seperti itu terkenalnya kue pancong.’
A : ‘Kalo memang namanya pancong, kenapa kalo di resep, suka ada tertulis, siapkan cetakan kue pancong, bukan kue bandros? Karena, pancong, mah, pancong. Bandros, mah, bandros. Beda!’

Dan, perdebatan kecil itu pun biasanya terhenti karena kesadaran dari kedua belah pihak demi keamanan dunia. 😀

Kue bandros memang merupakan penganan khas dari Jawa Barat. Sementara, kue pancong adalah penganan khas Betawi.

Memang, kalau dilihat dari bentuk dan bahan-bahan pembuatnyanya, bandros dan pancong tidaklah beda. Sama-sama terbuat dari tepung beras, santan, dan kelapa muda yang dikerok. Tetapi, ada yang bilang, bahan untuk kue bandros dan kue pancong agak berbeda sedikit. Selain tepung beras, adonan kue pancong juga memakai tepung terigu dan tepung kanji.

Terlepas dari apakah bandros dan pancong merupakan kue yang sama atau tidak, sebenarnya, sejak kecil, saya bukanlah yang termasuk salah satu penyuka kue ini. 😀 ‘Pelem teuing’, menurut saya. (‘pelem’ adalah bahasa sunda yang artinya gurih, ‘teuing’ = terlalu. Jadi, ‘pelem teuing’ = terlalu gurih). Makan satu buah saja membuat saya serasa ‘mblenger’. (Nah, kalo ‘mblenger’ ini bahasa Jawa Tengah yang artinya merasa ‘enek’ karena kekenyangan).;-D

Kue Bandros - Jajanan Tradisional Yang Sering Menimbulkan PerdebatanSaya mengenal kue bandros saat di masa kanak-kanak dulu. Biasanya penganan khas ini dipikul, dijajakan keliling kampung. Biasanya, saya akan menyambut tukang kue ini disertai mata yang berbinar mata saat melihat pedagang kue ini muncul di penglihatan saya. Saya akan serta merta mengikuti pedagang ini dan berharap ada yang memanggilnya untuk membeli.

Saya tidak tertarik untuk membeli. Alih-alih membeli, saya lebih tertarik melihat cara membuatnya. Kala itu, cetakan kue bandros ini masih aneh di mata penglihatan kanak-kanak saya. Bunyi ‘cesss…’ yang terdengar saat cetakan panas diisi adonan memiliki daya tarik sendiri. Apalagi, tak perlu menunggulama, kue sudah matang. 😀

Meski kadang akhirnya saya membeli, itupun karena iming-iming gula pasir yang ditaburkan di atasnya. 😀 Saat itu, setiap kali saya beli, yang saya makan hanya gula pasirnya. Setelah gula pasirnya habis, kuenya saya tinggalkan. 😀

Kesukaan saya yang cenderung kepada makanan manis membuat saya tidak terlalu tertarik untuk membeli kue bercita rasa gurih ini. Kecuali, ketika rasa ingin ‘ngemil’ atau rasa lapar mencuat ke permukaan sementara hanya kue ini yang ada di depan mata, ya, tentu saja, akan saya ambil juga. 😀  Meski, tetap, hanya kuat satu buah saja. Karena, saya langsung merasa ‘mblenger’.

Tetapi, pada suatu ketika, adik saya membeli kue ini.

‘Bandros yang ini enak, lho, Mba..Cobain, deh. Beda dari yang lain,’ kata adik saya.
Mungkin, karena saat itu rasa ingin ‘ngemil’ saya sedang mencuat ke permukaan, serta merta saya turuti kata-kata adik saya. Dan, apa yang terjadi?..IYESSSSSS..ini kue kenapa jadi enak sekali rasanya?..:-))

‘Eh..Iya, bener..Ini, koq, enak, sih?..Beli di mana?’ tanya saya sambil mengambil bandros yang kedua.

Tumben!

‘Bener enak, kan?..Kelapa mudanya banyak banget..Enak, gurih banget,’ ujar adik saya sambil menikmati kue bandros yang entah sudah potongan yang ke berapa. Adik saya memang penyuka kue bandros. Tapi, jarang-jarang dia memuji sampai sedemikian rupa.

‘Beli di mana?’ tanya saya lagi. Saya juga heran, kenapa saya ga langsung ‘mblenger’ makan kue itu seperti biasanya. Malah saya mengambil lagi. Sudah 3 buah. Lapar mungkin!..:-D

‘Itu, lho, Mba..Di Pasar Anyar. Di Ruko Sentral, kan, ada Bank Permata. Nah, di depan Bank Permata itu,’ jawab adik saya.

Sejak saat itu, saya jadi termasuk ke dalam golongan kaum penyuka kue bandros. Tetapi, hanya untuk kue bandros yang di depan Bank Permata, di Pasar Anyar itu. Bandros yang laen belum membuat saya segandrung ini.

Sampai saat ini, saya juga belum tahu apa yang membuat saya berbalik jadi suka akan salah satu jajanan khas Jawa Barat ini. Rasa gurihnya?..Sudah pasti. Tapi, bandros yang ini tidak membuat saya merasa ‘mblenger’.

Apa mungkin karena porsi kelapa mudanya yang memang lebih banyak dari kebanyakan bandros-bandros yang lainnya?

Atau mungkin karena gula pasirnya?

Tapi, yang pasti, bukan karena pedagangnya. 😀

Karena, jujur saja, saya juga tidak tahu yang mana pedagang asli kue bandros yang saya maksud ini. Karena, yang melayani pembelinya selalu berganti-ganti. Ada 4 atau 5 orang. Gerobaknya, sih, tetap sama. Tetapi, meski yang melayani berganti-ganti, harganya tidak berubah. Satu lonjor kue bandros (10 buah) dihargai Rp 12.000,-.

Seperti penganan tradisional lainnya, ternyata kue bandros juga tidak kehilangan penggemarnya. Di tengah serbuan makanan modern yang beraneka rupa, kue bandros tetap diminati. Terbukti ketika saya bertanya kepada salah satu penjual kue bandros ini berapa banyak kelapa muda yang dibutuhkan setiap harinya?

‘Sekitar 55 buah, Teh,’ jawab penjual bandros itu.

Yuk, mangga dicobian (artinya : silakan dicoba) kue bandros yang di depan Bank Permata, daerah ruko Sentral Pasar Anyar ini. Barangkali saja ada yang mengetahui penyebab saya jadi penyuka kue bandros ini. 😀

**
Pasar Anyar adalah nama lama dari Pasar Kebon Kembang. Menurut bahasa Sunda, ‘anyar’ artinya baru. Silakan lihat di “Pasar Anyar : Si Tua Penuh Masalah

Meski sudah dibangun beberapa puluh tahun yang lalu, pasar ini tetap dibilang anyar. 😀
Warga Bogor lebih sering mengucapkan nama Pasar Anyar dibanding Pasar Kebon Kembang. Mungkin, karena pengucapan ‘anyar’ yang lebih singkat dibanding ‘kebon kembang’.

(Catatan : tulisan ini adalah hasil karya Julie Vidianti yang kerap dikenal sebagai Julie. Setelah rutin menulis untuk Pojok Menulis, yang bersangkutan mulai bergabung dengan Lovely Bogor untuk berbagi cerita tentang Kota Bogor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.