Bogor Kota Termacet
Bogor Kota Termacet

Kota termacet Indonesia, sebuah gelar terbaru yang disematkan kepada Bogor. Titel yang diberikan oleh Departemen Perhubungan (Dephub) Indonesia ini membuat berang sang walikota Bogor, Bima Arya di tahun 2014 lalu.

Pernyataan dan pertanyaan bernada emosional terlontar dari lulusan SMA Negeri I Bogor tahun 1991 ini. Ucapan yang keluar dari pemimpin kota Bogor ini ada dua , yaitu:

  • Mempertanyakan metodologi yang digunakan
  • Pernyataan bahwa Bogor itu berbeda

Bisa dimengerti geramnya sang walikota. Gelar Kota Termacet Indonesia bukanlah gelar yang diidamkan oleh banyak pemimpin di Indonesia. Bahkan sebisa mungkin para pemimpin akan melakukan upaya agar wilayahnya tidak pernah tercantum dalam daftar tersebut.

Betulkah Bogor Kota Termacet Indonesia?

Terkait dengan pertanyaan tentang metodologi yang dipakai Departemen Perhubungan yang menjadi dasar, sekilas akan terdengar ilmiah dan logis. Hanya bagi warga Bogor sendiri, seperti saya, pertanyaan tersebut justru terdengar tidak beralasan.

Departemen Perhubungan adalah sebuah lembaga resmi pemerintah yang memang mengurusi masalah tersebut. Data-data mereka tentu lebih valid dibandingkan data pemda Bogor (kalau memang punya data).

Pertanyaan tersebut lebih sebuah usaha “counter attack” supaya hasil laporan tersebut dianggap sebagai tidak valid.

Hanya banyak warga Bogor, melalui berbagai jejaring social justru mengamini laporan dephub tersebut. Tentu bukan karena berdasarkan tumpukan data tetapi berdasarkan apa yang dialami sehari-hari.

Hampir tidak ada sudut kota hujan ini yang tidak terlihat luput dari kemacetan. Antrian panjang kendaraan, kadang tak bergerak merupakan pemandangan sehari-hari bagi warga Bogor.

Di beberapa akses utama kota Bogor, seperti jalan Soleh Iskandar, jalan Sudirman, dan jalan Pajajaran, jarak 1-2 kilometer sering harus ditempuh dalam waktu 45 menit sampai satu setengah jam. Kemacetan seringkali membuat kendaraan seperti tak bergerak sama sekali. Kecepatan yang terdata oleh laporan Dephub yang menyebutkan kecepatan rata-rata 15 Km/jam jauh lebih baik dibandingkan kondisi di lapangan

Bila kemudian beberapa waktu yang lalu Kasat Lantas Polres Bogor berkata bahwa Bogor tidak macet, sebenarnya hal itu mengundang banyak cibiran. Perkataan tersebut dianggap sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dialami warga Bogor sehari-hari.

Benarkah Bogor berbeda?

Betul! Bogor memang berbeda dengan Solo, Tangerang, Klaten, Pangkalpinang, dan ribuan kota di Indonesia lainnya. Tidak beda halnya dengan Tangerang yang berbeda dengan Solo dan kota-kota lainnya.

Lha ya aneh ! Semua kota pasti berbeda dengan kota-kota lainnya. Tidak ada sebuah kota di Indonesia yang sama. Kota adalah tempat tinggal manusia dan setiap manusia berbeda. Masyarakat terbentuk dari manusia dan otomatis tidak mungkin akan ada kota yang sama.
Bukankah demikian?

Penyebab kemacetan di Bogor

Ada banyak hal berdasarkan pandangan mata. Tidak melulu hanya karena angkot, ada banyak hal lain seperti

1. Sepeda Motor

 

Bukan hanya karena jumlahnya yang mencapai ratusan ribu, tetapi juga karena tingkah polah pengendaranya. Berkendara melawan arus , zig zag, tidak patuh pada rambu lalu lintas adalah hal yang biasa dilakukan pengendara sepeda motor di Bogor.

(Hei! Sikap yang sama ada di seluruh Indonesia. Bukankah berarti dalam hal inipun Bogor tidak berbeda dengan daerah lain)

Kota Termacet Indonesia
Kota Termacet Indonesia

2. Angkot

Tentu sang raja jalanan ini juga berperan. Walaupun tidak 100%, tetapi angkot bersama dengan sepeda motor merupakan dua tokoh penyebab berbagai kemacetan. Kebiasaannya untuk ngetem di sembarang tempat bahkan menutupi ¾ jalan bukan hal yang aneh. Lihat saja di depan stasiun Bogor.

Menurunkan penumpang di sembarang tempat , berhenti mendadak sudah merupakan hal tak terpisahkan dari angkot.

Jumlahnya pun sangat banyak mencapai 3,400 buah. Kalau dibuat ratio dengan panjang jalan kota Bogor yang hanya 600 kilometer, bisa dikata ada 1 angkot untuk setiap 200 M jalan. Padat !

3. Mobil pribadi

Kemakmuran ekonomi rakyat Bogor yang meningkat membuat kebutuhan akan kenyamanan meningkat. Angkot dan sepeda motor bukan sesuatu yang bisa memberikan kenyamanan. Hasilnya mobil menjadi pilihan dan jumlahnya terus meningkat. Saat ini ada lebih dari seratus ribu mobil di Bogor

4. Bogor sebagai kota wisata

Tiap tahun ada 3,2 juta lebih wisatawan yang datang ke Bogor baik domestic atau internasional. Kebanyakan dari mereka datang dari Jabodetabek dan membawa kendaraan sendiri.

Limpahan kendaraan dalam jumlah besar masuk ke Bogor setiap hari, terutama akhir pecan dan hari libur.

Belum ditambah dengan berdirinya berbagai outlet atau toko penjaja oleh-oleh di kota talas ini. Sayangnya banyak diantara outlet-outlet tersebut banyak yang tidak diperlengkapi dengan sarana parkir yang memadai. Hasilnya kendaraan pengunjung banyak yang parkir di badan jalan menghambat lalu lintas

5. Kurangnya Penegakan Hukum

Mengapa hal ini dimasukkan? Karena memang begitu adanya. Kehadiran aparat penegak hukum sangat kurang sekali.

Bebasnya pengendara terutama motor dan angkot untuk melanggar berbagai rambu sering disebabkan oleh ketiadaan pak polisi di lokasi. Perhatikan berbagai jalan seperti dijalan Soleh Iskandar di persimpangan Yasmin. Polisi Lalu Lintas kadang ada kadang tidak untuk mengatur arus kendaraan. Belum di jalan Kebon Pedes, hampir tidak ada.

Yang banyak ada adalah polisi swasta alias polisi cepek (atau gopek sekarang)

Hal ini turut bertanggung jawab terhadap kemacetan di Bogor. Bukan hanya pengguna jalan yang harus disalahkan.

6. Terlalu banyak U-turn

Untuk mempermudah pengguna , banyak dibuat U-turn di jalan-jalan di Bogor. Alhasil, sering antrian kendaraan terjadi menunggu kendaraan yang akan berbelok.

Tidak jarang pula sebuah U-turn yang disediakan untuk satu arah, dipakai menjadi dua arah. Lokasi U-turn adalah tempat operasi operasi cepek yang akan mendahulukan pengendara yang bersedia memberikan tip kepada mereka

7. Kurangnya kesadaran pengguna jalan

Ini sudah jangan ditanya lagi. Setiap hari hal tersebut terlihat dan sepertinya justru sudah mulai dianggap sebagai sesuatu yang umum.

Kota Termacet Indonesia
Situasi kemacetan di Bogor

Penutup

Gelar Kota Termacet Indonesia 2014, tentu bukan gelar yang menyenangkan. Hanya mencoba untuk menganulirnya dengan cara mempertanyakan hal seperti itu adalah hal yang mubazir. Laporan tersebut tidaklah akan dicabut dan justru membuang waktu untuk berpolemik.

Juga menjadi nomor 1 atau nomor 10 di daftar termacet tetap saja tidak akan pernah menyenangkan. Diberi gelar buruk akan menyebabkan rasa tidak enak.

Membenahi situasi lalu lintas di Bogor untuk memberikan kenyamanan kepada warganya seharusnya menjadi tujuan utama. Bukan untuk memperbaiki peringkat.

Sayangnya sepertinya masih belum ada tanda-tanda kea rah sana. Pernyataan Kasat Lantas yang menyebut Bogor “tidak macet “hanya “padat”. Usaha yang lucu, sama seperti usaha Pka Fauzi Bowo alias Foke yang mengganti definisi dan standar “banjir” sehingga hanya menjadi “genangan air”.

Cara paling mudah memecahkan masalah sebenarnya dengan mengganti tolok ukurnya saja, Bila disesuaikan dengan target kita maka semua beres.

Belum ditambah dengan pernyataan pak walikota (atau pak wakil yah) yang menyebut angkot bukanlah penyebab kemacetan. Entah kenapa padahal di awal sebelum naik tahta, pak walikota pernah mengindikasikan bahwa angkot di Bogor sudah terlalu banyak. Entah apa saya yang salah mengerti?

Melihat sinyal-sinyal dari para pejabat kota ini, sepertinya masih akan memakan waktu lama sebelum kemacetan di Bogor . Masih akan lama pula gelar Kota Termacet Indonesia akan lepas dari kota ini.

Jadi kalau ke Bogor, siapkan diri anda untuk bermacet ria !