Kota Perdagangan

 

Bogor Kota Perdagangan

Bogor adalah Kota Perdagangan. Tidak bisa disangkal. Perkembangan kota ini sejak beberapa tahun terakhir sudah menunjukkan arah kemana Kota Hujan ini akan menuju.

Pemerintah Daerah Kota Bogor pada era sebelum tahun 2014, pernah mengeluarkan slogan “Kota Jasa dan Perdagangan”. Slogan yang secara tepat merefleksikan masa depan kehidupan masyarakat di kota ini.

Memang bisa dikata, tidak ada cara lain mengingat luas lahan di Kota Bogor yang amat terbatas. Kota Bogor tidak memiliki sumber alam yang bisa diandalkan untuk mendapatkan pemasukan bagi pengembangan kota. Kota Bogor juga tidak memiliki lahan luas untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

Oleh karena itu, satu-satunya cara agar pertumbuhan kota bisa terus dilanjutkan adalah meniru apa yang dulu dilakukan Singapura. Dengan kondisi yang sama, negara Singa ini berhasil memanfaatkan sektor jasa dan perdagangan sebagai sumber penghasilan bagi pembangunan negara tersebut.

Begitu pula dengan Kota Bogor. Pergerakan sektor ekonomi di kota ini sangatlah tergantung pada perdagangan. Pendapatan Asli Kota Bogor yang mencapai 2.4 Trilyun banyak sekali yang disumbang dari pajak berbagai kegiatan jual beli dan sisanya berasal dari sumbangan beberapa Badan Usaha Milik Daerah. Paling tidak 38 persen dari PAD tersebut merupakan pajak yang dipungut dari Hotel, Restoran dan Rumah Makan.

Sesuatu yang menunjukkan bahwa kota Bogor memang sudah menjadi Kota Perdagangan.

 

Kota Perdagangan

 

Semua “berdagang”

Selain dari sisi formal berupa data Pendapatan Asli Daerah, secara kasat mata tidak akan bisa terhindarkan kesan bahwa Bogor adalah Kota Perdagangan. Sulit untuk disangkal.

Hampir di semua tempat di kota ini, akan ditemukan entah warung, kios, mall, dan segala sesuatu yang terkait dengan aktifitas jual beli. Keadaan seperti ini bukan hanya terlihat di jalan-jalan raya dan pusat kota. Di dalam kompleks perumahan-perumahan yang ada pun kondisi yang sama bisa ditemukan.

Gerai Indomaret dan Alfamart seperti berlomba bak si kembar berebut pasar di dalam perumahan. Jejeran warung menjajakan mulai dari beras hingga pakaian dimana-mana. Tidak jarang barang yang diperjual belikan antar satu toko dengan toko sebelahnya sama.

Di masa kini, ditambah dengan berbagai aktifitas perdagangan di dunia maya. Masyarakat Bogor sudah sangat akrab dengan jual beli secara online.

Semua berdagang !

Efek Negatif Kota Perdagangan

Sayangnya, di berbagai sudut kota juga memperlihatkan beberapa sisi negatif dari berubahnya Bogor dari kota peristirahatan menjadi kota perdagangan. Hal-hal ynegatif ang bisa terlihat seperti berikut

 

Kota Perdagangan

1. Kemacetan

Secara tidak disadari tumbuhnya berbagai ruko dan pusat jual beli memberikan pengaruh besar pada arus lalu lintas yang ada. Banyak sekali lokasi jual beli yang tidak diperlengkapi dengan sarana dan lahan parkir yang memadai. Hasilnya, tidak jarang kendaraan pengunjung harus diparkir di badan jalan.

Masih ditambah dengan keluar masuknya kendaraan dari tempat perbelanjaan cenderung mengurangi laju kendaraan yang melintas. Bila sebuah kendaraan yang keluar dari lahan parkir sebuah toko membutuhkan 15-20 detik, maka bisa dibayangkan kalau dalam sehari ada 100 kendaraan per toko. Kemudian dikalikan dengan ribuan toko yang ada di Bogor.

Hasilnya berupa waktu tunggu yang amat besar dan sudah pasti mempengaruhi tingkat laju kendaraan di jalan raya. Tidak mengherankan, kemacetan terparah biasanya terjadi di daerah dimana pusat perbelanjaan berada.

2. Tata Ruang yang berantakan

Perubahan bangunan tinggal menjadi sebuah tempat usaha dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Hasilnya, banyak pemukiman yang berubah wujud dan suasananya.

Rumah tinggal dijadikan warung, rumah makan, kios sering mengabaikan untuk meminta izin pada pemerintah. Padahal hal tersebut seharusnya memerlukan izin karena dalam Rencana Tata Ruang di Kota Bogor telah dibuatkan zona pemukiman dan perdagangan.

Hasilnya Tata Ruang yang telah direncanakan sama sekali tidak berjalan dengan baik.

3. Ketidaktertiban dimana-mana

Ada gula, ada semut. Berkembangnya Bogor sebagai kota perdagangan mengundang warga dari dalam dan luar Kota Bogor untuk turut menikmatinya.

Sayangnya dengan lahan yang sangat terbatas, berbagai pasar di Kota Bogor tidak lagi mampu menampung keinginan mereka semua. Efeknya banyak sekali pedagang kaki lima yang akhirnya memanfaatkan sarana dan fasilitas umum sebagai lahan berjual beli.

Seringkali mereka tidak mengindahkan peraturan yang ada.

Imbasnya, pemandangan Kota Bogor cenderung menjadi semrawut dan sama sekali tidak tertata karena dipenuhi berbagai bangunan atau tenda yang sekenanya saja didirikan.

——

Itulah Kota Bogor dewasa ini. Bila anda berharap menemukan sebuah kota tenang dan nyaman layaknya sebuah kota peristirahatan tempo dulu, maka anda akan kecele.

Bogor adalah Kota Perdagangan yang sibuk dan cenderung semrawut.

Tidak dinafikan bahwa semakin berkembangnya berbagai aktifitas jual beli memberikan banyak manfaat bagi semua yang tinggal di kota ini. Meskipun demikian, perubahan ini bila tidak segera diantisipasi dengan berbagai usaha penataan akan membuat wajah Kota Bogor menjadi sangat kacau balau dan tidak menentu.

Itulah gejala yang terlihat dari kota ini sehari-hari. Semoga Pemerintah Daerah Kota Bogor bisa melakukan langkah-langkah yang bisa merealisasikan kota Bogor menjadi Kota Perdagangan yang mirip dengan Singapura. Sebuah Kota Perdagangan yang rapih dan sangat tertata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.