Kolecer, kalau dalam perbendaharaan bahasa Sunda, berarti “baling-baling mainan”. Permainan anak-anak zaman dulu. Bisa terbuat dari bilah bambu, tidak jarang juga terbuat hanya dari sekedar kertas karton.

Cara bermainnya dibawa lari hingga baling-baling itu terhembus angin dan berputar seperti layaknya baling-baling.

Sudah lama sekali saya tidak mendengar kata itu. Kolecer bukan lagi mainan favorit anak-anak Bogor di masa sekarang. Bahkan untuk anak balita sekalipun. Kalah menarik dibandingkan gim di smartphone.

Baru hari ini kembali melihat kata KOLECER, yaitu saat bermain di Sempur, tepatnya di Taman Ekspresi.

Cuma, bentuknya berbeda. Bentuknya, seperti di bawah ini.

Kolecer - Kotak Literasi Cerdas Untuk Menumbuhkan Minat Baca B

Mirip dengan box telepon umum di Inggris zaman dulu. Cuma berwarna biru dan didalamnya tidak ada telepon melainkan buku.

Memang, Kolecer yang sekarang bukanlah sebuah permainan, melainkan singkatan yang berarti Kotak Literasi Cerdas. Intinya sih, perpustakaan umum mini yang diletakkan di sebuah ruang publik, seperti taman kota.

Pengunjung bisa meminjam buku di dalamnya dan kemudian membaca di bangku taman. Setelah selesai, mereka bisa mengembalikan kembali buku ke dalam kolecer.

Keren juga sih idenya.

Kolecer merupakan salah satu wujud ide dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang karena merasa khawatir terhadap minimnya minat membaca di kalangan masyarakat, berusaha memberikan kemudahan akses ke “perpustakaan” . Kotak Literasi Cerdas ini memang memudahkan sekali bagi yang gemar membaca atau ingin mengisi waktunya dengan menyusuri kata demi kata dari sebuah buku.

Kolecer - Kotak Literasi Cerdas Untuk Menumbuhkan Minat Baca C

Isi Kolecer juga bermacam. Melihat sekilas saja, saya bisa melihat ada buku bacaan untuk anak-anak, novel remaja, sampai pelajaran sederhana bahasa Korea. Jadi tinggal pilih yang disukai.

Harus diakui keren dan brilian juga idenya, meski agak meragukan apakah masyarakat Bogor akan memanfaatkannya. Minat membaca di Indonesia itu termasuk yang terendah , dan di Kota Bogor pun demikian. Perpustakaan Umum Daerah saja lebih banyak sepinya.

Yang paling mengkhawatirkan juga, meski ada Park Rangers yang menjaga, adalah tangan-tangan jahil yang sudah terbukti banyak merusak fasilitas umum di kota hujan.

Meski demikian, Kolecer ini patut dihargai dan diapresiasi untuk menaikkan minat membaca dalam masyarakat.

Bagusnya pula, Kolecer ini menggunakan simbol berupa kolecer yang saya sebutkan tadi di atas. Coba saja lihat logonya di bagian bawah. Kira-kira begitulah kolecer di masa lalu.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.