Efek Burung Angkot Bagi Kota Bogor
Angkot melintasi Jalan Otto Iskandar

Bogor sudah kembali adem. Para supir angkot dan supir ojol (ojeg online) sudah sepakat berdamai dan kembali menjalankan aktifitas masing-masing. Pemda Kota Bogor juga sudah mengatakan bahwa ojeg online tidak dilarang, tetapi juga perlu diatur.

Keputusan yang bijak dari semua pihak dalam menyikapi situasi yang sempat membara seperti itu.

Meskipun demikian, masih ada banyak hal tersisa yang rasanya menarik untuk dibahas. Sebelumnya, Lovely Bogor sudah menulis tentang berbagai tanggapan netizen terhadap demo dan mogon angkot di Bogor. Di dalamnya beberapa screenshot dari komentar dan tanggapan mereka yang dikutip dari komunitas warga Bogor di dunia maya, terutama Facebook.

Yang menjadi perhatian adalah banyak sekali komentar yang terlihat justru merasa senang bahwa angkot tidak beroperasi pada saat itu (21-23 Maret 2017). Sebagian malah justru menunjukkan rasa antipati mereka terhadap tindakan sweeping yang dilakukan para supir angkot terhadap pesaingnya, pengendara ojeg online. Tidak sedikit juga yang mendukung para ojol dan mengatakan bahwa situasi dan kondisi sekarang adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri.

Tentu saja, tetap ada juga yang mengingatkan sisi baik dan juga bahwa supir angkot pun melakukan unjuk rasa bukan tanpa alasa.

Biasalah, pro dan kontra. Dimana saja pasti akan terjadi.

Yang menarik sebenarnya adalah mengapa banyak warga Bogor sepertinya yang tidak menyukai angkot. Bahkan ada yang memasang hashtag #hapusangkot.

Anda tahu penyebabnya?

Yah, ini berdasarkan apa yang berhasil dirangkum dari komentar-komentar dan juga pengalaman pribadi dari saya sendiri sebagai warga Bogor (yang tentunya tidak asing dengan yang namanya angkot).

tanggapan netizen terhadap demo dan mogok angkot di Bogor 6

Alasan mengapa banyak warga Bogor tidak menyukai angkot

Suka Ngetem Lama

Tahu arti ngetem? Istilah ini mengacu pada tindakan para supir angkot yang menunggu penumpang hingga semua kursi di angkotnya terisi. Tentunya, sebagai seorang supir mereka pun harus bertindak efisien, apalagi mengingat kemacetan di Bogor. Jikasemua bangku terisi penuh maka berarti bensin dan tenaga mereka tidak terbuang sia-sia.

Dan, tentu saja, uang yang diperlukan untuk setoran dan dapur akan didapat.

Sayangnya, hal ini tidak sinkron atau sesuai dengan apa yang diinginkan oleh para penumpang. Kebanyakan dari mereka tentunya ingin cepat, entah sampai ke kantor atau di rumah. Menunggu berarti waktu mereka terbuang percuma di jalan.

Tidak berarti mereka tidak paham mengenai efisiensi dan uang yang ingin didapat oleh supir angkot, tetapi ada batas toleransi pada semua orang.

Suka Berkata Tidak Pantas

Hasil dari menunggu penumpang penuh membuat banyak calon penumpang akhirnya tidak sabaran dan memilih turun dan mencari angkutan lain supaya cepat sampai.

Sayang sekali terkadang respon dari supir angkot justru menyakitkan. Celetukan atau kata-kata seperti ” Kalau mau cepat, naik kendaraan sendiri saja” kerap dilontarkan pada calon penumpang yang memilih untuk berganti angkutan.

Sesuatu yang sebenarnya tidak pantas untuk dilakukan.

Tentunya tidak semua supir angkot mengeluarkan kata demikian, tetapi kata-kata seperti ini memang sering sekali dilontarkan.

Gangguan selama perjalanan

Bukan dari supir angkotnya, tetapi banyak anak jalanan atau pengamen yang mellompat ke dalam angkot dan kemudian bernyanyi. Terkadang entah lagu apa yang mereka nyanyikan karena jauh sekali dari kata merdu.

Bisa bayangkan angkot yang kecil dipenuhi dengan suara sumbang mereka?

Meskipun demikian, bukan suara mereka yang menjadi gangguan. Tidak jarang mereka meminta uang dengan cara agak memaksa atau dengan kata-kata yang tidak pantas pula.

Tentunya para penumpang merasa sangat terganggu. Sudah angkot memang tidak dibuat untuk menyediakan kenyamanan bagi penumpangnya, gangguan seperti ini sangat menambah ketidaknyamanan.

Kerap menurunkan penumpang bukan di tujuan

Hal paling menyebalkan di kala naik angkot adalah ketika menjadi penumpang seorang diri. Biasanya dalam kondisi demikian, banyak supir angkot yang kemudian meminta penumpangnya turun. Mereka biasanya kemudian berputar kembali untuk ngetem di suatu tempat menunggu penumpang.

Memang, tentunya sangat tidak efisien mengangkut satu orang dari segi konsumsi bahan bakar dan juga pemasukan. Jomplang sekali.

Tetapi, sangat tidak menguntungkan bagi penumpang karena mereka lagi-lagi harus menunggu. Kalau uang ongkosnya masih ada bukan masalah, karena mereka bisa naik yang lain, tetapi kalau ongkos mereka pas-pasan dan mereka harus membayar lagi, tentunya menyulitkan sekali tindakan seperti ini.

Apalagi bila bagi penumpang wanita yang pulang di tengah malam, diturunkan di tengah jalan hanya karena supirnya ingin mendapatkan uang lebih bisa menimbulkan bahaya bagi dirinya.

Rute Angkot Bogor
Angkot Bogor

Suka berhenti mendadak

Tidak berkaitan dengan angkot dan penumpang. Ini berkaitan dengan angkot terhadap lalu lintas di Bogor.

Kebiasaan buruk para supir angkot adalah perhatian mereka terfokus pada mengejar penumpang. Mereka tidak segan berhenti mendadak bahkan tanpa memberi tanda bagi pengendara di belakangnya.

Hal ini rentan sekali menimbulkan kecelakaan (dan bukan tidak pernah terjadi).

Hasilnya adalah makian dari pengendara di belakang mereka.

Ngetem di sembarang tempat

Semua tempat adalah terminal. Mungkin itu prinsip supir angkot. Mau ada tanda larangan parkir atau berhenti, mereka tidak peduli (setidaknya mayoritas dari mereka).

Mereka tidak peduli bahwa kendaraan mereka menghambat arus lalu lintas. Yang terpenting adalah menunggu penumpang supaya bisa mendapatkan uang.

Itulah mengapa, walau angkot bukanlah satu-satunya alasan kemacetan di Bogor, mereka berkontribusi sangat besar. Terutama karena banyak sekali titik dimana angkot di Bogor suka ngetem.

Memakan jalur berlawanan

Ini pun salah satu kebiasaan yang berakibat pada terhambatnya lalu lintas. Demi mengejar pemasukan untuk setoran, banyak angkot tidak mempedulikan lagi arus lalu lintas. Yang penting mereka bisa cepat. Bahkan hingga “menggunakan” jalur yang tidak semestinya.

Hasilnya adalah hambatan bagi kendaraan yang datang dari arah berlawanan dan tersumbatnya arus lalu lintas.

Suka tidak memberikan kembalian

Ini pun salah satu kasus yang cukup umum. Ada supir angkot yang kurang jujur dimana mereka tidak memberikan kembalian kepada penumpang dengan berbagai alasan.

Supir kadang merokok

Merokok dalam angkutan umum adalah sesuatu yang dilarang oleh hukum. Tetapi, sayangnya sepertinya hukum itu tidak berlaku bagi para supir angkot.

Banyak ditemukan supir angkot tetap merokok pada saat mengemudi. Selain berbahaya karena mengganggu konsentrasi, juga membuat tambahan gangguan bagi para penumpang yang sudah berdesakan di ruang yang sempit.

Apa yang disebutkan di atas bukanlah untuk menyudutkan keberadaan angkot di kota ini. Sama sekali tidak. Itu adalah kenyataan yang banyak terjadi di lapangan.

Tidak akan ada asap tanpa api. Warga Bogor tidak akan sebegitu tidak menyukai angkot jika tanpa sebab. Banyak hal yang terjadi memang membuat banyak warga semakin tidak menyukai keberadaan angkutan umum berwarna hijau ini.

Tetapi, apa yang disebutkan di atas juga tidak berarti bahwa semua supir angkot seperti di atas. Selama menjadi warga Bogor selama 38 tahun ini, beragam hal sudah dialami termasuk diantaranya kebaikan supir angkot yang pernah ditumpangi.

Hanya saja, memang pandangan banyak warga Bogor terhadap keberadaan ini berubah cukup jauh dibandingkan sebelumnya. Banyak dari mereka yang berpikiran bahwa angkot sudah terasa merepotkan dan mengganggu kehidupan.

Itulah mengapa banyak komentar bernada sinis keluar di kala demo angkot yang lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.