Hatur Tengkyu - Bahasa Campuran Cermin Masyarakat Bogor Sekarang A

Hatur Tengkyu. Percayalah, Anda tidak akan bisa menemukan arti dua kata ini dalam kamus bahasa Indonesia atau bahasa Inggris versi manapun. Dua buah bahasa yang sepertinya tidak jelas, tetapi sebenarnya sudah biasa terdengar dalam kehidupan sehari-hari, terutama jika Anda tinggal di Bogor.

Dua buah kata ini, merupakan perpaduan dari bahasa Sunda dan bahasa Inggris verbal. Hatur berarti “Saya sampaikan”, seperti yang terdapat dalam sambutan khas orang Bogor saat mengucapkan terima kasih “Hatur Nuhun”. Sedangkan kata “Tengkyu”, pastinya semua orang sudah mengerti merupakan wujud “verbal” atau pengucapan dari ‘Thank You” yang berarti terima kasih.

Bila diterjemahkan dengan kamus Lovely Bogor artinya berarti “Saya/Kami ucapkan terima kasih”. Bahasa campuran.

Mungkin bagi banyak orang, semua itu sekedar hasil kreativitas sang pembuatnya saja, tetapi sebenarnya sadar atau tidak sadar, kedua kata ini merupakan cerminan dari masyarakat Bogor saat ini.

Hatur mewakili budaya Sunda dan Tengkyu mewakili budaya baru yang sedang terus merangsek ke dalam kehidupan di kota hujan, budaya internasional.

Bogor selama ini dikenal sebagai tanahnya orang Sunda. Di masa lalu pun kota ini merupakan sebuah ibukota dari kerajaan Sunda yang pernah digjaya pada masanya, Pakuan Pajajaran. Orang Bogor sampai saat ini masih selalu bangga dengan hal itu.

Hanya saja, sejak sekitar 10-20 tahun yang lalu, sebenarnya sudah banyak sekali perubahan. Kehidupan di tanah ini sudah tidak lagi kental bernuansa Sunda. Bukan hanya dalam gaya berpakaian, tetapi juga cara berbahasa.

Interaksi yang intens dengan ibukota Indonesia saat tulisan ini dibuat, Jakarta, membuat aliran budaya jenis lain masuk. Jakarta yang modern dan metropolis mulai mempengaruhi setiap sendi kehidupan.

Ditambah dengan interaksi dengan “orang asing” yang berasal dari laut seberang, semakin membuat deras masuknya pengaruh budaya asing. Jangan diabaikan juga pengaruh yang masuk lewat televisi, media sosial, dan banyak lagi lainnya.

Semua itu telah membuat Bogor tidak lagi sebuah kota/wilayah yang didominasi oleh budaya Sunda. Kota ini lebih cenderung menjadi sebuah kota modern dimana budaya-budaya asing itu dinikmati dan digabungkan dengan gaya hidup Sunda yang masih tersisa.

Proses akulturasi budaya, dan mungkin sekaligus penaklukan budaya lokal oleh budaya pendatang sudah, sedang, dan akan terus terjadi di kota ini. Hal itu mudah saja terlihat di berbagai penjuru Kota / Kabupaten Bogor dimana tempat=tempat usaha tidak gamang dan ragu lagi mempergunakan kosa kata bahasa asing (terutama Inggris) untuk nama tempat usahanya.

Mereka berusaha menampilkan kesan internasional, berkelas, dan keren untuk menarik calon pelanggan. Sebuah hal yang menunjukkan juga perubahan dalam diri masyarakat Bogor yang semakin menggemari sesuatu yang terkesan internasional (bahkan sekarang banyak pesta pernikahan memakai tema internasional, dan bukan adat Sunda). Contohnya, B’Steak Grill & Pancake, D’besto, Rumah Cup cakes. Dailydose Coffee & Eatery dan lain sebagainya.

Hatur Tengkyu,  mungkin dianggap guyon oleh pengunjung Rumah Kopi Bogor dimana slogan ini bisa ditemukan. Tetapi, tanpa disadari, pemilik kafe di kawasan Bukit Cimanggu City ini, secara pas memakai diksi (kosa kata) yang mewakili apa yang sedang berlangsung tetapi tidak terlihat.

Pertempuran antar budaya yang menghasilkan sebuah budaya campuran antara budaya lokal dan budaya asing/pendatang.

Mudah-mudahan saja tidak berakhir dengan kemenangan budaya asing secara menyeluruh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.