Memberi Duduk Penumpang Wanita
Penumpang Wanita di Commuter Line

Bangun lebih pagi. Meninggalkan kediaman lebih pagi. Tujuannya agar bisa mendapatkan tempat duduk di Commuter Line adalah sesuatu yang dilakukan setiap hari oleh banyak warga Bogor pengguna jasa Commuter Line (CL) atau KRL.

Tempat duduk di atas kereta relasi Bogor – Jakarta diperebutkan seperti memperebutkan piala kejuaraan lari 100 Meter.

Kalau berhasil, pemenang bisa duduk manis sepanjang perjalanan. Melanjutkan tidur salah satu keuntungan yang didapat.

Menimbulkan pertanyaan tersendiri, ketika seorang wanita kemudian berdiri di depan kita. Kehadirannya menimbulkan pertanyaan dalam hati “Haruskah memberi duduk kepada wanita yang berdiri di depan kita tersebut?”

Yah, paling tidak itu yang pernah dan masih saya alami selama kurang lebih 26 tahun menjadi anggota “an-ker” atau anak kereta.

Rasanya, pertanyaan yang sama juga timbul dalam hati banyak pengguna jasa CL. Bukankah Anda juga begitu? Atau tidak sama sekali?

Adakah keharusan memberi duduk wanita di Commuter Line?

Apa jawaban Anda terhadap pertanyaan tadi? Sudahkah Anda memutuskan untuk memberi duduk pada wanita di hadapan Anda (atau tidak)?

Atau kah Anda perlu sebuah dasar hukum dahulu sebelum mengambil langkah berikut?

Oke lah kalau begitu. Jawaban terhadap ada tidaknya dasar hukum tertulis yang mengikat, maka jawabannya adalah TERGANTUNG.

Perhatikan beberapa hal di bawah ini.

Tempat Duduk Prioritas

Haruskah Memberi Tempat Duduk Pada Penumpang Wanita
Tempat Duduk Prioritas

Di setiap pojok kereta/gerbong Commuter Line akan terdapat Tempat Duduk Prioritas. Ukurannya kira-kira cukup untuk 4 orang duduk.

Kursi Prioritas ini diberi tanda khusus dan diperuntukan bagi kategori Wanita Hamil, Ibu Membawa Balita, Manula (Manusia Lanjut Usia), dan Penyandang Cacat. Tanda ini berupa teks dan juga gambar/simbol.

Jadi ke-4 golongan ini merupakan yang paling berhak mendudukinya.

Jadi, kalau Anda sedang duduk di Tempat Duduk Prioritas, dan kemudian melihat wanita yang masuk salah satu dari ke-4 kategori tadi.

Ya. Ada dasar hukumnya. Bila Anda menolak memberikan tempat duduk pada yang berhak, berarti Anda melanggar aturan hukum yang ada.

Fasilitas ini adalah perwujudan dari Peraturan Pemerintah No 72 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api pasal 134. Fasilitas ini disediakan “khusus” untuk ke-4 kategori penumpang khusus tersebut.

Jadi, kewajiban Anda untuk memberi duduk wanita yang berdiri di hadapan Anda bila sang wanita termasuk dalam kategori di atas. Tidak bisa tidak. Tidak boleh ada alasan untuk menolak kecuali Anda juga termasuk dalam salah satu kategori tersebut.

Dasar hukumnya jelas.

Jadi, sebaiknya sebelum Anda berebut dan duduk di Tempat Duduk Prioritas, ada cara mudah untuk mengetahui apakah Anda berhak menempatinya atau tidak.

Caranya? Cukup bandingkan gambar yang ada pada stiker yang tertempel di dekat tempat duduk tersebut.

Bandingkan dengan Anda sendiri. Jelas Anda akan tahu persis apakah diri sendiri sesuai dengan salah satu dari keempat simbol yang ada. Kalau tidak sesuai, jangan duduki tempat itu.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan di beberapa negara maju, bahkan banyak anak kecil menolak untuk menduduki Kursi Prioritas . Mereka merasa itu bukan hak mereka. Biasanya bahkan dalam kereta sepenuh apapun, sering terlihat Tempat Duduk Prioritas kosong karena tak ada yang mau mendudukinya.

Bagaimana dengan Indonesia? Rasanya tidak perlu menjawabnya.

Bagaimana kalau bukan di Tempat Duduk Prioritas? Haruskah tetap memberi duduk wanita yang berdiri?

penumpang commuter line 8

Emansipasi dong!

Wanita menuntut persamaan hak berarti mereka harus juga menerima resiko dari persamaan hak yang mereka inginkan!

Rasanya itu ucapan yang sering terlontar dari banyak penumpang pria terkait hal ini. Betulkah demikian?

Coba lihat beberapa hal di bawah ini.

Adakah keharusan memberi duduk wanita hamil di tempat duduk biasa? Toh aturan tertulisnya tidak ada

Pernahkah Anda membayangkan istri Anda yang sedang hamil, atau ibu Anda yang sudah tua harus bepergian naik CL. Kemudian tidak seorangpun mau memberikan tempat duduk mereka dan Kursi Prioritas sudah penuh dengan yang berhak.

Bagaimana perasaan Anda? Sewot, sebal, kesal. Sudah pasti. Tidak segan Anda akan menyebut para penumpang lain tidak berperasaan.

Kalau Anda tidak mau diperlakukan demikian oleh orang lain, janganlah melakukan hal tersebut. Harus ada timbal balik.

Tetapi saya juga wanita!

Ada sebuah tulisan singkat yang sering tayang di layar televisi Macroad di dalam Commuter Line . Bunyinya

“Dahulukan manulu. Ada saatnya kita akan seperti mereka”

Walau Anda wanita, suatu waktu Anda akan jadi tua juga. Maukah Anda diperlakukan demikian?

penumpang commuter line 11Bila Anda wanita, suatu waktu atau mungkin Anda sudah pernah merasakan beratnya menjadi ibu yang sedang mengandung, atau menggendong anak. Berat bukan?

Anda yang paling tahu dan paling mengerti hal tersebut. Bagaimana kalau Anda bayangkan berada dalam kondisi demikian dan harus berdiri selama beberapa jam?

Maukah Anda diperlakukan demikian?

Jangan lupa! Masyarakat bisa memberikan hukuman sosial!

Sebelum diputuskan untuk menolak, ada satu hal lagi yang harus Anda pertimbangkan sebelum berpura-pura tidur.

Ada aturan tak tertulis dalam bermasyarakat. Walaupun tidak ada secara resmi dalam hukum positif, norma akan tetap mengikat seorang manusia. Tidak bisa Anda lepas dari itu.

Memang, petugas tidak bisa meminta Anda berdiri. Sayangnya masyarakat pengguna Commuter Line atau KRL dewasa ini sudah semakin sadar tentang aturan tak tertulis tersebut.

Mereka akan siap memberikan hukuman sosial kepada siapapun yang melanggar norma tersebut.

Percayalah! Bukan sekali dua seorang penumpang, entah wanita atau pria yang menolak memberi duduk pada wanita hamil dipermalukan dalam perjalanan.

“Dia lahir dari batu!”. “Ga punya otak!”. Itu adalah sebagian yang akan terlontar bila Anda menolak memberi duduk pada wanita hamil atau lansia. Bukan hanya bisik-bisik tetapi sering berupa teriakan yang terdengar oleh semua penumpang dalam sebuah kereta/gerbong.

Bisa bayangkan teriakan sahut menyahut dan ratusan orang memandang Anda?

Bagaimana kalau penumpang wanitanya masih muda, tidak hamil dan tidak cacat? Masih haruskah?

Tergantung!

Kok tetap tergantung?

Saran saya :

Bila Anda pria dan masih jomblo alias single :

Bukankah hal tersebut sebuah kesempatan bagus untuk pendekatan. Wanita pasti akan menghargai dan memandang Anda sebagai gentleman.

Kesempatan baik bukan. Siapa tahu?

Bila Anda pria sudah berkeluarga, atau Anda seorang wanita :

Mungkin sudah kuno. Hanya saja, di masa lalu ada yang namanya solidaritas an-ker.

Perjalanan CL sangat melelahkan. Semua orang yang berada di dalamnya seperti merasakan hal yang sama.

Berbagi sedikit kenyamanan tidak akan merugikan. Justru akan menimbulkan simpati dan solidaritas pada sesama pengguna KRL di masa lalu.

Tidak penting apakah wanita yang berdiri adalah teman, atau Anda hanya hafal wajahnya saja, atau bahkan tidak kenal sama sekali.

Para penumpang di zaman CL masih disebut KRL akan berbagi tempat duduk. Biasanya mereka akan menghitung berapa jumlah stasiun yang harus ditempuh kemudian membagi 2.

Memberi duduk wanita di Commuter LineSetelah menikmati tempat duduk selama 1/2 perjalanan, maka yang duduk akan berdiri dan mempersilakan penumpang di hadapannya untuk duduk.

Berbagi sebuah hal kecil ternyata sering menghasilkan rasa solidaritas pada pengguna KRL atau CL. Menambah teman itulah biasanya hasil dari berbagi sebuah hal kecil.

Apakah Anda melakukannya? Terserah Anda untuk yang terakhir. Pastikan saja, yang wajib sesuai aturan dan norma dilaksanakan.

2 COMMENTS

  1. Saya sih malah nggak begitu pak kalau naik commuter line…
    Kalau duduk di kursi prioritas memang saya akan mengalah ketika ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang lebih tua dari saya (walau biasanya bapak-bapak usia lanjut jarang mengeluhkan soal ini), entah itu kondisi fisiknya masih segar bugar ataupun tidak. Tapi kalau bukan di kursi prioritas, saya tidak pernah menawarkan duduk kepada orang yang lebih tua (kecuali memang kondisinya terlihat renta atau ibu hamil/bawa anak kecil).

    Banyak orang tua berpikiran bahwa “anak muda sepantasnya mengalah kepada yang lebih tua” Dan itu seringkali dijadikan senjata terutama oleh kaum wanita (biasanya umur 35 sampai mendekati 50) …

    Namun saya berpikiran sebaliknya, orang yang lebih tua itu punya pengalaman hidup yang lebih banyak, sudah menikmati hidup lebih lama, jadi seharusnya mereka lah yang mengalah kepada yang lebih muda.

    Toh saya pun kalau bukan untuk keperluan yang mendesak atau bukan saat peak hour, biasanya lebih sering menunggu kereta lainnya yang lebih lapang. Karena saya berpergian naik kereta biasanya dari ujung bogor ke ujung jakarta dan sebaliknya.

    • Tidak semua orang tua mau meminta. Bahkan banyak yang bahkan tidak berpikir untuk itu. Saya berusia 45 tahun saat ini dan bahkan setiap hari tidak pernah berpikir untuk duduk. Sudah terbiasa berdiri dan bahkan sampai sekarang akan mempersilakan orang yang ada di dekat saya untuk duduk.

      Masalah tempat duduk adalah masalah norma dan juga ketahanan fisik. Itu bukan masalah mengalah atau tidak. Kalau seorang penumpang yang lebih tua tidak diberikan duduk, maka kemungkinan dia akan mengalami suasana yang tidak menyenangkan yang mungkin tidak bisa dia hadapi. Kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tentu akan merepotkan banyak orang.

      Norma yang ada bukan menyuruh yang muda mengalah. Tetapi kalau ada seseorang yang tidak memiliki kemampuan (dalam hal ini ketahanan fisik), sudah seharusnya yang mampu membantu.

      Jadi bukan soal mengalah ya dik. Itu masalah logika kita berpikir dan juga saling tolong menolong/berbagi.

      Terima kasih sudah datang dan meninggalkan jejak. Saya sangat menghargainya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.