Terlalu Jauh - Fotografi Jalanan
Jalan Juanda, Januari 2016

Delapan Puluh persen KEBERANIAN dan 20% skill atau keahlian. Itu motto yang berlaku di dunia fotografi jalanan.

Genre fotografi ini memang menekankan pada emosi yang terpancar dari dalam diri obyek atau subyek dalam sebuah foto. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sesuai yang dikehendaki dan memancarkan emosi kehidupan dari sang tokoh dalam foto, diperlukan sebuah keberanian.

Keberanian tersebut diperlukan untuk mendekati obyek kamera sedekat mungkin dan kemudian mengambil gambarnya.

Para fotografer jalanan handal biasanya memotret dari jarak yang teramat dekat dengan obyek. Bahkan Bruce Gilden, asal Amerika Serikat, memotret dari jarak hanya 0.7 meter saja. Rata-rata para fotografer jalanan yang sudah lama malang melintang menyebutkan 1.5-2 meter sebagai jarak maksimum terbaik untuk menghasilkan sebuah foto ala fotografi jalanan atau street photography.

Mudah diucapkan sulit untuk dilakukan.

Pada kenyataannya, untuk berada di dekat “obyek” menimbulkan rasa tidak nyaman sendiri bagi si pemotret. Kekhawatiran bahwa sang model akan merasa terganggu privasinya merupakan sebuah hambatan utama. Belum lagi, ketika dipikirkan bahwa kalau sang model menyadari kehadiran kita, si fotografer, maka raut muka dan mimiknya tidak lagi senatural ketika ia tidak menyadarinya.

Iulah hambatan utama dalam menjalani kegiatan sebagai fotografer jalanan.

Foto yang diambil di Jalan Juanda Bogor, beberapa waktu yang lalu mencerminkan dengan jelas hambatan tersebut.

Seorang Pedagang Kumang (Klomang) yang sedang menunggu pembeli, terlihat termenung. Entah mengapa, tetapi postur tubuh dan mimiknya sangat menarik untuk direkam dalam sebuah foto.

Sayangnya, hambatan psikologis seperti yang disebutkan di atas membuat jarak yang diambil terlalu jauh. Paling tidak 3-4 meter, jarak yang ada antara kamera dan obyeknya. Ujungnya, mimik dan kesan yang seharusnya menjadi fokus utama, tidak bisa tertangkap secara utuh.

Seharusnya pemakaian zoom bisa membantu mengurangi hambatan tersebut, tetapi tetap saja kecemasan bahwa sang obyek akan sadar dirinya menjadi sasaran kamera ada, terutama bila zooming dilakukan.

Itulah mengapa motto 80% Keberanian dan 20% Skill merupakan panduan utama dalam menjalani fotografi jalanan. Kalau keberanian itu tidak dimunculkan (dengan berbagai cara), maka hasilnya akan tetap terasa “JAUH” dan tidak sesuai dengan ide awal yang dikehendaki.

Lebih dekat. Lebih dekat dan lebih dekat. Untuk itu memang harus terus menumbuhkan keberanian melakukan pendekatan kepada subyek atau obyek kamera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.