Selokan Tidak LancarLagi! Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) melanda Kota Bogor. Tujuh ratus tujuh puluh kasus DBD terjadi dengan 2 korban jiwa pada tahun ini.

Salah satu korban adalah tetangga saya sendiri di Cluster Taman Binga, Bukit Cimanggu City, Kota Bogor. Seorang anak berusia 10 tahun terpaksa dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Islam. Tidak jelas apakah kasus ini sudah dilaporkan atau belum

Lagi! Sebuah edaran dari pengurus warga memberitahukan pelaksanaan fogging atau pengasapan akan dilakukan.

Ini bukan pertama kalinya dan sepertinya tidak akan menjadi yang terakhir. Dalam satu tahun ini, disebuah lingkungan yang hanya berisi 77 rumah (satu Rukun Tetangga) sudah dilakukan beberapa kali fogging, paling tidak 4 kali terjadi. Kesemuanya dilakukan setelah adanya warga yang terkena.

Sepertinya terbentuk sebuah pola standar. Kalau ada kasus DBD maka akan dilakukan fogging.

Setelah Fogging, adem ayem. Seakan masalah terselesaikan. Kasus selesai dan ditutup.

Bisa dibayangkan, hal yang sama dilakukan di seluruh RT, RW, Kelurahan di Bogor dan dengan pola yang sama pula.

Kalau memang pola yang sama terjadi di kota ini, maka akan dengan mudah diprediksi bahwa hal yang sama akan terus terjadi. Wabah DBD tidak akan pernah lepas dan pergi dari kota ini.

Hanya tinggal menunggu waktu kapan wabah berikutnya akan melanda. Tinggal menanti berita lagi bahwa wabah DBD menyerang kembali di berbagai media.

Lho? Kok bisa memastikan?

Bukan memastikan. Hanya berdasarkan prediksi dan pola yang ada, memang hal tersebut hampir pasti akan terjadi. Ada salah kaprah dalam memandang wabah DBD dengan fogging.

Salah Kaprah Tentang Fogging

Tahukah Anda tujuan dari pelaksanaan FOGGING atau pengasapan?

Untuk mematikan nyamuk? BETUL sekali. Seratus untuk Anda.

Tetapi.. ada tetapi disini. Fogging hanya menyentuh nyamuk dewasa, sekali lagi diulangi NYAMUK DEWASA. Bahan kimia yang dipakai untuk pengasapan ini tidak menyentuh yang namanya jentik-jentik nyamuk atau larva.

Bahkan ketika fogging sudah dilakukan anak-anak nyamuk ini akan tetap hidup. Oleh karena itu biasanya ada tindakan lain yang dilakukan, yaitu untuk menaburkan ABATE untuk mematikan jentik-jentik nyamuk.

Itupun hanya bertahan selama beberapa saat saja karena air akan mengalir dan kandungan abate akan habis dalam waktu tertentu.

Jadi FOGGING bukanlah obat dewa. Kegiatan ini tidak akan mematikan seluruh anggota keluarga nyamuk. Padahal, tanpa mematikan jentik-jentik nyamuk, maka bisa dipastikan beberapa hari setelah pengasapan, jentik-jentik tersebut akan tumbuh menjadi nyamuk dewasa dan pada akhirnya akan kembali menyerang manusia.

Kemungkinan wabah DBD akan tetap ada.

Sayangnya, masyarakat selalu menganggap bahwa masalah serangan wabah DBD sudah selesai ketika kegiatan fogging dilakukan. Padahal tidak demikian halnya, bibit bom waktu masih ada dan tersisa. Hanya menunggu waktu saja untuk kembali menyerang.

Fogging Sering Tidak Menyentuh Air Dalam Bak Mandi atau Tempayan

Got Mampet

Kegiatan fogging seringkali tidak menyentuh bagian dalam sebuah rumah. Banyak warga yang tidak mau direpotkan dengan bekas-bekas pengasapan yang kadang meninggalkan bau.

Belum ditambah berbagai kerepotan untuk menutupi makanan dan benda-benda lainnya.

Padahal Aedes Aegypti, si nyamuk DBD justru sangat suka pada genangan air bersih. Nyamuk jenis ini biasa bertelur dan menetas di lingkungan seperti ini.

Tentu saja, penelitian lebih lanjut telah membuktikan bahwa mereka juga sudah beradaptasi. Nyamuk ini juga bisa berkembang biak di genangan air hujan atau selokan. Tetapi, mereka juga bisa melakukan hal yang sama di air ledeng atau air minum.

Bahkan, di tempat-tempat gelap dan kotor pun mereka bisa berkembang biak, seperti pepohonan yang terlalu lebat. Rumah kosong dengan ilalang yang tinggi. Jenis-jenis lingkungan seperti ini bisa menjadi sarang nyamuk tersebut.

Nah, itulah mengapa saya berani mengatakan bahwa kalau pola yang sama terulang, maka hampir bisa dipastikan, wabah DBD akan terjadi lagi di kota ini.

Sederhana sekali alasannya sebenarnya.

Inti masalahnya tidak terpecahkan. Titik.

——-

Fogging adalah langkah sementara dan bersifat kuratif untuk menghabisi nyamuk-nyamuk dewasa dengan segera. Itupun sifatnya berjangka waktu.

Tidak bisa setiap minggu dilakukan. Selain obat yang dipakai mahal harganya, akan menjebol budget siapapun, juga bila terlalu sering dilakukan justru akan membuat nyamuk menjadi resisten, kebal terhadap zat kimia yang dipakai.

Hal itu bisa lebih berbahaya karena nyamuk menjadi kebal dan tidak mempan untuk dimatikan.

Jadi, fogging hanyalah menyentuh kulit dari masalah utamanya. Bukan intinya.

Lalu intinya dimana?

Intinya adalah tentang kebersihan lingkungan hidup dan pola hidup masyarakat.

Cluster Taman Bunga BCCKalau selokan bersih dengan air yang mengalir, maka tidak akan ada genangan air yang bisa dijadikan sarang untuk nyamuk Aedes Aegypti meletakkan telurnya.

Kalau semua warga rajin melakukan 3 M ( Menguras, Menutup, Mengubur), maka tidak akan ada tempat yang bisa dijadikan sarang.

Kalau semua warga mau bergotong royong membuat lingkungan menjadi cukup terang dengan sinar matahari, maka tidak akan ada tempat gelap untuk nyamuk bersarang.

Masih banyak kalau lagi, tetapi intinya adalah bagaimana masyarakat menjaga lingkungannya tetap bersih.

Jadi, fogging hanyalah langkah sementara. Sedangkan intinya, ya menjaga lingkungan. Tidak cukup hanya dengan mengasapi lingkungan dengan obat pembunuh nyamuk.

Masalah DBD harus dipecahkan dengan merubah gaya hidup dan pola pikir masyarakatnya. Mereka harus sadar dan ikut berperan serta untuk mencegah kejadian yang sama terulang.

Wabah DBD tidak akan hilang kalau tidak ada perubahan dalam pola pikir warga Bogor, berapa kalipun fogging dilakukan dalam setahun, wabah DBD akan tetap menghantui.

Sayangnya, kalau melihat apa yang terjadi di kota ini selama berpuluh tahun, menjaga kebersihan dan gaya hidup bersih belum menjadi sesuatu yang membudaya. Bahkan untuk sekedar membersihkan selokan di depan rumah pun, masih banyak yang malas melakukannya.

Itulah masalah utamanya dan mengapa saya mengatakan “Fogging Tidak Akan Membuat Bogor Bebas DBD”. Kalau semua warga Bogor bisa memakai gaya hidup bersih dan menjaga lingkungannya, barulah Bogor bisa bebas DBD.

Tanpa itu, jangan harap bisa terjadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.