Bogor Kota Sejuta Angkot! Itu julukan tidak resmi dari Bogor, si Kota Hujan. Julukan yang diberikan sebagai efek dari angkutan umum berwarna hijau itu terhadap lalu lintas dan kehidupan di kota ini.

Dimana-mana ada angkot.

Jadi, pernahkah terbayangkan bagaimana suasana Bogor tanpa angkot?

Sulit membayangkannya. Tetapi, demo dan mogok angkot yang terjadi selama beberapa hari yang lalu (21 Maret – 23 Maret) menghadirkan suasana yang banyak warga Bogor pandang sebagai suasana jika angkutan kota tersebut ditiadakan sama sekali.

Silakan lihat beberapa foto yang ditebarkan oleh warga Bogor di berbagai linimasa media sosial Facebook.

bogor tanpa angkot 03
Pertigaan depan Tugu Kujang dan Lawang Salapan
bogor tanpa angkot 02
Tugu Kujang & Lawang Salapan
bogor tanpa angkot 01
Jalan Sudirman
Berbagai area di Bogor saat demo angkot

Sepi dan lengang. Tidak ada yang namanya “wereng hijau”, julukan tidak resmi dari angkot.

Tentu saja, karena pada saat demo angkot tersebut tidak ada angkot yang beroperasi. Yang beroperasi sekalipun disweeping dan penumpangnya diturunkan di tengah jalan.

No angkot.

Banyak warga merasa senang dan gembira dengan ketidakhadiran angkot saat itu (melihat status mereka di media sosial yang ternyata lumayan banyak). Lalu lintas menjadi lancar dan tanpa hambatan. Oleh karena itu banyak seruan girang para netizen yang mengatakan agar demo diteruskan selamanya seperti yang bisa dilihat pada artikel sebelumnya tentang tanggapan netizen terhadap demo dan mogok angkot Bogor.

Tetapi, benarkah situasi akan sama seterusnya jika benar-benar angkot dihapus dan kemudian Bogor menjadi tanpa angkot sama sekali? Akankah lalu lintas terus selancar itu tanpa kemacetan?

Saya ragu.

Tidak semudah dan segampang itu.

Ada beberapa alasan mengapa saya berpandangan demikian, seperti :

  1. Bukan hanya angkot yang tidak beroperasi. Sweeping para supir angkot terhadap angkutan berbasis aplikasi atau angkutan online menyebabkan tidak beroperasinya ratusan bahkan ribuan tukang ojeg online seperti Grab-Bike dan Go Jek.Berarti ratusan kendaraan juga tidak turun ke jalan pada saat bersamaan
  2. Apa berhenti sampai di situ? Tidak. Banyak warga yang urung keluar rumah dan beraktifitas karena situasi sangat tidak kondusif. Mereka banyak yang menunda.
  3. Ribuan orang terlantar tidak terangkut. Memang untuk sementara sedikit terbantu dengan kendaraan bantuan dari Pemda, polisi, dan banyak relawan masyarakat yang berusaha membantu. Tetapi, tidak akan bisa seterusnya. Jika angkot ditiadakan tanpa pengganti, maka tentunya mereka akan mencari pemecahan, yaitu membeli kendaraan pribadi yang pada akhirnya juga akan turun ke jalan
  4. Demo bukan hari libur atau akhir pekan. Kemacetan di Bogor bukan hanya karena kendaraan yang berasal dari dalam kota. Pada hari libur, ribuan kendaraan dari luar Bogor akan masuk dan ikut memadati jalan-jalan di ibukota.

Jadi, saya ragu bahwa jika Bogor tanpa angkot suasananya akan selengang itu. Banyak faktor dan variabel yang tidak dimasukkan dengan hanya melihat foto-foto di media sosial. Padahal faktor-faktor itu juga mempengaruhi situasi lalu lintas di kota ini.

Gambaran semu.

Efek Buruk Angkot Bagi Kota Bogor
Angkot menaikkan penumpang sembarangan di Jalan Pajajaran

Apakah berarti angkot bukan penyebab kemacetan? Tidak juga. Tetapi, segala kekurangan angkot bukanlah penyebab satu-satunya mengapa Waze memberi titel kota dengan lalu lintas yang paling menyebalkan ke-2 di dunia. Masih banyak hal lain yang juga berperan dalam menghasilkan kemacetan parah di kota ini.

Sesuatu yang membutuhkan penanganan secara menyeluruh dibandingkan secara partial saja.

Meskipun demikian, setidaknya, walau situasi panas membara di jalan dengan terjadinya bentrokan antar supir angkot dan ojol (ojek online), setidaknya ada sisi baiknya, yaitu masyarakat Bogor diberi sedikit istirahat dari kekesalan akibat kemacetan di jalan. Sedikit pacuan adrenalin melihat situasi yang memanas seperti itu dan sedikit paksaan berolahraga karena banyak yang terpaksa harus berjalan kaki.

Yah setidaknya kalau dipandang dari sisi baik dengan bumbu humor.

4 COMMENTS

  1. Mantab kang tulisannya.. cara pandang Anda holistik sekali..

    Salam jempol 🙂

    • Nuhun aah.. cuma coba memandang dari sisi lain saja.

  2. untuk yang memiliki kendaraan pribadi mungkin cukup senang akan hal ini, karena tidak lagi di repotkan dan khawatir karena kendaraan angkot yang “biasanya” sering ugal-ugalan (tidak semuanya).

    Namun yang tak memiliki, tentu di bikin repot karena banyak kegiatan jadi terganggu akibat mogok ini.

    sebagian sisi setuju,
    sebagian lagi khawatir.

    • Yup, semua orang berbeda kebutuhan dan kemampuannya.

      Menyeimbangkan antara kedua kutub ini adalah bagian tersulit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.