Efek Burung Angkot Bagi Kota Bogor
Angkot melintasi Jalan Otto Iskandar

Bogor, Kota Sejuta Angkot. Julukan tidak resmi bagi si Kota Hujan yang disematkan baik oleh pengunjung dari luar kota dan warganya sendiri. Satu dari berbagai julukan lain yang diberikan karena kehadiran angkutan kota berwarna hijau yang menjadi ciri khas tersendiri kota ini.

Bukan saja karena manfaatnya, tetapi juga karena ulah para pengemudinya kerap mau menang sendiri susah untuk dilupakan siapapun, terutama bagi mereka yang biasa berkendara di jalan-jalan Kota Bogor.

Tetapi, mungkin tinggal 3 tahun lagi julukan, yang sebenarnya menyakitkan telinga itu akan bertahan. Ya, sampai tahun 2022 saja, mudah-mudahan terealisasi.

Baru-baru ini, beredar berita berupa rencana (atau wacana) untuk membuat “Kota Bogor steril angkot”

Begini beritanya yang beredar di media massa dan media sosial.

View this post on Instagram

#Bogor dikenal dengan Kota Sejuta Angkot walaupun pada nyatanya hanya ada sekitar 2400 angkot yang ada di wilayah Kota Bogor. . Disamping itu walikota #Bogor, kang @bimaaryasugiarto menyatakan yakin pada tahun 2022 angkot di Kota Bogor sudah hilang. Salah satu alasan utamanya adalah adanya kemacetan di ruas tertentu yang dirambati angkot yang terjadi terutama saat pagi hingga pukul delapan malam. . Penanganan program tersebut, dimulai dengan tidak diperpanjangnya izin operasi 800 unit angkot diakhir tahun 2019, dilanjut pengurangan setengah jumlah angkot ditahun 2020 hingga ditahun 2022 diperkirakan angkot akan resmi hilang dan dikonversikan dengan moda alternatif lainnya. . Gimana menurutmu #Bogorian? . #infobogor #beritabogor #bogorbebasangkot2022 #konversiangkot #welovebogor

A post shared by BOGOR (@infobogor) on

Dijelaskan, menurut Walikota Bogor, Bima Arya Sugianto, pada tahun 2019 ini, “hanya” tersisa 2400 unit angkot yang beroperasi dan ditargetkan 1/3-nya, alias 800 unit tidak akan diperpanjang izinnya.

Kira-kira jumlah yang sama akan pensiun di dua tahun berikutnya, 2020 dan 2021. Sehingga pada tahun 2022 tidak ada lagi angkot yang beroperasi.

Penggantinya sedang dalam pembahasan, dimana salah satu opsinya adalah menghadirkan trem sebagai sarana transportasi umum pengganti.

Rencana yang patut diapresiasi mengingat peran angkot sendiri sebagai transportasi umum sudah mulai banyak tergerus oleh semakin berkembangnya transportasi jenis baru, seperti angutan berbasis aplikasi, Go Jek atau Grab.

Tetapi, masih mengkhawatirkan juga, apakah rencana ini akan bisa terealisasi mengingat selama ini angkot, meski sudah disarankan oleh banyak pihak untuk diganti oleh angkutan lain, tetap bertahan sampai sekarang. Bahkan, beberapa jenis angkutan alternatif sebelumnya, seperti bus feeder busway, Trans Pakuan, dan lain-lain tidak bisa menggusur si raja jalanan.

Entah kenapa.

Meskipun demikian, dengan hadirnya rencana ini setidaknya ada setitik harapan baru bahwa angkot benar-benar bisa menghilang dari bumi Bogor.

Bagaimanapun Kota Bogor sudah berubah banyak dan sedang berkembang menjadi sebuah kota modern. Keberadaan angkot yang dilahirkan akhir tahun 1970-an dan masih berdasarkan konsep lebih dari 40 tahun lagi, rasanya sudah dirasa tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Tidak nyaman. Mahal. Ngetem. Dan, ugal-ugalan di jalan merupakan salah satu ciri angkot. Selain itu banyak juga dampak buruk angkot bagi masyarakat Kota Hujan. Sesuatu yang rasanya lebih banyak dibandingkan manfaatnya sebagai angkutan umum.

Tidak heran di berbagai media sosial, postingan terkait “Bogor steril angkot” mendapatkan banyak respon positif, walau tentunya ada yang kontra. Semua seperti menunjukkan bahwa memang sudah saatnya angkot pensiun dari Kota Bogor untuk digantikan dengan yang lebih

Saya setuju dan berdoa supaya hal ini terwujud.

Bagaimana dengan Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.