Rutin terjadi. Setiap kali masa kampanye, baik Pilkada, Pileg, pokoknya pemilu, Bogor, baik kota atau kabupaten akan dipenuhi oleh orang-orang tak dikenal yang sedang melakukan pemasaran.

Dalam hal ini, pemasaran dirinya sendiri.

Coba saja perhatikan sudut-sudut kota ini, terutama yang ramai dilewati orang, pastilah disana akan terlihat apa yang dimaksud di atas.

Spanduk-spanduk berisi foto ukuran raksasa terpampang dengan wajah-wajah yang asing dan bahkan tidak pernah terlihat sebelumnya.

Mereka menjanjikan dan menawarkan kepada warga Bogor bisa memberikan solusi dan pemecahan terhadap berbagai masalah yang dihadapai semua orang.

Terkadang, kesannya mirip dengan tukang obat yang menjanjikan bisa menyediakan obat bagi segala penyakit.

Padahal, banyak dari orang-orang itu yang sebelumnya tidak pernah terlihat hadir dan menawarkan masalah ketika got mampet, atau jalan rusak, atau kemiskinan yang masih dihadapi banyak warga Bogor. Entah mereka berada dimana karena kota ini memang tidak pernah henti memiliki masalah.

Sungguh, saya sendiri bahkan sama sekali tidak mengenal orang-orang yang ada di spanduk-spanduk itu. Boro-boro akrab, terkadang bahkan namanya juga asing.

Dan, terus terang tidak sulit untuk bisa percaya bahwa mereka bisa menjembatani keinginan warga untuk kehidupan yang lebih baik. Bagaimana bisa mempercayakan perubahan kepada mereka yang pada kehidupan sehari-hari tidak “hadir” dan menunjukkan kalau mereka memang mampu menjadi penerus aspirasi.

Sulit untuk bisa percaya pada mereka yang bahkan tidak berusaha hadir dan mendekat mendengarkan keluhan.

Seberapapun besar fotonya yang terpajang, rasa percaya itu tidak bisa tumbuh begitu saja hanya karena mereka terlihat tampan, cantik, memakai pakaian keren. Rasa percaya itu hadir ketika mereka bisa menunjukkan bahwa mereka pantas untuk mendapatkan kepercayaan itu.

Entah berapa biaya yang mereka keluarkan untuk mendapatkan “kepercayaan” itu. Tetapi, pemasaran pun bukanlah sekedar memajang foto saja. Seorang salesman yang baik harus bisa meraih kepercayaan calon pembelinya.

Semakin dikenal, semakin baik. Sulit untuk percaya kepada “penjual” yang tidak begitu dikenal atau penjual dadakan.

Yah, itulah Bogor setiap masa kampenye menjelang pemilihan umum.

Penuh spanduk berisi orang tak dikenal yang sedang berusaha memasarkan diri dan meraih kepercayaan orang.

Entahlah, apakah hal itu berhasil atau tidak baru diketahui setelah pemungutan suara selesai dan surat suara dihitung.

Yang menjadi perhatian, sebenarnya adalah Bogor menjadi semrawut karena begitu banyak spanduk yang bertebaran dan kerap dipasang sembarangan. Mudah-mudahan saja hal itu dilakukan karena sudah mendapat izin dari dinas terkait dan tentunya membayar uang sewa pemsangan kepada pemda.

Paling tidak kalau mereka sudah membayar retribusi iklan, ada sumbangsihnya bagi warga Bogor.

Kalau tidak, semakin sulit dipercaya. Sudah tidak dikenal, tidak mengikuti aturan yang ditetapkan, dan tidak memberikan sumbangsih apa=apa kepada warga dan membuat tidak nyaman mata warga Bogor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.