Bogor Ka BogorBogoh Ka Bogor

 

“Anjeun Bogor Ka Bogor?” (Anda cinta pada Bogor?). Kalau pertanyaan tersebut diajukan kepada warga kota hujan ini, sudah pasti jawabannya akan terdengar sama. Muhun, abdi Bogoh ka Bogor (Betul, saya cinta pada Bogor).

Rasanya tidak akan ada jawaban lain.

Meskipun demikian, banyak lagu menyebutkan bahwa mengatakan kata “sayang” atau “cinta” adalah sebuah hal yang sangat mudah dilakukan. Setiap hari ribuan kali, mungkin puluhan ribu ali kata tersebut diucapkan oleh banyak orang. Tidak sulit. Sama sekali tidak sulit.

Yang sulit adalah mewujudkan kata tersebut dalam setiap tindakan. Itu adalah hal yang teramat sangat sulit untuk mensinkronkan antara apa yang keluar dari mulut dengan yang tercermin dalam setiap tindakan kita.

Gerakan Bogoh Ka Bogor

Bogoh Ka BogorPada bulan Maret 2015 yang lalu, Gerakan Bogoh Ka Bogor dideklarasikan oleh ribuan orang. Dihadiri oleh para petinggi kota dan artis kota talas ini.

Nah, pertanyaannya mengapa harus ada gerakan Bogoh Ka Bogor kalau masyarakatnya bisa dikata 100% mendeklarasikan diri sebagai pecinta Bogor. Kalau memang semua sudah cinta, mengapa perlu dilakukan acara seremonial besar-besaran seperti itu. Hanya akan membuang biaya saja, kalau setiap warga Bogor “memang” sudah menjiwai kata cinta yang diucapkannya.

Rupanya, kenyataan di lapangan berkata lain. Terbalik dari koleksi puluhan ribu kata cinta kepada Bogor yang dipungut dari warganya, situasi kota sendiri justru mencerminkan bahwa kota Bogor dibenci oleh warganya sendiri.

Kota ini dianggap sebagai sebuah tong sampah besar untuk menampung benda-benda tak berguna oleh warganya. Bahkan mereka lebih sayang tong sampah dibandingkan kotanya sendiri. Tong sampah banyak yang dibiarkan bersih dan terawat sementara jalan-jalan, saluran air, dan sungai dipenuhi oleh sampah-sampah mereka. (Lihat Tong Sampah vs Bogor = Adipura Melayang)

Jalanan macet dimana-mana, alasannya sederhana, warganya lebih mendahulukan kepentingan dan egonya sendiri dibandingkan ketertiban umum. Lihat apa yang terjadi di berbagai tempat seperti Perlintasan RE Martadinata setiap harinya.

Bogoh Ka BogorApakah demikian wujud dan realisasi yang dilakukan seorang yang mencintai? Sama sekali bukan. Justru terbalik 180 derajat dari apa yang seharusnya dilakukan orang yang bogoh ka bogor.

Gerakan Bogoh ka Bogor bisa dikata merupakan cerminan kekhawatiran dari banyak orang terhadap perilaku dan tingkah laku warga kota ini. Kecemasan bahwa bila semua tingkahlaku seperti ini terus berlanjut, maka Bogor akan segera berubah menjadi kota yang semrawut dan sama sekali tidak nyaman.

Oleh karena itulah gerakan ini dideklarasikan. Untuk mencoba membangkitkan kembali kesadaran masyarakat tentang kotanya. Membangkitkan perasaan sayang yang selama ini terkubur oleh keegoisan. Sebuah usaha untuk menumbuhkan kembali rasa sayang yang sudah pudar.

Sebuah usaha mirip dengan yang dilakukan pasangan suami istri yang sudah menikah puluhan tahun untuk mencegah cinta mereka padam dan menghilang.

Tantangannya sangat besar. Kegoisan yang sudah merasuk dalam diri banyak warga Bogor harus disetting ulang. Direstrukturisasi dalam bahasa kerennya. Dipoles kembali agar benih rasa sayang itu bisa tumbuh kembali di tengah polusi ego dalam diri warganya.

Bogoh Ka BogorBogoh Ka Bogor lebih tepat disebut sebagai sebuah tantangan yang teramat sangat sulit.

Tantangan yang sangat sulit karena bukan hanya ditujukan bagi pemerintahannya. Tantangan ini justru ditujukan kepada setiap orang yang tinggal di Bogor dan mengaku “bogoh ka Bogor” untuk memaknainya dalam setiap perilaku mereka sehari-hari.

Sebuah gerakan yang sulit direalisasikan, meskipun bukan tidak mungkin. Sebuah gerakan yang akan membutuhkan waktu panjang dan usaha keras dari setiap individu yang terlibat.

Sesuatu yang mendekati mission impossible …. tetapi kalau tidak dicoba dan dimulai, maka akan semakin semrawut-lah kota ini.

Oleh karena itu, Lovely Bogor hendak mengajak pada semua warga dan pembaca web ini untuk memulai kembali menanam benih cinta pada kota hujan ini. Tujuannya sederhana, supaya di masa depan kita bisa dengan yakin dan tidak merasa berbohong pada diri sendiri ketika mengatakan “Abdi mah Bogoh Ka Bogor”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.