Bisnis Tanaman Hias di Bogor Sedang Booming, Sampai Kapan?

Bisnis Tanaman Hias Di Bogor Sedang Booming Sampai Kapan
Koleksi Aglaonema Lovely Bogor tahun 2008

Bisnis tanaman hias di Bogor, Kota Hujan, sepertinya sedang booming (lagi).

Bagaimana tidak merasa demikian, kalau ketika pergi ke Sentra Tanaman Katulampa, seorang pedagang menawarkan kepada saya dan istri, satu pot aglaonema Pride of Sumatera, hasil karya maestro aglaonema Indonesia, Greg Hambali, seharga Rp. 200.000.-. Padahal, dalam satu pot itu hanya ada 6-7 daun saja.

Belum lagi, satu pot aglaonema Legacy berisi 3-4 lembar daun berukuran 15 centi, ditawarkan seharga 150 ribu rupiah.

Kaget?

Ya, lumayan kaget juga kalau mengingat pada tahun 2008, saat dunia tanaman hias di Indonesia meredup, satu pot POS (Pride of Sumatera) berukuran lebih besar dihargai hanya sekitar Rp. 55-60.000.- saja. Legacy, 3-4 daun pun hanya berkisar Rp. 50 ribu.

Jangan tanyakan harga tanaman ornamental seperti itu yang lainnya, Philo(dendron) Eceng berukuran 30-40 centimeter dibandrol 200-300 ribu. Padahal, di rumah sudah ada yang berukuran lebih dari satu meter tingginya.

Harga anthurium berbagai jenis, seperti Jenmanii atau Hookeri pun tidak mau kalau melejit.

Bisnis tanaman hias di Bogor sedang menanjak. Situasinya, mungkin mirip dengan booming yang sama 14-15 tahun lalu.

Bisnis Tanaman Hias di Bogor Sedang Booming, Sampai Kapan
Aglaonema Big Roy koleksi Lovely Bogor 2008

Booming Lagi!

Sulit juga untuk mengabaikan kenyataan maraknya perburuan tanaman hias di Bogor. Ibu-ibu di kompleks perumahan dimana Lovely Bogor berada, Bukit Cimanggu City, belakangan ini kerap pergi bareng-bareng untuk berburu tanaman. Mereka bisa pergi seminggu dua kali ke penjual tanaman hias di kawasan Jalan Dadali yang merupakan salah satu sentra tanaman hias di Bogor , atau yang lainnya.

Sekembalinya dari perburuan, kendaraan yang dipakai akan penuh dengan berbagai pot tanaman yang dibeli, pot, atau media tanam yang diperlukan.

Bila diperhatikan statistik di blog ini juga salah satu post yang paling sering diburu adalah tentan dimana membeli tanaman hias di Bogor. Seharinya bisa lebih dari 100 orang pembaca yang datang dari mesin pencari Google.

Hal yang sinkron dengan situasi di lapangan dan kenaikan harga tanaman yang melonjak tinggi.

Hampir bisa dipastikan bahwa ini adalah salah satu efek positif dari masih merebaknya pandemi Covid-19.

Sentra Tanaman Hias Katulampa
Sentra tanaman Katulampa di Jalan Achmad Syam

Kebijakan WFH atau Work From Home yang masih diberlakukan membuat banyak warga masih “terkurung” di rumah.

Hasilnya, banyak orang yang sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor, sekarang harus berada di rumah. Mereka memiliki waktu luang yang luar biasa banyak.

Sesuatu yang menyenangkan jika sesekali terjadi, tetapi menjadi sesuatu yang membosankan jika dilakukan terus menerus dalam jangka waktu yang panjang dan tanpa kepastian seperti selama pandemi ini.

Ujungnya, banyak orang berusaha mencari kegiatan untuk mengisinya. Dan, selain bersepeda, tidak sedikit orang yang memilih untuk menata ulang taman dan halaman di rumah mereka.

Untuk melakukan itu, mereka membutuhkan ornamen tambahan untuk membuatnya menjadi indah, yaitu tanaman hias.

Tidak heran hasilnya perburuan tanaman hias menjadi marak. Rasanya bukan hanya di Bogor saja, tetapi juga di banyak kota lainnya, hal yang sama juga terjadi.

Jadi, yah kondisi inilah yang rasanya menjadi penyebab booming (lagi) per-tanamanhias-an di Bogor.

Sesuatu yang tentunya harus dipandang sebagai sesuatu yang baik di tengah suramnya dunia akibat si Corona. Bagaimanapun, pembelian tanaman hias atau apapun memastikan bahwa perekonomian tetap berjalan dan tidak terhenti. Pedagang tanaman hias dan peralatan menanam akan mendapatkan profit untuk mereka membeli barang kebutuhan hidupnya.

Bagi lingkungan pun, booming tanaman hias seperti ini juga sangat bagus. Semakin banyak tanaman, semakin banyak oksigen yang dihasilkan. Udara menjadi lebih sejuk dan bersih.

Lingkungan pun menjadi lebih enak dilihat karena warna warni dari bunga atau daun. Penataan ulang halaman dan taman akan menghasilkan kerapihan dan situasi yang menyenangkan bagi semua orang.

Nymphaea Rubra si teratai pink 01
Bunga Teratai Merah

Sampai Kapan?

Inginnya, situasi seperti ini akan seterusnya berlangsung.

Hanya saja, belajar dari pengalaman sebelumnya terjun di dunia tanaman hias, saya pikir ini adalah sebuah tren yang pada saatnya akan berakhir. Lagipula, tidak ada pesta yang tidak berakhir.

Mungkinkah, ketika vaksin Anti-Corona ditemukan dan diproduksi secara massal, yang kata Pak Jokowi, Presiden Indonesia, akan tersedia pertengahan tahun 2021, juga mengakhiri booming, perburuan tanaman hias ini?

Sangat mungkin terjadi, karena setelah itu semua orang akan harus kembali ke kehidupan normalnya. Pergi ke kantor, berwisata, dan banyak kegiatan lainnya. Semua waktu yang selama ini tersedia akan tersedot kembali.

Tidak akan ada waktu luang lagi yang harus diisi. Taman dan halaman rumah tidak akan lagi menjadi begitu menarik sebagai pengisi waktu dibandingkan berjalan-jalan bersama keluarga ke Puncak atau destinasi wisata lainnya.

Akankah ketertarikan terhadap tanaman hias masih sama?

Sebuah hal yang patut dipertanyakan dan diperhatikan. Meskipun, secara pribadi, sebagai seorang pecinta tanaman hias dan pernah bergelut di dalamnya, saya berharap setidaknya, saat booming itu selesai, akan lahir banyak individu baru yang menjadi pecinta dan penghobi dalam dunia ini.

Bogor butuh lebih banyak orang yang suka mengurus tanaman di masa yang akan datang.

Mari Berbagi