Berkendara Melawan Arus Lalu Lintas
Pengendara Melawan Arus Di Jalan Soleh Iskandar

Bolehkah saya bertanya kepada Anda? Berapa menit kah, waktu yang Anda hemat dengan berkendara melawan arus lalu lintas (kalau Anda memang gemar melakukannya)?

Lima menit? 10 Menit? 15? 20?

Jawabannya bisa bervariasi tergantung pada situasi dan kondisi arus lalu lintas dimana hal tersebut dilakukan. Bukan kah begitu?

Lalu, kira-kira dengan waktu yang sedemikian, apa yang bisa dilakukan? Lima menit bahkan untuk mandi saja kurang mencukupi. Sepuluh menit hanya cukup untuk mengisap sebatang rokok (kalau Anda perokok).

Pernahkah kita menyadari bahwa ada alasan mengapa pepatah “NO FREE LUNCH” atau “TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS” lahir? Ya, tidak ada sesuatu yang “gratis” alias tanpa konsekuensi dari setiap tindakan kita di keseharian. Semua ada konsekuensinya termasuk dengan berkendara melawan arus lalu lintas.

Mungkin, karena kurangnya penerapan hukum di negeri ini, para pengendara (terutama motor). yang gemar melakukannya. berhasil luput dari sanksi atau hukuman. Meskipun demikian, efek dari apa yang dilakukannya masih akan tetap ada dan berlanjut.

Rusaknya sistem. Sebuah sistem dibuat demi menjamin keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya keteraturan, maka setiap manusia akan dapat hidup dengan tenang untuk mencapai tujuan hidupnya masing-masing.

Dengan berkendara melawan arus, maka sistem tersebut akan rusak. Semakin banyak yang melakukan, maka semakin rusak. Tujuan akhir untuk menghadirkan ketertiban akan semakin menjauh dan masyarakat pun semakin tidak teratur.

Perilaku curang tertanam. Pernahkah Anda membayangkan ketika anak kita melihat tindakan tersebut. Sebuah pengertian bahwa melanggar aturan atau hukum adalah hal biasa dan diperkenankan akan melekat erat.

Alhasil, kemungkinan besar mereka akan meniru tindakan tersebut di kemudian hari.

Ujungnya, lagi-lagi sistem kemasyarakatan akan semakin digerus oleh tindakan-tindakan tersebut.

Berkendara Melawan Arus
Pengendara Melawan Arus di Jalan Soleh Iskandar Depan Bukit Cimanggu City

Bersiaplah Menjadi Korban Sia-Sia. O ya. Anda, kalau gemar berkendara melawan arus harus selalu mempersiapkan diri menjadi korban sia-sia. Dengan melakukan berkendara melawan arus, berarti Anda salah. Ketika terjadi sesuatu yang membahayakan jiwa Anda atau keluarga, maka bersiaplah untuk membuang sesuatu yang sudah Anda bangun selama ini.

Para pengendara seperti ini tidak menyadari betapa besar biaya yang sudah ditanamkan oleh orangtua, diri sendiri atau keluarga kita. Semuanya akan terbuang percuma ketika terjadi kecelakaan.

Terlebih lagi, tidak akan ada asuransi yang mau menanggung biaya pengobatan atau mengganti biaya lainnya ketika sebuah pelanggaran hukum dilakukan.

Memang kita tidak perlu mengukur segala sesuatu dari sudut materi. Hanya dalam hal ini, rasanya sudut pandang ini cukup layak dikemukakan untuk memperlihatkan betapa semua biaya tersebut akan terbuang percuma.

Merugikan Orang Lain. Para pengemudi, kebanyakan sepeda motor, tidak menyadari kecurangan yang mereka lakukan harus ditebus oleh orang lain.

Perjalanan pengendara lain yang sudah sesuai aturan terhambat. Waktu mereka terbuang hanya untuk memberi jalan kepada Anda.

Mungkin, hanya beberapa detik untuk setiap pengendara di sebuah jalan, tetapi kalau diakumulasikan maka jumlahnya menjadi banyak. Jumlahnya akan sama dengan waktu yang dihemat oleh Anda (lagi-lagi jika memang Anda melakukan).

Jadi, Anda hemat, tetapi orang lain menjadi boros. Merugikan.

Berkendara Melawan Arus

Jadi, berapa pun, diulangi berapa pun menit yang dihemat dengan berkendara melawan arus lalu lintas normal, kesemuanya tetap meninggalkan efek. Tidak gratis dan selalu ada konsekuensinya.

Padahal, kalau dipikirkan lagi, apa sih yang bisa kita kerjakan dengan menit-menit yang kita coba hemat dengan mengendarai kendaraan kita berlawanan arah. Bisa dikata hampir tidak banyak. Sangat sedikit.

Lalu, kalau kita menyadari sangat sedikit waktu yang dihemat, sedangkan resiko dan efeknya begitu besar, mengapa kita harus melakukannya?

(Tiga foto dalam tulisan ini kesemuanya diambil dalam rentang waktu singkat, kurang dari 10 menit di Jalan Soleh Iskandar Bogor dekat Halte Cimanggu I, Bukit Cimanggu City. Sebuah area yang dikenal sebagai tempat dimana berkendara melawan arus sudah dianggap biasa dan normal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.