Pro dan Kontra itu sudah biasa. Dalam segala hal selalu ada pendukung dan penentang, pro dan kontra. Begitu juga ketika pelebaran trotoar atau jalur pedestrian di seputar Kebun Raya dan Istana Bogor diwacanakan dan dilaksanakan.

Banyak orang mengeluh, bahkan sebelum pembangunan dimulai bahwa ide ini adalah ide yang tidak masuk akal.

Di sebuah kota yang terkenal dengan kemacetannya, mengambil badan jalan dan merubahnya menjadi area pejalan kaki dianggap ide konyol. Sebuah ide yang dianggap bertentangan dengan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu memperlebar jalan bagi kendaraan bermotor dan bukan menguranginya untuk pejalan kaki dan pesepeda.

trotoar di seputar kebun raya bogor

Tetapi, rasanya semakin sering melintasi trotoar di seputar Kebun Raya Bogor, ide pelebaran trotoar dan jalur pedestrian itu semakin lama semakin terasa masuk di akal.

Kemacetan di jalan memang tetap terjadi. Paling tidak itu yang terlihat ketika berjalan kaki menyusuri trotoar yang sudah diperlebar itu. Antrian kendaraan bermotor memang terlihat mengular.

Mau tidak mau dengan pertumbuhan jumlah kendaraan di Kota Hujan yang melebihi pertumbuhan jalan rayanya, hal itu pasti tidak terelakkan. Dengan lebar jalan yang belum diambil untuk pelebaran trotoar saja, pemandangan kendaraan yang tersendat adalah hal biasa, apalagi setelah dikurangi.

Meskipun demikian, pemecahannya sebenarnya juga terlihat dan sudah disediakan.

trotoar di seputar kebun raya bogor 4

Apa pemecahannya? BERJALAN KAKI.

Melebarkan jalan tidak akan membantu banyak mengatasi kemacetan. Setiap tahun jumlah kendaraan akan bertambah 4% di Kota Bogor dan tidak akan pernah bisa diimbangi dengan penambahan panjang atau lebar jalan mengingat lahan di kota ini sudah sangat terbatas.

Jadi, sangat tidak mungkin usaha itu bisa berhasil. Tidak akan pernah mungkin. Panjang jalan tidak akan bisa mengejar pertambahan jumlah kendaraan.

Satu-satunya cara yang mungkin adalah dengan mengubah kebiasaan berlalu lintas yang sudah ada. Caranya dengan mengganti mobil dan sepeda motor atau angkot dengan sepeda dan berjalan kaki.

Dengan begitu, maka jumlah kendaraan yang berlalu lalang akan bisa dikurangi secara drastis. Jika semua warga Bogor terbiasa berjalan kaki sesering mungkin dan menyimpan kendaraan mereka di rumah saja, hal itu tentunya akan berpengaruh positif terhadap lalu lintas yang ada.

pelebaran trotoar di seputar kebun raya bogor

Masalahnya, pejalan kaki, di Bogor, dan juga banyak kota lainnya adalah kasta paria, alias yang terendah dari pengguna jalan. Bahkan, trotoar, yang merupakan hak mereka pun kerap dirampas oleh para pesepeda motor dan juga pedagang kaki lima.

Pejalan kaki “dianggap” memiliki hak yang lebih rendah dibandingkan mereka yang bermobil atau bermotor. Oleh karena itu hak mereka kerap diabaikan.

Pelebaran trotoar dan jalur pedestrian serta pesepeda di seputar Kebun Raya dan Istana Bogor seperti membalikkan keadaan dan pemikiran itu. Mereka seperti mendapatkan haknya kembali.

Para pejalan kaki bisa dengan tenang dan nyaman berlenggang kangkung sementara mereka yang bermobil dan bermotor harus rela mengantri untuk bisa melewati jalan yang ada.

Menyebalkan tentunya bagi mereka melihat keriangan para pedestrian (pejalan kaki) dan pesepeda dengan nyaman dan santai melewati trotoar yang sangat lebar. Iri, bisa jadi.

Belum ditambah dengan pemandangan indah Kebun Raya Bogor yang bisa dinikmati sambil berjalan dan juga udara segar padat oksigen dari pepohonan yang ada di Kebun Botani tersebut. Tentunya akan membuat nyaman para pengguna trotoar.

Mau berselfie atau ber-wefie juga bebas. Tempatnya sangat indah untuk melakukan itu. Jalur pedestrian ini bahkan sudah menjadi salah satu lokasi favorit baru untuk berfoto ria, bukan hanya untuk wisatawan tetapi juga untuk warga Bogor.

Enak dan nyaman.

Penambahan lebar jalur trotoar disini akan terasa menyebalkan bagi para pengendara mobil atau motor. Pastinya. Tetapi, tentu akan membuat bahagia para pejalan kaki.

Mungkin itulah ide di belakang pelebaran trotoar dan jalur pedestrian di seputar Kebun Raya dan Istana Bogor ini. Untuk menunjukkan dan mengingatkan satu hal kepada semua orang tentang menyenangkannya menjadi pejalan kaki.

Sesuatu yang mungkin akan membuat masyarakat kembali menyukai dan membiasakan berjalan kaki dibandingkan dengan berkendara. Sesuatu yang sudah banyak dilakukan oleh masyarakat di banyak negara maju yang tidak akan mengeluarkan kendaraan bermotor mereka kalau tidak terpaksa. Sesuatu yang pada akhirnya bisa membangkitkan kebiasaan berjalan kaki, menggunakan angkutan umum dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi.

Sesuatu yang mungkin akan memikat para wisatawan untuk juga membiasakan diri melakukan wisata berjalan kaki.

Sebuah langkah kecil yang mungkin akan berbuah pada kesadaran masyarakat Bogor bahwa berjalan kaki itu akan lebih banyak membawa kebaikan pada kota ini.

Karena itulah, sepertinya ide pelebaran trotoar di seputar Kebun Raya Bogor mulai semakin lama semakin masuk di akal untuk mengatasi kemacetan di kota ini.

Mudah-mudahan bisa dilanjutkan dengan pelebaran trotoar dan jalur pedestrian di berbagai tempat lainnya.

4 COMMENTS

  1. Mari bersama-sama kita kurangi pemakaian kendaraan pribadi jika tidak mendesak

    • Iya.. untung saya pengguna setia Commuter Line.. heheheheh

  2. bagus….tuch pak ..jadi membuat tubuh menjadi sehat dan polusi kendaraan menjadi berkurang sehingga…..udara disana semakin sejuk dan nyaman….tapi ada pedagang cendol ngk pak disana….? 🙂

    • Begitulah kira-kira… supaya sehat dan polusi berkurang (mengkhayal.com).. hahaha.. kayaknya kalau yang di sekitar KRB agak ditertiblkan jadi pedagang kaki lima tidak ada yang berdagang

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.