Ajarkan Anak Menjaga Fasilitas UmumMemang judul ini klise. Sangat klise bahkan. Sudah sejak masa saya sekolah dulu, guru-guru selalu mengajak orangtua untuk mengajarkan anak menjaga fasilitas umum.

Bukan lah sesuatu yang baru.

Sayangnya, dalam keseharian ternyata hal tersebut terlihat sekali masih belum diterapkan dan dilakukan.

Sebuah contoh sederhana hadir (dan sudah sering terlihat) di depan mata. Salah satunya terjadi beberapa hari yang lalu dalam perjalanan pulang dengan Commuter Line jurusan Bogor.

Cerita singkatnya, seorang ibu dengan dua orang anak kecil berusia antara 3-5 tahun (dugaan saya), naik dari stasiun Lenteng Agung. Beberapa penumpang dengan serta merta berdiri dan mempersilakan sang ibu beserta kedua bocah cilik tersebut duduk.

Sebuah hal yang patut diapresiasi.

Nah, dalam perjalanan, namanya bocah, keduanya tidak mau diam, berceloteh sepanjang perjalanan. Tidak lama keduanya pun berdiri di atas kursi penumpang. Bergerak hilir mudik di atas kursi penumpang sambil memandang keluar jendela.

Sebuah hal yang sebenarnya tidak aneh. Apalagi di masa liburan sekolah seperti saat ini. Banyak orangtua membawa anak-anaknya pergi untuk berbelanja ataupun berlibur. Hal yang lumrah.

Para penumpang rutin pun sebenarnya sudah terbiasa dengan hal itu. Tidak ada yang mempermasalahkan tingkah polah para bocah untuk berkeliaran, hilir mudik, kadang berteriak tak henti. Mereka menyadari bahwa tidak seperti mereka yang setiap hari naik kereta, para bocah tersebut seperti mendapatkan pengalaman baru dan sangat menikmatinya.

Lalu masalahnya dimana?

Ternyata, banyak orangtua yang tidak mempedulikan satu hal. Anak-anak tersebut dibiarkan menaiki dan berdiri di kursi penumpang dengan menggunakan alas kaki atau sepatu mereka.

Nah, disitulah letak masalahnya.

Sepatu adalah sesuatu yang dipergunakan untuk melindungi kaki, dari kotoran dan sebagainya. Sudah pasti sang ibu dan para bocah tersebut sudah melewati jalanan yang penuh dengan debu, kotoran atau becek. Bisa bayangkan bagaimana kondisi bagian bawah sepatu sang anak?

Ketika mereka naik ke atas kursi penumpang, kotoran-kotoran di sepatu mereka tentu saja akan berpindah ke alas kursi. Hasilnya, kursi-kursi tersebut menjadi kotor.

Apa efeknya?

Pernahkah kita berpikir seperti ini :

  • Kursi menjadi kotor. Kalau sepatunya sangat kotor, otomatis kursinya akan semakin kotor pula
  • Petugas akan repot membersihkannya
  • Penumpang lain, pakaiannya bisa terkena kotoran yang berasal dari sepatu sang anak
  • Kursi pun bisa menjadi cepat rusak karena tidak disiapkan untuk diinjak-injak

Sementara sang ibu dengan santainya tetap bertelpon ria.

Dalam kasus ini terlihat bahwa sang ibu tidak peduli ketika anaknya (secara tidak sengaja) mengganggu fasilitas umum. Ia sepertinya tidak merasa bahwa pandangan beberapa penumpang kereta memandang dengan sebal kepada anaknya.

Dari sini terlihat bahwa sang ibu lalai mengajarkan sang anak menjaga fasilitas umum. Si ibu juga bisa dikata membiarkan anaknya berbuat tidak sopan. Bisa bayangkan kalau anak Anda naik-naik ke atas kursi, tetntunya Anda akan menegurnya karena itu adalah perbuatan yang tidak sopan. Kursi adalah untuk diduduki dan bukan untuk diinjak-injak.

Hal ini belum termasuk beberapa cerita lain yang pernah saya lihat selama di commuter line, seperti

  • Pipis di sambungan gerbong. Karena kebelet dan sang ibu tidak mau rugi waktu, sang anak diajarkan untuk buang air kecil di antara sambungan kereta
  • Anak-anak makan dalam kereta sudah bukan hal aneh. Mereka akan dimaklumi. Tetapi, biasanya mereka akan membuang pembungkus seenaknya. Kadang juga memuntahkan makanan yang dirasanya tidak enak ke lantai kereta.
  • Bergelantungan di pegangan tangan
  • Menendang-nendang ketika duduk dan mengganggu penumpang lain

Sudah selayaknya para orangtua juga ikut membantu dengan mengajarkan bagaimana seharusnya menjaga fasilitas umum, seperti Commuter Line itu. Hal itu akan membantu sang anak untuk memahami bagaimana mereka harus bertindak ketika dewasa.

Bukan kah sebenanrya tidak sulit untuk meminta sang anak melepas alas kakinya sebelum naik ke atas kursi? Bukankah tidak sulit melarang anaknya membuang apapun ke atas lantai kereta?

Tidak sulit kok. Hanya butuh kemauan dan kepedulian sedikit.

(Baca juga : Vandalisme di Bogor)

Itulah sedikit cerita dari saya, sang an-ker, atau anak kereta tentang sebuah cerita kecil. Cerita kecil tentang betapa pentingnya mengajarkan anak menjaga fasilitas umum.

Jadi, Kawan Pembaca yang budiman. Mari kita ajarkan anak menjaga fasilitas umum dimanapun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.