Oewa (Uwa) Lengser - Siapa sih sebenarnya dia A

Yang jelas sama. Nama Abah lengser, Ki Lengser, Oewa Lengser, kesemuanya merujuk pada satu sosok laki-laki tua berbaju kampret (baju hitam ala Sunda), celana pangsi, dan mengenakan totopong (penutup/ikat kepala khas Sunda) dan membawa tas anyaman yang diselendangkan ke belakang.

Sosok ini biasa ditemukan dalam tradisi mapag panganten yang hingga sekarang masih sering digunakan oleh masyarakat Sunda di Bogor.

Figur yang satu ini memang merupakan salah satu daya tarik bagi para tamu undangan, selain tentunya pasangan pengantinnya. Hal itu disebabkan karena gerak-gerik mereka jenaka dan mengundang tawa, atau setidaknya senyum dari mereka yang berkerumun.

Di Bogor sendiri, tokoh ini dikenal lebih dengan sebutan Ki Lengser, atau bahkan “Lengser” saja. Jarang sekali istilah abah atau oewa (uwa) melekat kepadanya. Tetapi, pada dasarnya semuanya sama karena akarnya berasal dari budaya dan tradisi masyarakat Sunda di Jawa Barat.

Anda seperti apa Ki Lengser itu? Silakan lihat di bawah ini.

Ki Lengser - Siapa Sih Dia A

Itulah Aki,, Abah, Oewa, Ki Lengser. Istilah yang manapun yang dipakai semua merujuk pada figur yang sama.

Siapa sih sebenarnya Ki Lengser itu?

Dalam kehidupan nyata, Ki Lengser bisa siapa saja. Orang di belakang kumis dan rambut putih, baju kampret, dan kepala tertutup totopong itu bisa siapa saja. Selama ia bisa membawakan tarian khusus Lengser, ia bisa menjadi figur ini.

Memang kebanyakan yang memerankan tokoh ini adalah pria dewasa, meski tidak jarang juga anak muda. Kumis dan rambut putih adalah riasan dan bukan asli.

Tetapi, figur apakah yang ditampilkan olehnya?

Dan, tidak ada jawaban yang benar-benar pasti.

Figur “lengser” sendiri bisa dikata merupakan wujud “nyata” dari apa yang tertulis dalam berbagai karya klasik di Pasundan (Tanah Sunda). Jadi, sangat besar kemungkinannya merupakan tokoh imajiner, meski tidak tertutup juga kemungkinan keberadaannya dalam kehidupan Kerajaan Sunda di masa lalu, memang benar-benar terjadi.

Interpretasi dari siapa sebenarnya Abah Lengser ini beragam. Dari satu daerah ke daerah lain, penjelasan asal usul, peran, dan identitas figur ini bisa berbeda. Sebuah hal yang sangat bisa dimaklum mengingat perkembangan kebudayaan dan tradisi yang kerap menyesuaikan dengan kondisi dan lingkungan setempat.

Ada beberapa penjelasan tentang siapa si Lengser ini .

  • Dia merupakan utusan/perwakilan dari Sang Prabu (merujuk pada Raja Kerajaan Sunda, Pakuan Pajajaran – Prabu Siliwangi) untuk menemui rakyatnya
  • Dia adalah seorang penasehat yang memberikan masukan dan pandangan kepada Raja untuk dipertimbangkan dalam mengambil keputusan
  • Dia memiliki kedudukan tinggi karena posisinya berada di atas Patih dan hanya kedudukannya hanya di bawah Raja
  • Dia adalah rakyat biasa yang memiliki kepandaian dan kebijaksanaan

Kalau melihat beberapa “ciri” yang melekat pada Oewa Lengser, maka akan terlihat adanya kesamaan dengan penggambaran “Semar” dalam kesusasteraan Jawa, yaitu tokoh punakawan bapaknya Petruk, Bagong, dan Gareng.

Semar digambarkan selalu sebagai tokoh yang bijaksana, pandai, dan punya kekuatan maha luar biasa berupa “kentut” yang dahsyat. Sifat yang sama digambarkan oleh Ki Lengser (kecuali kentutnya). Lagipula, tokoh semar sendiri di tanah Sunda sebenarnya masih kalah tenar dengan figur anaknya, si Bagong alias si Cepot.

Jadi, tidak salah kalau Lengser sendiri dianggap sebagai “Semar” versi Sunda, meski pasti akan ada yang menolak pemikiran seperti ini karena kalau begitu trio punakawan, Bagong, Petruk, Gareng tidak punya bapak.

Ki Lengser di Bogor Masa Kini

Jarang. Anda akan jarang menemukannya. Kecuali, ada yang sedang hajatan dan punya uang untuk menyewa jasa “Ki lengser”.

Penampilan Lengser di masa sekarang hanya akan ditemukan saat ada acara khusus, terutama resepsi perkawinan atau menyambut tamu VIP.

Ki Lengser biasanya akan ditemani oleh satu tim yang terdiri dari Pembawa Payung dan dayang-dayang. Meski di beberapa daerah terkadang hadir sosok lain, istrinya, Nini Lengser, tokoh ini jarang ditemukan di Bogor.

(Mungkin sekali, di Kota Hujan, Lengsernya adalah seorang duda atau bujangan tanpa istri)

Yang biasa seorang lengser lakukan dalam sebuah acara, misalkan pernikahan adalah menyambut pengantin atau pasangan pengantin dan kemudian mendampingi mereka menuju ke pelaminan, atau tempat akad nikah. Yang manapun akan sesuai pesanan.

Tentu saja, kalau hanya sekedar mendampingi, ia tidak akan pernah jadi daya tarik. Satu keunikan yang dilakukan saat lengser beraksi adalah ia melakukan “tarian” khusus lengser.

Biasa dimulai dengan langkah terbungkuk (ada juga yang diiringi dengan backsound atau suara latar dalam bahasa Sunda), ia akan mendatangi pasangan pengantin atau tamu. Dalam perjalanan, yang mungkin hanya beberapa meter saja, ia akan melakukan “tarian” khusus Lengser.

Tidak gemulai. Bahkan, tidak sedikit yang menduga tarian lengser mengambil sebagian dari pencak silat. Tapi, ada juga yang memandangnya bahwa ada pengaruh jaipongan di dalamnya. Yang jelas tidak lembut.

Nah, dalam tarian itulah tidak jarang banyak pemeran lengser akan memasukkan gerakan-gerakan unik dan lucu, yang tidak jarang mengundang tawa dari yang hadir. Hal itu mulai dari melenggak lenggok ala semar kala berjalan (satu hal lagi yang menjadikan keduanya mirip), atau melakukan tarian ala pencak silat.

Ia pun kemudian akan melakukan gerakan-gerakan bak bawahan yang mempersilakan rajanya untuk menuju singgasana. Dan, selama tamu atau pengantin bergerak ke pelaminan, Lengser akan mendampingi sambil tetap melakukan gerakan-gerakan tariannya.

Yang manapun, semua mungkin akan membuat yang melihat lupa, bahwa Abah Lengser itu adalah seorang yang sudah sepuh dan bungkuk. Tetapi, kadang hal itu tidak terlihat saat melakukan gerakan-gerakan tarianya. Mungkin pemerannya lupa dia berperan sebagai orangtua bungkuk.

Ki Lengser Yang Terlalu Muda di Acara Perpisahan Bogor Center School

Tapi, siapapun sebenarnya Ki Lengser dan apa yang ia simbolkan, masyarakat Bogor, terutama yang berasal dari suku Sunda, sangat menyukai kehadirannya. Mereka menganggapnya sebagai representasi seni budaya Sunda di Bogor.

Dan, saya pun begitu. Walau saya bukan seratus persen berdarah Sunda (50-50), tetapi sebagai orang Bogor, kehadiran sang Lengser selalu memberikan sesuatu yang menarik untuk dilihat. Padahal, entah sudah berapa puluh kali saya melihatnya, tetap saja, kalau ada acara pernikahan, bagian penyambutan oleh Lengser ini selalu menjadi perhatian saya.

Mudah-mudahan saja, semua warga Bogor diberi rejeki yang banyak sehingga saat mereka menikah atau mengadakan acara apapun nanti, mereka tetap meminta ada Lengser dalam prosesinya. Karena hanya dengan cara ini kehadiran Lengser bisa dipertahankan.

Bagaimanapun, para pemeran Ki, Abah, Oewa Lengser butuh bayaran untuk menafkahi diri dan keluarganya.

Tanpa itu, seperti banyak seni budaya lokal lainnya, Lengser bisa menghilang dari Bogor, yang notabene merupakan salah satu wilayah Pasundan. Tentunya, kalau itu terjadi, maka berarti hilang juga satu budaya warisan nenek moyang.

Semoga tidak terjadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.