Pemukiman Padat PendudukSeberapa padat kah Kota Bogor? Menggambarkannya hanya dalam angka-angka sepertinya akan sulit. Imajinasi setiap manusia berbeda-beda, sehingga kadang angka yang sama bisa menimbulkan gambaran yang berbeda.

Angka seribu, bila tidak diberikan angka perbandingannya memang akan menimbulkan tafsiran berbeda dalam benak orang yang berbeda. Bisa kata “padat” yang timbul, tetapi tidak jarang juga kata “masih longgar” yang muncul.

Saya pikir, dengan memberikan ilustrasi berupa foto beberapa pemukiman padat penduduk di kota ini, akan memberikan sebuah gambaran yang lebih riil tentang betapa penuhnya kota ini.

Silakan lihat di bawah ini

Pemukiman Penduduk Di Bogor

Ini adalah pemandangan perumahan penduduk di belakang Terminal Baranangsiang. Apa yang dilihat ini bisa disaksikan, kalau Anda berdiri di Jalan Bangka/Riau.

Bagaimana ? Padat?

Masih belum yakin? Kalau begitu lanjutkan dengan foto yang berikut ini.

Pemukiman Padat Penduduk Di Warung Jambu Bogor

Tentu , semua ini tidak akan terlihat kalau Anda hanya berkendara di sepanjang Jalan Pajajaran dan Ahmad Yani. Hal seperti ini akan tertutup oleh kehadiran ruko dan perkantoran di kedua jalan tersebut.

Pemandangan ini baru akan terlihat kalau Anda rela turun dan berjalan kaki atau menuju ke tempat yang lebih tinggi, seperti yang saya lakukan.

Belum cukup? Tak apa. Masih ada cukup banyak stok foto yang mendukung teori bahwa Kota Bogor sudah sangat padat.

Kita lanjutkan dengan yang di bawah ini.

Pemukiman Pada

Yang satu ini adalah pemukiman padat di wilayah Empang. Foto diambil dari jembatan yang menghubungkan antara Jalan Bondongan dengan kawasan Empang.

Benar-benar terlihat hampir tidak ada pepohonan, yang tentunya harus dimaklumi karena jelas lahannya sudah dipakai untuk bangunan tinggal.

Padat? Saya percaya sampai disini, Anda sudah percaya bahwa Kota Bogor itu sudah terlalu padat.

Nah, setelah itu barulah saya sampaikan sebuah fakta kecil. Fakta yang menunjukkan betapa penuhnya kotanya Roti Unyil Venus ini.

Kota Bogor (tidak termasuk Kabupaten Bogor) hanya memiliki luas 118 kilometer persegi saja. Angka ini sama dengan kurang lebih 11.800 hektar.

Kemudian bandingkan dengan jumlah penduduk di Bogor yang saat ini sudah menembus angka 1.000.000 orang.

Kalau diambil cara berhitung sederhana, maka untuk setiap hektarnya (10.000 meter persegi), akan ada kurang lebih 900 orang di dalamnya. Kalau dipersempit lagi, maka setiap orang “kebagian” atau mendapatkan 10 meter saja.

Pemukiman Padat Penduduk Di Kali Cisadane BogorItu dengan syarat tidak ada perkantoran, toko, jalan dan lain sebagainya. Padahal, kenyataannya area yang tersedia juga harus dipakai untuk berbagai fasilitas umum, perekonomian dan lain sebagainya.

Jadi berapa yang tersisa untuk penduduk? Silakan bayangkan sendiri.

 

Mengapa ini saya sampaikan seperti ini? Karena, saya berharap bahwa ada paling tidak rencana dari pemerintah untuk mengembangkan rumah susun di Kota Bogor.

Bukan. Bukan untuk saya, karena saya sudah memiliki sebuah rumah sendiri.

Ide ini berkaitan dengan semakin merambahnya pemukiman-pemukiman liar, maupun resmi yang tidak lagi mengindahkan aspek lingkungan.

Penyempitan Sungai Cipakancilan
Bangunan di tengah Sungai Cipakancilan

Pinggiran sungai menjadi area yang paling sering dirambah dan dijadikan tempat mendirikan bangunan. Alhasil, sungai menyempit. Mengecil. Sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah lain yang akan berdampak lebih besar lagi, berupa banjir dan tanah longsor.

Belum lagi kalau dipertimbangkan pencemaran sungai yang akan semakin memburuk dengan tingkah laku para pemukim pinggir sungai.

Kesemua ini bukan lagi hanya sekedar “gambaran” atau pandangan, karena sudah berulangkali kejadian bencana terkait dengan pemukiman padat penduduk terjadi.

Masih akan ada banyak dampak negatif lain yang bisa disebutkan oleh anak SD atau SMP.

Sesuatu yang tentunya harus segera dihindarkan agar jangan sampai menjadi bom waktu di masa yang akan datang.

Memang, akan berat dan sulit. Pembangunan rumah susun akan membutuhkan biaya yang besar. Sangat sulit pula untuk merubah mindset orang Indonesia, termasuk orang Bogor untuk bisa tinggal di hunian vertikal.

Sulit. Sangat sulit. Para pemimpin di Jakarta merasakan itu. Begitu pula di Bogor, rusun di kawasan Cilendek pun ditanggapi dingin saja.

Tetapi, rasanya dalam hal ini Kota Bogor harus berani meniru Jakarta dalam hal “membiasakan” sesuatu kepada warganya. Sayang, bukan berarti hanya dengan menuruti apa yang dimaui warganya saja.

Terbukti, sikap berani dan tegas yang diambil justru memberikan dampak positif. Meskipun masih banyak nada miring tentang rumah susun, sudah semakin besar jumlah yang menerima dan menikmati hasil dari keberanian pemerintah di Jakarta.

Pemukiman Padat Penduduk di Pinggir Kali

Tentu, sesuatu yang baik haruslah ditiru. Rumah susun tidaklah buruk dibandingkan tinggal di pinggiran sungai tanpa fasilitas umum yang memadai.

Atau, haruskah menunggu sebuah bencana lagi untuk menyadari bahwa kota ini sudah sangat membutuhkan rumah susun?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.